ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Mitos Seputar Pembuatan Tapai di Kalimantan

July 5, 2016 by  
Filed under Berita, Religi, Sosial & Budaya

VIVABORNEO.COM, Panganan yang mudah ditemui saat Lebaran Idul Fitri adalah tape atau tapai. Hampir setiap rumah, terutama di kampung-kampung, sajian tapai atau tape ini kerap menjadi penghias meja. Baik tapai segar ataupun tapai dalam berbagai bentuk olahan seperti wajik tapai, dodol tapai ataupun kue-kue.

Tapai ketan berwarna hijau yang dihasilkan dari air perasan daun katuk atau pandan. Tapai berbentuk bulat sebesar bola ping pong yang kerap disajikan saat Idul Fitri

Pada umumnya tapai atau tape ini telah dikenal pembuatannya terutama di negara-negara kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand hingga Kamboja dan Vietnam.

Tapai atau tape dapat dibuat dari singkong atau ubi kayu. Selain itu tapai juga dibuat dari beras ketan, baik putih ataupun hitam. Dalam bahasa Malaysia beras ketan ini disebut beras pulut.

Walau proses pembuatannya terbilang mudah karena hanya mencampurkan ragi dengan bahan yang dibutuhkan baik singkong maupun beras ketan. Namun, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh pembuatnya.

Menurut Nenek Maryam (70 th) pantangan dalam pembuatan tapai ini cukup banyak. Dipercaya, siapa saja yang melanggarnya, dapat mengkibatkan tapai yang dibuatnya rusak dan rasanya masam. Padahal, setiap tapai diharapkan memiliki tekstur dan warna yang sempurna, begitu juga rasa harus manis.

Beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh pembuat tapai, terutama tapai ketan biasanya jika pembuatnya seorang wanita, maka  tidak boleh dalam keadaan menstruasi.

“ Jika dilanggar maka tapai yang dihasilkan akan berlendir dan memiliki warna  cokekat kemerahan,” tegas Nenek Maryam.

Tentu saja ini tidak diharapkan karena warna yang seharusnya didapatkan adalah putih ataupun hijau. muda sewarna dengan daun suji, pandan ataupun daun katuk.

Dijelaskan Nenek Maryam, dalam masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan) pembuatan tapai singkong ataupun ketan, pembuatnya diharuskan berpakaian rapi dan bersih. Jika tidak, tapai yang dihasilkan akan terasa asam.

Penyusunan tapai ketan dengan alas daun pisang. Proses fermentasi ini memakan waktu 2-3 hari

Sepetah proses peragian, tapai atau tape ini ditempatkan dalam wadah tertutup agar prosesnya permentasinya sempurna. Biasanya dialasi serta ditutup daun pisang.

Setelah tapai terbungkus rapi, wadah penyimpanan diolesi dengan kapur makan membentuk tanda silang. Ini dimaksudkan agar tapai yang dibuat, dalam proses fermentasinya tidak “diaduk” oleh hantu kuyang dan mahluk halus lainnya. Hantu mirip leak di Bali ini dipercaya kerap usil mengganggu proses pembuatan tapai.

Begitupun agar tapai yang dibuat kelak memiliki air yang banyak ketika proses fermentasi selesai, maka si pembuat tapai biasanya dianjurkan untuk mandi dengan mengguyurkan air ke sekujur tubuh mulai dari kepala hingga ujung kaki.

Untuk pembuatan tapai ketan baik ketan putih ataupun hitam, biasanya dibentuk bulat sebesar bola ping pong. Biasanya tangan si pembuat dicelupkan sedikit ke dalam air larutan laos ataupun merica. Gunanya agar tangan si pembuat dalam mengolah bola-bola tidak lengket.

Fungsi lain yang dipercaya adalah air laos ataupun merica tadi dimaksudkan agar bola-bola ketan yang dibuat padat berisi tidak mudah hancur selama proses fermentasi berlangsung.

Begitulah seputar mitos tentang pantangan saat membuat tapai atau tape, terutama tape ketan di sebagian provinsi di Kalimantan. Boleh percaya, boleh tidak tetapi itulah tradisi yang terus hidup dan berkembang sebagai sebuah kearifan lokal.(ya)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.