ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Perilaku Seks Remaja Samarinda Mengkhawatirkan

May 20, 2009 by  
Filed under Berita

56 Persen Hubungan Seks Dilakukan Pada Usia 13-16 tahun

Perilaku seks remaja di kota Samarinda boleh dikata sudah cukup mengkhawatirkan. Demikian antaralain hasil survey  Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Timur tentang perilaku remaja Samarinda tahun 2008. Dari 300 remaja (usia 13-20 tahun)  yang disurvey, 12 persen responden mengaku sudah melakukan hubungan seks. Celakanya, 56 persen diantaranya sudah melakukan hubungan layaknya suami istri itu pada usia antara 13-16 tahun. Survey dilakukan di kalangan remaja, termasuk sebagian besarnya adalah pelajar SMU/SMK.

Masih dari hasil survey yang sama, alasan tertinggi hubungan seks dilakukan yakni sebesar 33 persen adalah karena “dorongan hasrat seks”. 28 persen responden menyebut karena alasan “cinta”, sementara 22 persen responden yang lain menggunakan dalih “suka sama suka”. Di luar persentase itu, 17 persen responden mengaku melakukan hubungan intim  karena “terpaksa”. Hubungan seks dominasinya  dilakukan dengan pacar (44 persen), bahkan dengan teman sendiri (28 persen). Hubungan seks lain yang dilakukan para remaja diantaranya dilakukan dengan para PSK (28 persen).

73 persen remaja mengaku sudah berpacaran dan 9 persen diantaranya sudah melakukan hubungan seks diluar nikah. 50 persen responden menyebut alasan pacaran sebagai media “penyemangat”.  Namun 27 persen responden mengaku tidak berpacaran. 36 persen diantaranya mengaku belum siap dan 24 persen yang lain blak-blakan mengaku dilarang ortu.

Alasan mereka melakukan hubungan intim saat pacaran, lagi-lagi karena hentakan hasrat seks yang  tinggi (53 persen), 32 persen menyebut alasan bukti cinta dan sekadar mengikuti trend. 15 persen responden yang lain melakukan hubungan seks karena alasan “coba-coba”.

Survei PKBI Kaltim juga mencatat bahaya memberi kebebasan terhadap remaja tinggal sendiri dalam rumah kos-kosan. 28 persen hubungan seks para remaja ternyata dilakukan di kos-kosan.  23 persen dilakukan di rumah ortu dan 8 persen dilakukan di tempat rekreasi. Yang agak miris lagi, ternyata sekolah juga tidak lepas dari ajang pesta seks remaja (14 persen).  99 persen responden mengaku sudah mengenal pornografi dari berbagai media, termasuk situs porno di internet. Dan hanya 1 persen yang mengatakan tidak mengenal. 53 persen responden mengaku sudah mengenal pornografi sejak usia dibawah 15 tahun.

Terkait pornografi yang ada di dunia maya internet sebanyak 73 persen responden meyakini penutupan situs porno bisa mengurangi perilaku negatif para remaja. 300 responden  juga memberi resep “melakukan kegiatan positif” (62 persen), “aktif berorganisasi” (15 persen), “pilih-pilih pergaulan” (16 persen) dan “tidak pacaran” (7 persen) sebagai hal-hal yang paling mungkin dilakukan agar terhindar dari seks bebas.

Angka lebih mencengangkan  justru tergambar  dari pengakuan responden tentang apa yang mereka ketahui tentang perilaku seks teman-teman mereka. 300 responden yang disuguhi pertanyaan “Apakah anda mengetahui teman anda melakukan hubungan seks diluar nikah”, 64 persen menyebut “ya” mengetahui. 36 persen sisanya menjawab “tidak mengetahui”.  Mereka bahkan  bisa menjawab dengan siapa hubungan seks itu dilakukan. Pastinya 55 persen responden menyebut hubungan seks dilakukan dengan pacar masing-masing. 21 persen dilakukan dengan teman yang lain, 6 persen dilakukan dengan PSK dan 18 persen dilakukan dengan selain dari yang tersebut diatas. Juga disebutkan 33 persen hubungan seks teman-teman mereka dilakukan pada usia antara 13-16 tahun. 37 persen pada usia 17-20 tahun.

Tempat kos dan rumah ortu masih mendominasi tempat dimana perzinahan itu banyak dilakukan. 36 persen seks bebas dilakukan di rumah ortu dan 28 persen di tempat kos. Sekolah juga menjadi ajang perzinahan yakni sebesar 8 persen pengakuan responden.

 “Setidaknya ini bisa jadi bahan kajian, kapan dan dari mana seharusnya pendidikan tentang seks harus diberikan. Agar para remaja bisa memahami seks secara benar, termasuk dalam kaitan norma dan etikanya,” kata Direktur Pelaksana Daerah PKBI Kaltim  Sumadi Atmodiharjo.   (Vb-03)

Respon Pembaca

3 Komentar untuk "Perilaku Seks Remaja Samarinda Mengkhawatirkan"

  1. Cha aZ on Wed, 20th May 2009 1:04 pm 

    memang smua itu ga lepas dr perhatian ortu
    jd bagi para ortu lebih baik membatasi pergaulan anak-anaknya

  2. y.nezaden on Thu, 21st May 2009 10:02 am 

    komunikasi 2 arah antara anak dan ortu harus lebih terbuka tentang sex. ortu jangan anggap anak sekarang seperti anak2 tempo dulu seperti layaknya mereka anak2 dulu.

  3. Mursalim on Mon, 1st Jun 2009 1:09 am 

    Menydihkan memang mlihat problematika remaja hari ini krn sistem skrglah yg gagal mngantarx mrk kpada jalan yg baik d benar…
    Slmtx generasi hanya dgn sistem Islam…

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.