Sosok Sita Wardani Sebagai Cermin Kemandirian Wanita

August 27, 2010 by  
Filed under Profil

“Jangan pernah memandang seseorang dari  pekerjaan dan statusnya, sebelum Kita mengenal lebih dekat dengan orang tersebut,” ujar Sita Wardani, SH, dari Ikatan Pengembangan Kepribadian Indonesia (Ipresia) saat menjadi pembicara pada Hari Ulang Tahun Ikatan Keluarga  Wartawan Indonesia (IKWI)  Cabang Kaltim Ke-49  di Samarinda, Kamis (5/8) Sita Wardani memukau 60-an peserta yang sebagian besar adalah istri wartawan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dengan gamblang Sita menceritakan perjalanan hidupnya,berbagi tips dan trik menyiasati keluarga yang sibuk, dan berbagi cara berhemat didapur ala ibu rumah tangga.Yang paling menarik dari cerita jalan hidup Sita Wardani yang penuh liku namun menyenangkan untuk dipetik hikmahnya. Menurutnya, ketika dirinya harus menjadi single parent karena suami  tercintanya meninggal dunia. “Hidup terasa berat dengan membiayai dua anak dan hidup harus terus berjalan sementara kendisi keuangan memerlukan cash money,” ujarnya.

Dengan kondisi tubuh hamil dua bulan, dan mempunyai seorang anak kecil berumur tiga tahunan, sangat sulit bagi Sita Wardani untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Salah satu peluang pekerjaan yang mampu dikerjakannya, karena tidak mensyaratkan pendidikan formal adalah pembantu rumah tangga.

“Menjadi pembantu rumah tangga adalah jalan terakhir dan sangat mudah dilakukan karena itulah keahlian  ebagai ibu rumah tangga. Pekerjaannya kita telah kuasai seperti menyapu, mengepel, memasak dan lainnya. Itu tidak memerlukan persyaratan macam-macam,” ujarnya.

Dari pembantu rumah tangga di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Sita Wardani mampu meniti karier sebagai Kepala rumah tangga. Sungguh suatu jabatan yang bergengsi karena mengatur segala keperluan dan mengatur menu masakan untuk tamu-tamu yang sebagian besar adalah pejabat Negara, baik dari Indonesia maupun dari Amerika Serikat,” jelasnya.

Setelah masa kontraknya habis, Kedutaan Amerika Serikat sempat mengajak Sita untuk berangkat ke AS untuk bekerja disana. Namun pilihan tersebut harus ditolak Sita karena kedutaan AS melarang Sita untuk membawa ke dua anak mereka.

Akhirnya Sita direkomendasikan untuk bekerja menjadi Kepala Juru Masak di PT Freeport Indonesia di Papua tahun 1998. Inilah pengalaman menarik sekaligus menundang tawa ibu-ibu yangmendengarkannya.

“Orang memandang profesi sebagai juru masak sebagai pekerjaan yang kotor dan berminyak.  Tampang seorang juru masak juga digambarkan sebagai seorang wanita gendut yang tidak menarik,” ujar Sita yang memiliki berat idela dan masih terlihat cantik ini.

Ketika tiba di Papua, Sita tidak membayangkan  bahwa lapangan terbang yang didarati pesawatnya adalah sebuah lapangan terbang dari tanah, dan tidak ada ruang tunggunya.

“Mirip halte bus di Jakarta,” ujarnya mengenang. Sebagai juru masak yang dianggap pegawai rendahan, Sita dijemput mobil truk penganggut sayur tanpa pemanas udara (karena cuaca di pegunungan kawasan Freeport ini sangat dingin, sehingga setiap mobil dilengkapi pemanas udara dan bukan pendingin udara pada mobil umumnya).  Padahal, Sita memiliki kartu Tanda Pengenal  berjenis “Gold” sekelas ekspatriat kelas atas.

Penjeputnya bernama Joshua atau disapa Josh, warga Papua asli yang disepanjang perjalananny selalu bernynyi dengan bahasa yang tidak jelas dan dimengerti Sita. “Sempat jengkel juga dengan si Josh karena dijemput dengan mobil penganggut sayuran dan dia terus-terusan bernyanyi lagu daerah yang tidak dimengerti,” ujarnya.

Untuk  dapat mencapai hotel perusahaan, Sita harus melintasi delapan pintu penjagaan. Namun, baru dilintasan pintu  pertama, penjaga sempat kaget ketika melihat Tanda Pengenal yang mereka periksa. “Ibu Sita bukan tamu biasa, segera buka pintu untuk member jalan mobil yang dikemudikan Joshua,” begitu terdengar perintah melalui radio komunikasi yang diucapkan petugas pintu pertama tersebut.

Tujuh pintu lintasan yang dijaga ketat dan hanya boleh dilntasi oleh karyawan perusahaan tersebut, langsung terbuka manakala mobil yang dikemudikan Josh melintas. Josh pun merasa tersanjung dengan tamu yang baru dijemputnya ini. Ketika mobil trus yang tingginya lebih dari satu meter ini berhenti di halaman hotel perusahaan, Josh sempat berteriak tidak memperbolehkan Sita turun.

Sita sempat terkejut, ada apa gerangn? Ternyata, sang sopir yang telah mengetahui identitas tamu yang dijemputnya berlari mencarikan kursi agar Sita yang saat itu mengenakan rok untuk dapat turun dengan mudah.

“Saya yang tadinya sempat jengel dengan Josh,  mulai menaruh perhatian terhadapnya. Bahkan ketika malam hari, Josh “memasang badan” untuk rela tidur di depan pintu kamar  untuk berjaga-jaga kalau-kalau Sita diganggu oleh lelaki karyawan iseng,” ujarnya terharu.

Setalah bekerja beberapa tahun, dan orang lain telah memberikan penghargaan atas profesi sebagai seorang  Juru masak, Sita kembali ke Jakarta. Josh yang selama ini sebagai sopir pribadi sekaligus bodyguard-nya memberikan “Batu Irian” sebagai kenang-kenagan. Sita sungguh terkejut, ternyata Batu Irian yang dimaksud  dan dibungkus koran bekas oleh Josh adalah emas batangan!!

“Josh berpesan, jangan menjual batu irian tersebut  jika tidak terpaksa. Jika tidak ada uang untuk makan baru batu ini boleh digunakan,” ingat Sita yang dicambut decak kagum ibu-ibu yang mendengarnya.

Itulah pelajaran yang dapat diambil dari kisah Sita Wardani, “Jangan pernah memandang seseorang dari  pekerjaan dan statusnya, sebelum Kita mengenal lebih dekat dengan orang tersebut,”. (vb/ya)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.