ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Mitos Jati Kaltim

October 11, 2010 by  
Filed under Agrobisnis

Share this news

Pernah mendengar kitos jati dan kayu ulin di Kaltim? Suatu saat, tamu bangsawan kerajaan Majapahit mengunjungi Kerajaan di Kutai. Sang tamu membawa bibit pohon jati. Namun sebelumnya bibit ini dipelintir-pelintir. Sang tuan rumah yang mengetahui tamunya berbuat kurang sopan mempersembahkan biji ulin yang telah direbus sebelumnya.

Arsyad dan jati

Arsyad dan jati

Mitos ini kemudian berkembang, mengapa pohon jati yang tumbuh di Kalimantan tidak bisa lurus seperti jati di Pulau Jawa. Sementara  bibit ulin yang dibawa bangsawan Jawa bahkan tidak tumbuh. Bagaimana akan tumbuh, sebelum diserahkan terlebih dulu direbus.

Nah mitos tentang jati di Kalimantan Timur, agaknya, akan patah. Adalah Muhammad Arsyad, HB yang mengaku menemukan ‘situs’ jati yang pernah tumbuh di Kalimantan Timur. Penemuan tak sengaja itu terjadi tahun 2006 saat dia mencari tonggak-tonggak ulin sebagai bahan baku kursi ukir akar di galerinya.

Saat itu, katanya, dia tengah mencari bahan-bahan untuk galerinya di kawasan pemukiman transmigrasi L1 Teluk Dalam Kutai Kartanegara. “Saya melihat akar pohon sedang didorong oleh buldozer perusahaan tambang. Saya terkejut, ternyata akar pohon jati yang masih dalam keadaan baik. Padahal menurut perkiraan saya yang orang awam, tonggak jati itu telah tertimbun tanah ratusan tahun.

Saat ini Arsyad makin rajin berburu tonggak kayu jati di berbagai kawasan tambang yang ada di Kalimantan Timur. “Sampai saat ini saya belum bisa memercayai, jika ternyata di daerah ini dulunya  pernah tumbuh jati,” katanya. Pasalnya menurut temuannya akar tunjang jati yang sering ditemukan bergaris tengah hingga satu meter lebih. ”Coba bayangkan berapa sebenarnya besar kayu jatinya,” tambah Arsyad.

Saat ini, salah satu penemuannya dijadikan satu set kursi ukir akar yang artistik di arena pameran Bank Kaltim Indonesia Open  Stadion Palaran, kalimantan Timur. Di galerinya di Jalan Pangeran Suryanata Raya, Bukit Pinang dia memproduksi sejumlah ukiran.”Tukang ukir saya saya didik sendiri dari pemuda lokal,” katanya, seraya menambahkan dia menerima berbagai pesanan ukiran.

Galerinya juga menerima pesanan miniatur Patung Lemuswana.” Kami juga membuat kepala Kijang dari kayu jati. Jadi kalau ada yang punya tanduknya, kami membuat kepalanya dari kayu,” ujarnya.  (vb/ad)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.