Kakao Berau Ikut Pameran Di Paris

June 27, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

BERAU – Kakao merupakan salah satu dari lima produk unggulan perkebunan di Kabupaten Berau, di samping kelapa sawit, kelapa dalam, karet, dan lada. Bahkan kakao Berau berhasil lolos seleksi Indonesian National Cocoa of Excellence 2021. Dari 58 biji kakao se-Indonesia, biji kakao Berau berada diurutan yang keempat besar sehingga akan berkompetisi di ajang yang lebih tinggi dan bergengsi di Paris.

Sri Juniarsih Mas

“Kakao dari Kampung Merasa ini nantinya akan mewakili Indonesia pada ajang Cocoa of Excellence Award 2021 di Paris, Perancis”, ungkap Bupati Berau Sri Juniarsih Mas dalam sambutannya pada acara Ramah Tamah dengan Gubernur Kaltim yang sedang melakukan kunjungan kerja ke wilayah utara malam ini (25/4/2021) di halaman Workshop Politeknik Sinar mas Berau Coal.

Kami akan terus berkomitmen untuk mengembangkan indutri pengolahan berbasis pertanian dalam artian luas ini dengan mengembangan sektor hilirisasi beserta beragam produk turunannya sehingga diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi petani di kabupaten Berau.

“Sudah pula merambah pasar ekspor komoditi ini ke Jerman” ungkapnya bangga.

Dikatakan Sri, hal ini tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian petani di Berau. (**)

Segarnya Alam, Manisnya Jeruk Batu 55

June 9, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

Wisatawan lokal nikmati wisata petik jeruk batu 55, sang juara kontes buah nasional di desa wisata punten batu malang

MALANG – Segarnya alam yang belum banyak terkena polusi serta pemandangan serba hijau yang menghampar, membuat Kota Batu, Jawa Timur, terasa begitu menyegarkan. Itulah yang membuat kota penghasil buah apel ini menjadi salah satu lokasi yang banyak dipilih para wisatawan lokal bahkan wisatawan mancanegara untuk menghabiskan waktu di akhir pekan.

Umumnya, para wisatawan menempatkan daftar wisata ke perkebunan apel pada urutan teratas. Maklum, apel sudah menjadi ikon kota tersebut.

Namun, kini petani apel mulai beralih ke budidaya Jeruk, Bahkan saat ini Kota Batu juga terkenal sebagai kota penghasil jeruk. Geografis Batu yang berbukit dan dikelilingi oleh banyak pohon jeruk membuat kota ini begitu memanjakan mata pengunjung.

Menurut ketua Pengelolah Desa Wisata Punten – Bumiaji Batu Yayuk Muriswati menjelaskan, beralihnya petani dari budadaya Apel ke Jeruk banyak faktor yang mempengaruhi. Diantaranya mahal harga obat-obatan dan sedikit keuntungan yang didapatkan. Sehingga petani mulai beralih. Tetapi masih ada yang mengembangkan tanaman apel.

“ Tingginya harga obat-obatan tanaman apel yang menyebabkan petani beralih ke Jeruk. Disamping sedikitnya keuntungan jika mengembangkan tanaman apel “ Jelas Yayuk di kebunnya, Rabu ( 2/05/2021).

Hampir seluruh warga yang ada di desa Punten Kecamatan Bumiaji berprofesi sebagai petani jeruk. Yayuk menyebutkan dirinya telah menjadi petani jeruk keprok lebih dari 20 tahun.

“Sentra perkebunan jeruk ini sudah ada sejak puluhan tahun silam, sekitar tahun 1985,” katanya.

Awalnya, jeruk yang dikembangkan adalah jeruk keprok punten. Memasuki tahun 2000-an, petani muda juga mengembangkan jenis jeruk keprok batu 55. Berkembangnya varian jeruk ini disebabkan banyak petani apel yang berpindah menjadi petani jeruk akibat udara di wilayah itu yang sudah tidak lagi cocok untuk membudidayakan tanaman apel.

