Perkawinan Beda Negara Masih Banyak Terjadi di Perbatasan

June 16, 2012 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA -  vivaborneo.com, Perkawinan antar bangsa banyak terjadi di perbatasan Kaltim dengan Malaysia, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan warga  Indonesia yang umumnya adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI)  dengan warga Malaysia di Tawau, Kota Kinabalu ataupun Sandakan, Malaysia Timur. Sorotan ini  disampaikan Wakil Gubernur Kaltim H Farid Wadjdy saat bertemu Konsulat RIdi Kota Tawau, Mohammad Soleh di ruang tamu Wagub, Selasa (12/6).

Kepala Konsulat RI Tawau, Mohammad Soleh

“Perkawinan antar negara jika tidak dilengkapi dengan dokumenn yang sah dan resmi akan menyulitkan warga Indonesia di Malaysia karena anak-anak mereka tidak mendapatkan hak-hak yang diberikan oleh negara, seperti fasilitas sekolah ataupun kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Konsulat RI di Kota Tawau, Mohammad Soleh melaporkan bahwa keinginan Wagub tersebut telah dijalankan oleh Konsulat Tawau melalui Program Nikah Isbat yang telah menikahkan 500 pasangan atau seribu orang antar kedua Negara ini. Padahal, Konsulat Tawau baru terbentuk Desember 2011 lalu.

“Kalau di Malaysia diistilahkan dengan nikah di bawah pokok atau kalau di Indonesia dibilang nikah dibawah tangan yang tidak tercatat di dokumen  Negara. Konsulat Tawau baru saja menikahkan 500 pasangan secara resmi sehingga mereka  telah memiliki dokumen resmi,” jelasnya.

Untuk menikahkan dua pasangan berbeda negara ini, lanjut Soleh, pihak Konsulat Tawau mendatangkan Pengadilan Tinggi Agama dari Jakarta,  karena untuk perkawinan ini tidak dapat dilakukan oleh Pengadilan Agama Provinsi atau kabupaten/kota karena termasuk perkawinan antar bangsa.

“Dengan adanya dokumen resmi bagi pasangan antar bangsa ini, akan ada jaminan terhadap anak-anak mereka untuk mendapatkan hak  bersekolah maupun pelayanan kesehatan baik dari Pemerintah Malaysia ataupun dari Pemerintah Indonesia,” ujarnya. (vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.