Musik Metal Berpadu dengan Seni Budaya Lokal

August 10, 2009 by  
Filed under Seni

Samarinda-vivaborneo.com- Apresiasi seni dan budaya begitu menyatu dalam rangkai gelaran Art Exibition And Samarinda Death Festival, garapan Samarinda Extreem Community dan Kwaci Seru di Taman Budaya Samarinda, Sabtu (8/8). Dentuman musik  cadas dan metal terdengar apik bersanding dengan permainan musik tradisional  Jatung Utang mengiringi tampilan para penari dari suku dayak  Kenyah.“Banyak yang masih beranggapan bahwa aliran musik metal, seperti grind core, death metal atau brutal death, selalu dikesankan dengan image yang kurang bagus. Padahal aliran musik ini juga bagian dari seni musik. Karena  itu, kami mencoba menyandingkannya dengan seni-seni budaya tradisional kita,”  kata ketua panitia  Art Exibition And Samarinda Death Festival, Supriadi didampingi pimpinan Kwaci Seru, Yoke.

Event yang akan digelar selama 2 hari (Sabtu dan Minggu) selain menampilkan pertunjukan musik cadas band-band lokal, juga digelar  pameran seni budaya, diantaranya seni ukir, seni lukis, seni tato, kerajinan khas Kaltim dan  fotografi.

Masyarakat menurut Didi, demikian ia biasa disapa, sudah selayaknya juga bisa mengapresiasi apa yang menjadi bakat dan selera para pelaku musik-musik cadas. Bahkan tidak sedikit, dari komunitas ini adalah pelaku-pelaku seni yang lain, bukan hanya mampu memainkan musik-musik beraliran hard metal.

“Terkadang mereka punya bakat dan kemampuan dalam bidang-bidang seni yang lain, tetapi karena kurangnya media penyaluran, maka potensi bakatnya kurang bisa dimaksimalkan,” kata Didi, seraya menambahkan pentingnya perhatian pemerintah tentang penyaluran potensi ini.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kaltim, Firminus Kunum menegaskan bahwa dalam rangka gebrakan Visit East Kalimantan 2009 dan selanjutnya, acara semacam ini memang layak mendapatkan dukungan. Kolaborasi seni budaya tradisional dan seni musik modern bukan  tidak mungkin juga akan memicu minat para wisatawan domestik maupun manca Negara.

“Semua seni pada prinsipnya bagus. Tinggal bagaimana mengemasnya secara baik, mengkolaborasikan dengan semangat anak-anak muda yang memang butuh sentuhan. Tidak ada masalah dan ternyata sangat bisa dipadukan,” kata Firminus didampingi Zainul Arifin, staf Disparbud Kaltim.

Menurut Firminus, aliran musik bisa saja metal, tetapi perilaku para pemainnya tidak juga harus brutal. (Vb-03)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.