Ada dua macam jeruk yang dikembangkan para petani di daerah ini yaitu jeruk keprok punten dan jeruk keprok batu 55.  Lokasi perkebunan jeruk ini berada di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Batu. Butuh waktu sekitar satu jam untuk menuju lokasi tersebut dari Bandar Udara Abdul Rachman Saleh. Sebagai patokan, jalan menuju sentra kebun jeruk ini ke arah taman rekreasi Selecta.

Setelah memasuki daerah Kecamatan Bumiaji, lokasi kebun-kebun jeruk tidak jauh lagi. Anda akan menemukan gang kecil sebelah kiri jalan yang bertuliskan selamat datang di Desa Wisata Punten.

Dari gang itu, Anda masih harus terus masuk kedalam sampai menemukan pertigaan pertama dan mengambil jalan ke kanan. Di sepanjang jalan tersebut sudah terlihat banyak perkebunan jeruk dan beberapa halaman rumah yang juga dipenuhi oleh tanaman jeruk.

Bila ingin melihat perkebunan jeruk yang lebih besar, Anda bisa masuk lebih ke dalam dan melewati jalan yang cukup curam. Tidak perlu takut untuk tersesat karena seluruh warga di sana akan dengan senang hati memberitahu lokasi perkebunan yang Anda minati.

Tak mau kalah dengan sentra apel, sentra perkebunan jeruk ini juga membuka fasilitas yang sama, yaitu wisata mengunjungi perkebunan dan memetik buah jeruk langsung dari pohon.

Yayuk mengatakan, kebanyakan wisatawan yang datang ke kebunnya adalah wisatawan lokal yang berasal dari luar kota Batu. Apalagi saat ini merupakan puncak panen raya petik Jeruk. Rata-rata dalam sebulan jumlah pengunjung ke kawasan desa wisata petik jeruk mencapai sekitar 10 ribu pengunjung.

H.Sugiharso salah satu wisatawan dari Malang bersama rekannya H. Mis Roy dan H. Nurhuda mengungkapkan perasaannya yang sangat senang menikmati wisata petik jeruk ini. Selain bisa memetik dan menikmati buah jeruk batu 55 yang manis rasanya langsung dari pohonnya sepuas-puasnya selama 2 jam. Juga disuguhi dengan pemandangan alam perkebunan jeruk yang cukup luas dan asri dan sejuk udaranya,

“Sangat puas menikmati wisata petik jeruk langsung dari pohonnya ini. Ada sensasi dan kepuasan tersendiri. Beda banget jika kita beli di supermarket. Disini kita dimanjakan dengan segarnya alam dan manisnya rasa buang jeruk Batu 55. Kita bisa berlarian sambil berebut petik jeruk dan berteriak kayak anak kecil. Jadi refreshing banget rasanya,“ papar Sugiharso sambil mengupas buah jeruknya.

Di Batu ada beberapa varietas Jeruk,yakni jeruk varietas Baby (manis) ada tiga, Java paling manis, Pacitan paling segar dan Valencia berasa asam. Kini petani sudah mulai beralih ke jeruk batu 55 setelah menjadi juara Nasional kontes buah yang manis dan produktif. Yayuk menyebutkan dalam setiap hektarnya jeruk batu 55 bisa panen sekitar 35 – 50 ton, berbeda dengan jenis jeruk lainnya yang hanya mampu produksi 15 -20 Ton saja. (Buang Supeno)

Guntur Bisowarno Kembangkan Pertanian Berbasis Lingkungan

May 28, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

MALANG – Ketua Lembaga Kajian dan Riset Bamboo Spirit Nusantara (BSN) Indonesia Guntur Bisowarno mengembangkan Pertanian berbasis lingkungan di Desa Kertosari Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan.

