Subscribe to Vivaborneo.com  Informatif, Santun, Tak TerbatasNews FeedSubscribe to Vivaborneo.com  Informatif, Santun, Tak TerbatasComments

ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Jadi Rujukan di Indonesia Timur, RS Mata Kaltim Gandeng Semesta Academy

November 26, 2021 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA – Sejak diterbitkannya SK Gubernur Nomor 74 Tahun 2019 tentang Pembentukan Rumah Sakit (RS) Mata Provinsi Kalimantan Timur, status Balai Kesehatan Mata dan Olahraga Masyarakat (BKMOM) sudah dapat ditingkatkan menjadi Rumah Sakit Mata Provinsi Kaltim pada 31 Desember 2019. Kini RS Mata Kalimantan Timur terus berupaya meningkatkan pelayanannya. Upaya tersebut ditunjukkan dengan digelarnya sesi pelatihan selama dua hari oleh manajemen RS Mata Kaltim bekerja sama dengan Semesta Academy.

Pelatihan dengan tema delivering service excellent and handling customer’s complaint ini diikuti oleh seluruh manajemen, karyawan, tenaga medis dan tenaga kesehatan.

“Mulai 2020 sudah menjadi Rumah Sakit Mata. Jadi kegiatan ini untuk menyatukan persepsi bersama. Menghadapi tahun 2022, saya berharap ada semangat baru, kekompakan baru,” ungkap Direktur Rumah Sakit Mata Kalimantan Timur drg. Shanty Sintessa Wulaningrum, M. Kes saat membuka sesi pelatihan di Hotel Selyca Samarinda, Jumat (26/11/2021).

Pada 24 September 2021, Gubernur Kaltim Isran Noor melakukan peletakan batu pertama pembangunan RS Mata Kaltim di Jalan M Yamin, Gunung Kelua, Samarinda. Sehingga menurut Shanty, kemampuan sumber daya manusia yang berjumlah sekira 112 orang itu dapat lebih optimum saat memberikan pelayanan di gedung baru yang berlantai enam nantinya.

“untuk penggalangan komitmen, karena organisasi kita baru dua tahun. Saat kita pindah ke M Yamin dari Basuki Rahmat nanti sudah siap semua. Karena konsep balai jadi rumah sakit kan agak berbeda ya,” kata Shanty melanjutkan.

Guna mewujudkan semua itu, maka pelatihan service excellent (layanan prima) bersama Semesta Academy, yakni lembaga edukasi untuk peningkatan soft skil dan omni learning dengan menghadirkan pakar pelatih dari Semesta Academy, I Made Kertayasa dan Endro S. Efendi tersebut patut digelar.

“Semesta Academy ini pihak ketiga. Kita perlu pihak ketiga untuk menilai agar lebih obyektif, agar kita maju, dan bagaimana agar mereka (peserta pelatihan) total dalam mengeksplor kemampuan dan dedikasinya. Juga agar hal-hal negatif tidak terjadi saat bekerja,” kata Shanty menjelaskan.

Sebagai BLUD, layanan prima RS Mata Kaltim patut ditingkatkan. Karena menurut Shanty, saat ini rumah sakitnya menjadi sentral rujukan rumah sakit di wilayah Indonesia Timur. Sebab, di rumah sakit ini dilengkapi fasilitas operasi LASIK (laser-assisted in-situ keratomileusis) untuk menangani beberapa gangguan penglihatan, termasuk rabun jauh (miopia), rabun dekat (hiperopia), dan astigmatisme.

“Kami berharap rumah sakit ini membanggakan Kaltim. Rumah sakit di wilayah timur yang satu-satunya punya lasik, agar biaya lebih murah. Menjadi rumah sakit rujukan satu-satunya untuk wilayah timur Indonesia, jadi andalan Kalimantan Timur,” ungkap Shanty memaparkan.

Meski begitu, ia berharap kemampuan SDM di rumah sakit tipe C itu dapat terus tumbuh dalam hal pelayanan juga fasilitasnya.

“Target kita meningkatnya akreditasi dan memiliki lasik terkini atau terbaru. Itikad baik dari pemerintah sudah ada. Bahkan untuk lasik direncankan 2023,” kata Shanty memungkasi.

Pelatihan tersebut juga diikuti oleh dokter senior spesialis mata di Kaltim, dr. Reinhard Arie Umboh. (*/edr)

Kemenkes RI dan SPEAKS Indonesia Gelar Diskusi Membudayakan GERMAS melalui Pemberitaan Media

November 26, 2021 by  
Filed under Kesehatan

Triyono Lukmantoro – Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro

Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan SPEAK Indonesia dan Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) menggelar acara yang bertema Membudayakan GERMAS Melalui Pemberitaan Media pada Senin (22/11/2021) secara daring melalui aplikasi Zoom meeting.

