ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Cabe Gendot, Cabe Khas Pegunungan yang Berasa Sangat Pedas

September 12, 2014 by  
Filed under Agrobisnis

Vivaborneo.com, Oleh masyarakat Jawa Barat, khususnya di Bandung cabe ini dikenal dengan nama Cabe Gendot dengan ejaan “e” yang dibunyikan seperti kata “cabe”. Bukan seperti melafalkan huruf “e” seperti pada kata “melihat” atau “merawat”.

Dalam Wikipedia Indonesia, cabe gendot dikenal juga dengan nama cabe gendol (Capsicum chinense). Di dunia internasional dikenal pula dengan sebutan Habanero yang merupakan  salah satu spesies cabai dari Capsicum. Cabai ini diperkirakan berasal dari semenanjung Yucatan dan menyebar ke seluruh dunia melalui perdagangan dan perpindahan manusia.Bagi sebagian orang, cabai ini sangat pedas bahkan melebihi pedas cabai rawit. Tingkat kepedasan cabai gendot mencapai 100.000-350.000 Skala Scoville.

Di Indonesia, cabai jenis ini di Jawa Barat dinamakan cabai gendot atau cabai bendot, sedangkan di Jawa Tengah dinamakan cabai gendol. Dinamakan cabai gendol karena bentuk cabai ini yang bengkak atau mengembung. Untuk penanaman di Pulau Jawa sendiri persebaran cabai ini sebatas perkebunan di sekitar Bandung dan di sekitar Dieng, Jawa Tengah.

Penghasil cabai gendot terbesar di dunia adalah Meksiko, yang tumbuh di Yucatan, Campeche, dan Quintana Roo, meskipun ada perkebunan komersial di Belize,Kosta Rika,Texas, dan California.

Cabe ini banyak tumbuh di daerah beriklim sejuk di ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut, sehingga banyak dijumpai di daerah Lembang dan pegunungan Malabar. Petani menanam cabe gendot sebagai selingan diantara tanaman wortel, kol, dan kentang.

Bentuk cabe gendot mirip paprika, namun besarnya hanya seukuran jempol kaki orang dewasa saja. Saya lebih suka memberi nama paprika kecil karena soal teksturnya berasa renyah seperti paprika. Warna saat panen yang tepat ketika cabe berwarna hijau. Setelah tua akan berwarna hijau kekuningan hingga merah menyala.

Soal rasa, cabe yang bertekstur mirip dengan paprika ini memiiliki rasa yang sangat pedas, berbanding terbalik dengan paprika yang manis dna dapat dikonsumsi langsung tanpa dimasak sekalipun.

Menurut pengawas kebun kopi di PT Sinar Mayang Lestari , Kang Dedy, cabe gendot ini pas dipanen sewaktu berwarna hijau atau setengah matang menuju warna kuning. Jika sudah terlalu matang akan berwarna merah terang dan kurang laku dipasaran.

“Kalau sudah merah biasanya harga akan lebih murah ketimbang yang masih berwarna hijau. Harga di pasar tradisional rata-rata Rp.5.000 per kilogramnya,” ujarnya.

Kang Dedy yang menemani perjalanan ke puncak Gunung Malabar di ketinggian lebih dari 1.800 meter dpl. menjelaskan  cabe gendot sangat cocok untuk masakan tumis-tumisan seperti tumis cumi, daging, ayam dan campuran sayuran. Karena rasa dan teksturnya sangat mirip dengan paprika, sehingga penggunaannya juga lebih banyak untuk tumisan.

Berbeda dengan paprika yang tidak pedas dan cenderung manis, cabe gendot memiliki rasa pedas dan hangat yang lama di mulut. Jangan coba-coba memegang cabe gendot dengan tangan telanjang jika anda tidak tahan rasa pedas karena rasa hangatnya bisa bertahan hingga 12 jam.

Cabe gendot umumnya berbiji  kehitaman dengan ukuran  sama dengan biji cabai pada umumnya. Saat ini sudah banyak usaha skala rumah tangga di Kota Bandung yang telah mengolah cabe gendot dalam kemasan botol kaca sehingga cocok untuk buah tangan ketika mengunjungi kota kembang.

Cabe ini dapat bertahan 10 hari di suhu ruang dan dapat lebih dari sebulan jika berada di lemari pendingin. Dengan berbagai macam olahan masakan dan bumbu instan, diperkirakan pamor cabe gendot akan semakin dikenal masyarakat luas.(vb/yul)

 

Respon Pembaca

Satu Komentar untuk "Cabe Gendot, Cabe Khas Pegunungan yang Berasa Sangat Pedas"

  1. kiki on Fri, 15th Jul 2016 2:36 pm 

    Di kampung saya setiap lebaran tiba setiap rumah pasti memasak sayur cabe gendot. Keluarga saya terdiri dr 5 anggota dan tiap lebaran kami masak 5kg cabe gendot. Di pasar dkt rmh sy cabe gendot wkt bln puasa kmrn hrg nya 50rb /kg

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.