Guntur Bisowarno yang alumnus Universitas Airlangga Surabaya Fakultas Farmasi tahun 1996 bersama rekannya Ucok, memberi pelatihan kepada petani membuat pupuk organik yang memiliki karakteristik, berkualitas dan tidak merusak struktur tanah. Disamping itu mudah pembuatannya , menguntungkan dan ekonomis. Hal ini dilakukan Guntur untuk mengubah pola piker petani agar tidak bergantung pada pupuk kimia.

“Dengan bahan baku yang melimpah, tersedia, murah dan mudah didapatkan seperti limbah kotoran sapi, unggas dan sebagainya Kenapa tidak dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik“ papar Guntur di kediamannya, Kamis ( 27/5/2021).

Guntur Bisowarno yang seorang apoteker bersama Khairudin Lubis (Ucok ) jurnalisTelevisi melakukan kegiatan pemberdayaan petani dengan program kembali ke alam. Menurut Guntur, BSN tertarik membantu petani sebagai bentuk kepedulian akbat dampak pandemi dan kenaikan harga pupuk.

Guntur Bisowarno dengan pupuk organik cair buatannya

“Isu kenaikan harga pupuk hampir selalu menghantui kehidupan para petani. Di sisi lain, hasil pertanian belum cukup untuk mengimbangi kenaikan harga pupuk yang semakin hari semakin tinggi dan tidak terkejar oleh kemampuan petani,“ tegas Guntur.

Menurutnya, nasib petani selalu terpinggirkan, belum menjadikan petani di Indonesia sebagai tuan rumah yang dihormati, diuntungkan, atau predikat lain yang tidak enak didengarnya.

Kenaikan harga pupuk yang terus melambung serta dosis penggunaan pupuk anorganik (kimia) semakin besar dalam setiap proses produksi akan membebani petani dalam mengeluarkan biaya produksi. Disinyalir penggunaan pupukan organik (kimia) yang terus menerus tanpa diimbangi penggunaan pupuk organik akan merusak sifat fisik dan kimia tanah termasuk rusaknya kehidupan mikroorganisme dalam tanah.

“Kami carikan alternatif penggunaan pupuk alami yang sehat dan efektif. Penggunaan pupukal amiah (organik) yang berkualitas sangat diperlukan guna memperbaiki kondisi tanah. Upaya pengadaan pupuk organik berkualitas dengan teknologi sederhana dan biaya yang murah mutlak diperlukan guna kelangsungan proses produksi petani,“ tambah Guntur.

Guntur menyebutkan program pemberdayaan petani di Desa Kertosari ini sudah berjalan 3 bulan dengan berbagai jenis tanaman seperti mangga, jagung, jeruk nipis, brambang (bawang merah), padi dan pisang dengan pola sistem tumpangsari.

Saat ini yang sudah berproduksi yakni tanaman brambang (bawang merah). Penggunaan pupuk organik binaan BSN (Bamboo Spirit Nusantara) Indonesia ini mampu meningkatkan hasil panen. Perhektarnya bisa 10 – 15 ton bawang merah. Selama ini dengan menggunakan pupuk kimiah hanya menghasilkan 4 Ton saja.

“Untuk tanaman buah bentuk daun lebih panjang dan tebal serta buah lebih besar,“ tandas Guntur.

Guntur Bisowarno tertarik dalam bidang pertanian setelah proses perenungan nasib petani yang terdampak pandemi Covid 19. Dengan pola tumpang sari, petani diajari juga menanam tanaman herbal (empon-empon) yang memiliki nilai ekonomis tinggi di era pendemi ini, seperti jahe, kencur, kunir dan sebagai. Apalagi Guntur juga ketua Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia ( Asji ), yang akanmemfasilitasi hasil panen petani.

“Sebagai ketua Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia – Asji, saya mempunyai kewajiban untuk member peluang petani terhadap tanaman herbal yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga tidak menggantungkan hasilpertanian semata “ ungkapnya.

(Buang Supeno ).