Diskusi ini bertujuan untuk mensosialisasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat  atau GERMAS dengan harapan dapat memasyarakatkan budaya hidup sehat serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. Aksi GERMAS ini juga diikuti dengan memasyarakatkan perilaku hidup bersih sehat dan dukungan untuk program infrastruktur dengan basis masyarakat.

Menghadirkan narasumber Triyono Lukmantoro – Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, Ketua Umum AKKOPSI DR. H. Syarif Fasha, ME yang juga Walikota Jambi, Mochamad Abdul Hakam – Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Budiono Subambang – Direktur SUPD III Ditjend Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Wiwit Heris – Direktur SPEAK Indonesia dan Wagimin – Pegiat GERMAS yang juga Kades Pranggong Kabupaten Boyolali dan dipandu moderator Stefy Thenu – Ketua JMSI Jateng.

Triyono Lukmantoro – Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro mengatakan program GERMAS adalah program yang sangat penting dan sangat bermanfaat dan  sangat diperlukan. Melalui Germas, maka akan memasyarakatkan budaya hidup sehat, meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat dan dukungan program infrastruktur dengan basis masyarakat.

Media massa merupakan perangkat-perangkat komunikasi, baik cetak maupun elektronik, yang menyampaikan pesan-pesan kepada khalayak.

Media dapat menjadi agen sosialisasi dengan mendorong kohesi sosial dengan menampilkan budaya bersama yang telah terstandarisasi.

Dalam konteks pembangunan kolaboratif, media massa juga menjadi salah satu unsur penting. Dukungan media tidak saja memberitakan keberhasilan pembangunan, namun juga memberikan masukan dan kritik. Kritik media menjadi penyeimbang dari kebijakan pemerintah yang dijalankan.

Penegak norma-norma sosial dengan menegaskan kembali perilaku yang pantas dengan menunjukkan tindakan-tindakan masyarakat yang melanggar harapan-harapan sosial.

Jika ada perilaku yang kurang pantas dengan norma-norma sosial , Jika dihubungkan dengan GERMAS, misalnya ada berita seorang guru yang merokok di lingkungan sekolah, sebenarnya tidak boleh dilakukan seorang guru.

“Media menjadi kotrol norma-norma sosial di tengah masyarakat,” ujar Triyono.

Dalam diskusi ini, Ketua Umum Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) DR. H. Syarif Fasha, ME menjelaskan AKKOPSI lahir di Jambi setelah deklarasi Jambi tahun 2009, berbagai  isu strategis di advokasikan kepada seluruh kepala daerah terutama saat pandemi Covid=19.

Beberapa isu seperti pembangunan air minum, sanitasi, perumahan dan pemukiman, kawasan kumuh dan isu strategis perkotaan lainnya termasuk Gerakan Masyarakat Hidup Sehat  atau GERMAS terus digalakkan.

Dimasa pandemi Covid-19 ini peran GERMAS  sangat penting dan relevan dalam menekan penyebaran Covid-19, meski demikian penerapan program GERMAS tentunya memerlukan komitem yang lebih kuat dari kepala daerah termasuk pelibatan partisipasi masyarakat dalam membudayakan GERMAS.

“Beberapa daerah ada yang berhasil menerapkan kebijakan program GERMAS dengan strategi dan kebijakan dengan menyesuaikan dengan karakteristik dan budaya lokal dan kebutuhan masyarakatnya, ini dapat menjadi pertukaran pengalaman keberhasilan suatu daerah,” ujar Syarif.

Sementara itu,  Wiwit Heris – Direktur SPEAK Indonesia, yang menyampaikan bahwa semangat GERMAS perlu terus digalakkan, karena hidup sehat adalah harapan seluruh rakyat Indonesia.

Wiwit Heris – Direktur SPEAK Indonesia

Dia mengatakan SPEAK Indonesia telah bekerjasama dengan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI dan Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) untuk ikut serta dan terlibat dalam gerakan GERMAS.

“Keterlibatan kepala daerah dalam program GERMAS sangat penting, termasuk di masa pandemi, beberapa kebijakan kepala daerah dan didukung masyarakat telah membuat pandemi menurun, termasuk kebijakan pembangunan lingkungan yang sehat seperti sanitasi yang sehat,” ujar Wiwit.

Proses pembudayaan GERMAS menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan agar mampu mempercepat dan mensinergikan upaya promotif dan preventif  hidup sehat, sehingga masyarakat mampu lebih produktif dan beban pembiayaan pelayanan kesehatan akibat penyakit yang diderita dapat menurun.

