Ngulur Naga Diiringi Prosesi Belimbur

July 19, 2010 by admin  
Filed under Kutai Kartanegara

PUNCAK kemeriahan Erau Pelas 7 Benua 2010, sebagaimana Erau sebelumnya  ditandai dengan prosesi Mengulur Naga, yang digelar Minggu (18/7) pagi kemarin.Usai Staf Ahli Bidang Pembangunan Gubernur Kaltim H Sulaiman Gafur menutup secara resmi Erau 2010, sepasang replika Naga siap dinaikkan ke kapal dan dibawa ke Kutai Lama kecamatan Anggana untuk di larung.

Seperti biasanya yang paling ditunggu-tunggu oleh semua pengunjung dan warga Tenggarong dan sekitarnya adalah Mengulur Naga diiringi juga dengan Belimbur atau saling siram air.

Belimbur dilakukan setelah Air Tuli dari Kutai Lama tiba di Tenggarong, lalu digelar prosesi Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAM Salehuddin II naik ke Rangga Titi (balai yang terbuat dari bambu kuning). Pada prosesi ini Sultan memercikkan Air Tuli ke dirinya sendiri lalu setelah itu dengan mayang pinang, air tuli itu di percikkan Sultan ke orang-orang di sekelilingnya.

Saat Sultan memercikkan Air ke orang disekitarnya itulah yang menjadi tanda bahwa Belimbur dimulai. Kontan saja hal itu disambut perang air oleh pengunjung yang telah berada disekitar Musium maupun se Kota Raja Tenggarong walaupun sejak pagi hujan mengguyur Tenggarong dan sekitarnya.

Menurut Koordinator Sakral Erau Kesultanan Kutai, Awang Imaludin belimbur bermakna pensucian diri dari pengaruh jahat sehingga kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah.

“Lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat serta diharapkan terhindar dari hal-hal yang tak di inginkan,” ujarnya disela-sela acara.

Selain warga yang tumpah ruah kejalan untuk Belimbur, Pemkab Kukar yakni Bupati – Wakil Bupati Kukar Rita Widyasari – HM Ghufron Yusuf beserta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan Kepala Dinas/instansi dilingkungan pemkab Kukar juga turut serta belimbur di Pendopo Bupati. Hadir juga pada saat itu  H Sulaiman Gafur yang juga mantan Pj Bupati Kukar.

Tak pelak saling siram antara pejabat pun terjadi di Pendopo Kukar, suasana ceria pun terpancar dari raut wajah mereka.

Bupati Kukar Rita Widyasari mengatakan, Belimbur adalah salah satu budaya asli Kutai yang unik  dan harus dilestarikan. Namun jangan sampai mengurangi makna Belimbur yaitu pensucian, yaitu menyiram dengan cara sewajarnya saja dan menggunakan air bersih.

“Gak apa-apa semuanya basah-basahan dalam belimbur ini. Ini merupakan budaya yang unik dan perlu dilestarikan, namun tidak boleh berlebihan,” ujarnya saat  ditemui disela-sela sedang belimbur. (vb/heru)

Artikel terkait :

  • Erau Juga Diminati Pengunjung Dari Luar Kalimantan
  • Berkah Erau Bagi Pedagang Mainan
  • Merebahkan Ayu Tanda Erau Berakhir
  • Bepelas Malam Ke 6 Diwarnai Perang Beras
  • Melestarikan Budaya Melalui Lomba Menggambar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

online counter