Petani Milenial Minta Dilibatkan Pembangunan Desa

April 28, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kaltim menerima kunjungan kalangan pemuda kreatif yang menamakan dirinya Petani Milenial Kaltim, di Ruang Kepala DPMPD Kaltim, Rabu (28/4/2021).

Kedatangan mereka secara khusus minta DPMPD sebagai instansi menangani urusan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat agar banyak dilibatkan dalam pembangunan desa-desa di Kaltim.

“Mereka ingin agar pemuda, khususnya Petani Milenial ikut berkiprah dalam pembangunan desa. Membantu desa memajukan desanya dengan potensi dan sumber daya yang ada,”sebut Kepala DPMPD Kaltim M Syirajudin didampingi Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Masyarakat Helvin Syahruddin.

Dia mengaku menyambut baik keinginan Petani Milenial. Sebab membangun desa tidak bisa hanya dilakukan secara parsial, melainkan harus secara keroyokan agar menyelesaikan semua permasalahan yang ada.

Petani Milienial yang merupakan kaum muda dengan intelektualnya diharap menjadi pendorong membangun semangat masyarakat membangun desanya di segala bidang. Diantaranya sektor pertanian, yakni bagaimana mengembangkan pertanian secara efektif dan efisien.

“Tugas kita itu. Melakukan pendampingan di desa. Bagaimana bisa mewarnai desa. Bagaimana masyarakat desa bisa berdaya. Sekarang saatnya. Sebab potensinya ada. Dananya ada,”katanya.

Setelah ini dia meminta bidang terkait untuk melanjutkan komunikasi efektif dengan Petani Milenial membahas konsep kerjasama keterlibatan mereka dalam kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Tidak hanya Petani Milenial, dia juga berharap keterlibatan dan peran aktif Lembaga Kemasyarakat Desa (LKD) seperti karang taruna, PKK, hingga RT untuk ikut mendukung pembangunan desa. Dalam waktu dekat akan mengumpulkan Karang Taruna untuk mengajak keterlibatannya membangun desa.

Seperti diketahui tiga orang Petani Milienial dimaksud Muhammad Padli, Bayu Dwi Ariestha, dan Achmad Efendi.(*/AM)

Wakil Ketua DPRD Samarinda Sebut Komoditas Perkebunan Karet Perlu Dikembangkan

April 8, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA – Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi bersama Wakil Ketua DPRD Samarinda, Subandi melakukan kunjungan kerja ke Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran untuk bertemu dengan para petani karet.

Rusmadi menyampaikan dukungannya terhadap para petani karet, sawit dan padi untuk memperbanyak komoditas pertanian di Samarinda dengan kualitas dan kuantitas produksi dan harga jual yang baik.

“Ayo kita pelihara kualitas karet di Kaltim yang dikenal bersihnya, khususnya di Kelurahan Bantuas ini. Merk ternama dunia mengakui kualitas karet di negara kita. Semoga produk dari Bantuas termasuk di dalamnya,” ujar Rusmadi, Senin (5/4/2021).

Sementara itu, Subandi selaku Wakil Ketua DPRD Samarinda menyebutkan, perkembangan komoditas pertanian semakin meningkat. Dia mengapresiasi para petani khususnya komoditas karet untuk terus bersemangat bertani.

Selain itu, dia melihat infrastruktur jalan menuju perkebunan karet dan termasuk akses jalan utama berbagai komoditas pertanian perlu ditata dan diperbaiki.

“Kita harus mendukung para petani dengan fasilitas akses jalan yang memadai dan berbagai kebutuhan pertanian lainnya misalkan peralatan dan pupuk,” ujar Subandi.

“Saya Pemkot Samarinda terus mendukung para petani agar kegiatan pertanian terus meningkat sehingga komoditas di Samarinda tidak hanya mengandalkan pertambangan saja namun pertanian juga menjadi potensi ekonomi masyarakat Samarinda yang harus dikembangkan,” tutupnya. (man)

« Previous PageNext Page »