Berdasarkan hasil evaluasi Pemerintah Pusat, masih banyak kabupaten/kota di Indonesia yang belum melaksanakan GERMAS. Sebab berdasarkan catatan, sampai kini masih ada 3 provinsi belum menerbitkan regulasi GERMAS. Pada tahun 2020, sebanyak 33%  kabupaten/kota telah melaksanakan Implementasi GERMAS dengan target 30% untuk tahun 2020. Namun, pencapaian tahun 2021 sampai saat ini masih 8% dengan target 48%.

Dengan adanya diskusi Membudayakan GERMAS Melalui Pemberitaan Media ini, diharapkan mampu membawa pengaruh baik kepada masyarakat,  sehingga terwujudnya masyarakat yang sehat dapat segera tercapai. (hel)

 

Demi PTM, Udin Kecil Melawan Phobia Jarum Suntik

November 23, 2021 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA – Cuaca pagi Kota Samarinda saat itu cukup cerah berawan, angin sepoi-sepoi menerpa wajah Udin kecil yang berjualan keliling kue ‘Untuk-Untuk’- kue tradisional khas Kota Samarinda. Pandangannya sejurus melihat bangunan sekolahnya di jalan Aminah Syukur Samarinda yang masih sepi dan diliburkan akibat pandemi Covid-19 melanda lebih dari 1 tahun lalu.

Udin kecil begitulah julukan Syarifudin, karena memang masih kecil berusia 12 tahun dan duduk di bangku SMP kelas 1. Semilir angin dibawah pohon Ketapang membawa Udin mengenang saat-saat bahagia sekolah, bertemu guru dan teman sebaya nya. Bermain di saat jam istirahat, sungguh sebuah aktivitas anak-anak sekolah yang kini tidak bisa ia nikmati kembali.

“Saya sudah kepingin kembali bersekolah dan bermain bersama teman-teman, tapi saya belum di vaksin, jadi belum bisa turun sekolah,” ujar Udin memulai percakapan dengan vivaborneo.com, akhir Oktober lalu.

Ia pun menuturkan bahwa sebenarnya dari  pihak sekolah sudah menganjurkan anak usia 12 tahun keatas untuk ikut pelaksanaan vaksinasi baik dari puskesmas setempat maupun vaksinasi massal yang digelar sekolah.

Dia menyadari akan pentingnya vaksinasi anti virus covid-19 demi kesehatan diri dan orang-orang disekitarnya, agar tidak mudah tertular virus yang mematikan ini.

Namun bagi Udin kecil rasa takut akan jarum suntik selalu menghantuinya. Saat jenjang pendidikan Sekolah Dasar, Ia  pernah merasakan sakit yang tak terkira akibat jarum suntik vaksinasi di sekolah, yang mengakibatkan kini ia menderita phobia ketika melihat dan membayangkan jarum suntik menusuk tubuhnya.

Namun kini, keinginan kuat untuk kembali bersekolah dengan metode Pembelajaran Tatap Muka (PTM), bertemu guru dan teman sebaya nya mampu mengalahkan rasa takut  melihat dan membayangkan jarum suntik. Pelan namun pasti, phobia itu akan bisa ia diatasi.

Selasa (9/11/2021) Udin pun memberanikan diri mengikuti vaksinasi massal di Gedung Olah Raga (GOR) Segiri Jalan Kusuma Bangsa Samarinda. Udin kembali membayangkan gambaran dirinya ditusuk jarum suntik. Ia pun kembali dilanda rasa takut.

Namun berkat dorongan semangat dari teman-temannya yang terlebih dahulu divaksin, Udin kembali menemukan keberaniannya. Dia pun berdiri dari kursinya dan maju ke meja pemeriksaan kesehatan awal oleh tim kesehatan Puskesmas Dinas Kesehatan Kota Samarinda,  selang beberapa menit Udin pun diarahkan menuju meja vaksinator untuk divaksin.

Dalam hitungan detik Udin telah kembali ke kursi observasi, Ia telah divaksin, tanpa rasa takut dan rasa sakit saat disuntik vaksin jenis AstraZeneca.

“Alhamdulillah, akhirnya saya sudah divaksin tanpa rasa takut dan sakit dari jarum suntik, semoga bisa segera belajar di sekolah,” harap Udin kecil sambil tersenyum bahagia. (hel)

DPW PPP Kaltim dan NU Samarinda Laksanakan Vaksinasi Umat 2000 Dosis

November 23, 2021 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA – Vaksinasi Covid-19 terus digencarkan oleh pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan di Kalimantan Timur, dengan harapan tercapainya herd immunity atau kekebalan komunal  sebanyak 70 persen dari populasi manusia sesuai target Word Health Organisation (WHO).

