ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Kaltim Harus Siapkan Kekuatan Ekonomi Baru Pasca Tambang

August 15, 2011 by  
Filed under Kalimantan Timur

SAMARINDA – vivaborneo.com, Mantan Menteri Lingkungan Hidup yang kini menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, Prof Emil Salim mengatakan, Kaltim memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian dan perkebunan karena secara geografi berada pada sabuk khatulistiwa. Potensi ini, mestinya menjadi modal yang baik  bagi penyiapan kekuatan ekonomi Kaltim masa depan.

“Tidak banyak negara yang subur karena berada dalam posisi sabuk khatulistiwa. Di Amerika, hanya kita temukan di Brazilia, di Afrika hanya ada di Tanzania, sedangkan di Asia, ada Indonesia. Masyarakat Kaltim sangat beruntung karena berada dalam sabuk khatulistiwa,” kata Emil Salim, saat berada di Samarinda, pekan lalu.

Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, yang ditandai berbagai usaha eksploitasi tambang minyak gas dan batubara, seharusnya tidak melenakan pemerintah daerah dan masyarakat Kaltim. Potensi kesuburan lahan yang dimiliki, seharusnya dapat dimanfaatkan untuk penguatan ekonomi Kaltim masa depan.

Emil Salim mengibaratkan Kaltim sekarang  dan beberapa tahun ke depan seperti sebuah helicopter yang akan terus meninggi dan terbang. Tetapi pada saatnya ia akan jatuh karena kehabisan bahan bakar sebelum sampai pada tujuan yang diinginkan.

Ada banyak daerah yang bisa menjadi contoh, seperti Aceh dan Bangka Belitung. Mereka berjaya pada saat eksploitasi sumber daya alam dilakukan, tetapi menjadi kota mati setelah sumber daya alam ludes tereksploitasi.

“Selama kekayaan alam itu ada, kita mungkin bisa makmur. Tapi bagaimana kalau sumber daya alam itu habis? 2040  atau 2050 ketika sumber daya alam mulai habis, bagaimana nasib rakyat Kaltim?” tanya  Emil Salim.

Secara jujur ia menilai Gubernur Awang Faroek adalah pemimpin yang berpikir sangat jauh ke depan, termasuk memikirkan masa depan ekonomi Kaltim pasca berakhirnya kekayaan sumber daya alam tak terbarukan.

Sejumlah program yang digagas merupakan pikiran yang sangat visioner dan perlu mendapat dukungan rakyat. Pengembangan pertanian dalam arti luas yang digadang-gadang akan menggantikan kekuatan ekonomi migas dan batubara, menurut Emil adalah pilihan yang tepat jika mencermati tingkat kesuburan yang dimiliki Kaltim.

Pada kesempatan yang sama Gubernur Awang Faroek pun menegaskan bahwa mesin ekonomi baru Kaltim masa depan akan diarahkan pada pengembangan sumber daya alam terbarukan, yang diantaranya dihasilkan dari sector pertanian dalam arti luas.

Bukan hanya itu, Gubernur Awang Faroek juga memberi titik berat pada upaya peningkatan nilai tambah dari hasil-hasil pertanian Kaltim.

“Harapan saya ke depan, Kaltim akan menjadi eksportir bahan setengah jadi atau eksportir barang jadi, dan bukan hanya pengekspor produk mentah,” tegas Awang Faroek.

Dalam beberapa kali kesempatan, Awang Faroek pun meminta agar pengusaha pertanian dan perkebunan di Kaltim  membangun industrinya di Kaltim. Hal itu dilakukan agar bahan mentah Kaltim tidak mudah keluar sebelum diolah melalui industry yang dibangun di Kaltim. Nilai tambah produk tersebut diyakini akan memberi efek pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kami akan terus mendorong agar para pengusaha segera menginvestasikan dana mereka untuk membangun industrinya di Kaltim. Tiga kawasan industry yang sementara ini dikembangkan berada di Bontang, Balikpapan dan Maloy, di Kutai Timur. Pengembangan industry di kabupaten/kota lain di Kaltim juga terus kita dorong,” beber Awang Faroek.

Intinya, Gubernur Kaltim Awang Faroek sangat menyadari masa depan ekonomi Kaltim akan sangat bergantung pada pengembangan agribisnis dan dukungan industrialisasi berbahan sumber daya alam terbarukan, seperti kelapa sawit, karet, kakao, lada, dan lainnya. (vb/sam)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.