ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Kutai Timur, Habitat Buaya Ganas Penyerang Manusia

August 17, 2015 by  
Filed under Lingkungan Hidup

VIVABORNEO.COM, Kabupaten Kutai Timur di Provinsi Kalimantan Timur boleh jadi menjadi salah satu dari sekian banyak tempat di dunia yang menjadi habitat buaya sungai yang sering menyerang dan memangsa manusia.

“Permusuhan” antara manusia dan binatang purba era dinosaurus ini terjadi  karena habitat buaya mulai terdesak oleh aktivitas manusia. Buaya-buaya kehilangan sumber makanan dan habitat tinggal, sehingga memasuki wilayah manusia.

Buaya yang tertangkap oleh manusia biasanya dijadikan bahan tontonan dengan cara diawetkan. (foto:dok.vb)

Namun, menurut kepercayaan di Kalimantan Timur, sebenarnya manusia bukanlah “makanan” para buaya. Manusia yang diserang atau dimakan oleh para buaya, karena manusia tersebut sedang “kepuhunan” atau lagi sedang bernasib apes saja.

Buaya yang menyerang dan memangsa manusia dianggap sebagai suatu kesialan yang sedang dialami korban. Dalam penglihatan para buaya, manusia naas tersebut terlihat sebagai hewan, baik rusa atau anak kerbau sehingga mereka menyerangnya.

Dalam banyak kasus manusia diserang oleh buaya, buaya penyerang dan pemangsa manusia, selalu dapat ditangkap hidup-hidup atau dibinasakan. Buaya penyerang dan pemangsa, biasanya tidak berada jauh dari korbannya.

Biasanya cara mendapatkan buaya pemangsa manusia adalah dengan bantuan pawang buaya yang memiliki keahlian dan keterampilan tidak saja dalam menjebak dan memancing buaya, tetapi juga dalam memanggil dengan mantera-mantera.

Menurut para pawang, buaya yang menyerang dan memangsa manusia, akan sangat merasa “bersalah” sehingga dipastikan buaya tersebut menyerahkan diri kepada pawang yang memanggilnya.

Uniknya lagi, dalam perhitungan para pawang buaya, di dalam perut buaya pemangsa manusia biasanya ditemukan sejenis batu sebesar bola pingpong atau sebesar kepalan tangan manusia. Tergantung besar-kecilnya buaya yang memangsa manusia. Biasanya batu itu menjadi penanda berapa korban yang telah mereka serang dan makan.

Menurut pawang buaya bernama Arbain (51 th) jika ditemukan beberapa batu di dalam perut buaya, berarti buaya tersebut telah beberapa kali menyerang manusia dan memakan potongan daging korbannya.

“Karena manusia bukanlah makanan buaya, biasanya buaya yang menyerang dan memakan korbannya akan menyerahkan diri sebagai bentuk rasa bersalah Umumnya buaya tersebut selalu dapat dengan mudah ditangkap,” ujarnya.

Di Kalimantan Timur, Kabupaten Kutai Timur dapat disebut sebagai sarang predator ganas ini. Betapa tidak, banyak kasus penyerangan buaya terhadap manusia terjadi di kabupaten tersebut.

Selain memiliki banyak sungai dan aliran anak-anak sungai yang menjorok ke laut, Kutai Timur juga banyak memiliki hutan-hutan dan rawa yang tergantung dari pasang surut air laut.

Kasus teranyar dari penyerangan buaya terhadap manusia terjadi pada Minggu pagi (16/8) di Desa Swargabara, Desa Kabo, Sangatta Utara. Korbannya bernama Bongga (19 th) sedang mandi di sungai yang berada di belakang rumah.

Menurut ibu korban, Ester, keluarganya mandi di sungai karena sumur kelaurga mereka sedang kering karena musimkemarau. Sehingga aktifitas mandi dilakukan di sungai yang ternyata memiliki buaya-buaya ganas.

Dari luka yang dialami korban, yaitu berada di kaki dan perut, diperkirakan Bongga kehabisan nafas saat buaya menyeretnya ke dalam air.

“Jadi tewasnya anak kami bukan akibat luka yang dideritanya melainkan karena lamanya buaya membawa tubuh korban di dalam air,” ujarnya.

Selain menyerang Bongga, pada Senin (20/7) lalu, di Desa Susuk Dalam, Kecamatan Sandaran, seorang lelaki bernama Armansyah (36 th) juga tewas diterkam buaya saat mencari kerang sungai yang sedang surut pada pagi hari.