Target herd immunity ini pun didukung Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bekerja sama yang bekerjasama dengan Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Samarinda dan didukung Dinas Kesehatan Kota Samarinda.

Melalui vaksinasi massal ini, sebanyak 2000 dosis vaksin jenis Pfizer diberikan ke warga Kota Samarinda dan sekitarnya, selama 2 hari, 22 – 23 November 2021 di sekretariat DPW PPP Kaltim Jalan Juanda Samarinda.

“Melalui vaksinasi massal ini, kami berharap bisa membantu pemerintah dalam memerangi pandemi Covid-19 dengan menargetkan 70 persen vaksinasi kepada masyarakat Samarinda,” ujar Rusman Yakub Ketua DPW PPP.

Dia pun berharap di akhir tahun 2021 tercapai target 70 persen, walaupun itu tergantung ketersediaan vaksinasi yang didistribusikan pemerintah pusat. Namun Rusman Yakub optimis target itu tercapai.

Selain itu Rusman juga mengingatkan masyarakat bahwa vaksinasi yang saat ini digencarkan pemerintah harus selaras dengan kampanye dan sosialisasi protokol kesehatan. Jangan hanya mengejar target 70 persen vaksinasi namun abai akan pentingnya protokol kesehatan.

Ketua DPW PPP Kaltim Ruman Yakub dan Ketua PCNU Samarinda HM. Asy’ari Hasan

“Kami berharap semua warga yang telah divaksin tetap harus menerapkan protokol kesehatan sehingga menjadi budaya hidup sehat, dan pemerintah harus semakin gencar mensosialisasikan dan melakukan tindakan razia Prokes,’’ ujarnya.

Sementara itu Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Samarinda HM. Asy’ari Hasan menjelaskan bahwa kegiatan vaksinasi ini membutuhkan kerjasama semua pihak, dalam hal ini PCNU bekerjasama dengan PPP dan Dinkes Kota Samarinda.

“Vaksinasi massal tetap membutuhkan kerjasama dimana kepanitiaan dari PPP dan vaksinasi didapatkan dari kuota PCNU yang diberikan pemerintah,” katanya.

Dia berharap dengan vaksinasi massal ini, perang terhadap penularan covid-19 PCNU dengan target kekebalan komunal sebanyak 70 persen bisa tercapai. (hel)

Tiga Kecamatan Zona Hijau Covid-19, Nursobah Minta Tetap Taat Prokes

November 21, 2021 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA –  Tiga Kecamatan di Kota Samarinda saat ini masuk zona hijau covid-19. Data Dinas Kesehatan Samarinda pada 17 November 2021 pukul 17.00 wita, dari 10 Kecamatan yang ada di Samarinda, Kecamatan Samarinda Kota, Kecamatan Samarinda Ilir dan Kecamatan Sambutan sudah tidak ada yang terpapar covid 19.

Nursobah

Menanggapi hal tersebut Nursobah Anggota DPRD Samarinda dapil Samarinda Ilir, Sambutan dan Samrinda Kota menyebut hal itu bisa terjadi karena warga mulai taat dengan Protokol Kesehatan (Prokes) dan menjalankan 3 M, yaitu mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker.

“Saya mengapresiasi kinerja pemerintah kecamatan dan kelurahan yang selalu aktif melakukan razia Prokes  dan edukasi kepada masyarakat. Alhamdulilah sekarang  menjadi zona hijau, namun demikian kita harus tetap menjaga Prokes,” kata anggota Fraksi PKS Samarinda ini

Lebih lanjut, komunikasi dan koordinasi yang dilakukan semua pihak perlu mendapatkan apresiasi dari semua pihak, karena mampu mengkomunikasikan hingga ke tokoh masyarakat. Dan dirinya berharap vaksinasi pun harus terus menerus digaungkan agar seluruh masyarakat bisa terjaga data tahan tubuhnya dan kebal terhadap virus ini.

“Kami berharap sosialisasi vaksin terus disuarakan dan perbanyak masyarakat yang divaksinasi. Dengan demikian harapan tentang covid-19  di Samarinda bisa hilang karena daya tahan tubuh bagus dan tidak rentan terkena virus,” ungkapnya

Dia menambahkan, zona hijau yang terjadi di tiga kecamatan tersebut perlu mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kota Samarinda dengan memberikan perbaikan infrastuktur kepada di 3 kecamatan tersebut.

“Lampu jalan yang gelap pada malam hari perlu diperbaiki agar terang dan tidak rawan kejahatan maupun kecelakaan termasuk juga pernaikan jalan-jalan yang sudah rusak perlu diperbaiki. Tujuannya mengapresiasi ketaat masyarakat hingga menjadi zona hijau,” ungkap Anggota Komisi I tersebut. (man)

Next Page »