Jasadnya ditemukan penduduk yang mencarinya pada pukul 23.00 wita ketika air telah pasang. Buaya penyerangnya, mati ditembak oleh Polisi Perairan yang dihubungi oleh penduduk untuk menjinakkan buaya pemangsa ini. Tiga tembakan dari senjata AK-47 mengakhiri hidup buaya.

Sebagai kabupaten berpredikat habitat predator ganas, kabupaten ini juga telah mencatat bahwa buaya terbesar dan legendaris berjuluk Monster Sangatta pernah dilumpuhkan.

Sepasang "Monster Sangatta" yang berada di Musium Kayu Tuah Himba Tenggarong, Kutai Kartanegara, selain disimpan dan diawetkan juga diberi sesaji karena ada kepercayaan buaya ini adalah buaya jadi-jadian. (foto:tribunkaltim)

Buaya pertama yang memangsa Ny .Hairani (35) ditangkap pada 8 Maret 1996 di sungai Kenyamukan, Kecamatan Sangatta. Buaya ini berkelamin jantan dan diperkirakan berusia sekitar 70 tahun. Panjangnya sekitar 6,6 meter dengan berat 350 kg dan lingkar perut 1,8 meter.

Tidak hanya seekor, buaya yang kini diawetkan dan ditempatkan di Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara, adanya sepasang yaitu berjenis kelamin jantan dan betina.

Sementara buaya kedua yang memangsa seorang pria bernama Baddu (40) di Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, di Kabupaten Kutai Kartanegara. Buaya dengan jenis kelamin betina ini  ditangkap pada 10 April 1996 dengan  panjang 5,5 meter, berat 200 kg dengan lingkar perut sekitar 1 meter.

Setelah itu, di Kutai Timur tercatat belasan kasus serangan buaya terhadap manusia. Pada tanggal 17 Januari 2014, buaya juga menyerang manusia di Sungai Asam Desa Tepian Langsat Kecamatan Bengalon. Buaya menerkan dan menewaskan ayah dan anak bernama Sandi (35) dan Wahyu (23 th).

Pada tanggal 29 Agustus 2014, seorang satpam sebuah perusahaan bernama Della Handayani (25 th) juga tewas diserang buaya di saat korban berada di rumah kontrakannya. Walau tidak ada bagian tubuh yang dimakan, namun serangan buaya tepat di dada, membuat Della sekarat dan nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Karena banyaknya buaya yang ada di Kabuaten hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Kartanegara ini, buaya dengan mudah ditemukan tidak saja di rawa-rawa ataupun muara sungai. Buaya juga pernah ditemukan masyarakat di daerah Jalan Dayung II Kota Sangatta melihat seekor buaya sepangjang 1,5 meter yang berada di parit. Masyarakat yang panik dan ketakutan, segera menangkap buaya muda ini.

Pada bulan Maret, juga tercatat seorang gadis bernama Mala (10 th) warga Dusun Kabo Jaya, Kecamatan Sangatta Utara, menjadi korban penyerangan binatang era purba ini. Nyawa Mala memang terselamatkan setelah dibawa ke RSUD Sangatta, namun korban mengalami luka parah di ketiak kiri dan paha kiri.

Terror buaya-buaya ini terus berlanjut. Diantara kecamatan yang paling sering di terror buaya ini adalah Desa Sangkima Kecamatan Sangatta Selatan.

Sejak tahun 1998 setidaknya ada empat kasus serangan buaya yang berakhir dengan tewasnya para korban. Pada tahun 2000 tercatat satu kasus serangan yang menewaskan Rahmatia. Pada tahun 2003 buaya juga menyerang Daeng Mallewa dan Slamet di tahun 2004.

Pada tahun 2013,  buaya juga menyerang seorang warga bernama Sapia yang menderita luka parah di bagian wajah namun nyawanya terselamatkan.

Masyarakat Kutai Timur masih meyakini ada seekor buaya sepanjang 8 meter dengan berat 1,5 ton masih berkeliaran di Sungai Sangkimah. Keberadaannya pernah terlihat warga.

Karena buaya-buaya ini minim makanan di alam liarnya,  maka masyarakat harus berhati-hati jika beraktivitas di sungai, rawa-rawa ataupun laut dengan air payau.(vb/yul/berbagai sumber)

 

 

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.