Mengenal Lebih Dekat Balai Haor Kuning

July 5, 2010 by  
Filed under Erau

BALAI haor kuning merupakan peralatan utama saat upacara Beluluh. Balai yang dibuat dari haor (Bambu) kuning ini dibuat tiga tingkat dengan jumlah tiang sebanyak 41 buah yang diletakkan di atas jalik atau tikar rotan.

Balai Haor Kuning

Balai Haor Kuning

Balai ini diletakkan tepat ditengah ruangan Kedaton tempat dilakukan upacara Beluluh Sultan dan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Sementara jalik itu sebelumnya sudah diberi ornamen yang memvisualkan dua pasang naga sedang bermain di taman kolam lengkap dengan buih-buih.

Ornamen naga dengan segala perniknya ini terbuat dari hamparan butiran beras berwarna 7 macam yang disebut Tambak Karang. Kemudian dari empat sudut hamparan jali berornamen dua pasang naga itu diletakkan masing-masing dua buah pisang ambon dan sebutir telur ayam dibagain kepala naga.

Pembantu Upacara Sakral Kesultanan Demong Nata Pernata mengatakan pisang itu melambangkan taring naga sedangkan telur melambangkan kumala naga.

Aksesoris lainnya adalah pucuk-pucuk daun pohon beringin yang disebut rendu ditempatkan diatas balai berfungsi sebagai atap balai selain lembaran kain kuning yang sudut-sudutnya dipegang oleh empat pemuda yang disebut Kirab Tuhing. Sedangkan di depan undakan atau tangga dari balai 41 kaki, diletakkan sebuah lesung batu kecil yang harus diinjak Sultan ketika menaiki balai. Pada 41 tiang balai haor kuning itu di bagian atasnya diselipkan hiasan berupa Janur ringgitan.

Dalam pelaksanaan Beluluh ini, pemegang ritual utamanya adalah Belian (sebutan untuk tokoh laki-laki spritual Adat Kutai yang ahli mantera) didampingi pula Dewa Bini (sebutan untuk tokoh wanita spritual Adat Kutai yang ahli mantera). Serta dikiri dan kanan balai  terdapat jajaran Pangkon Laki dan Pangkon Bini. Para Pangkon ini terdiri dari 7 Pangkon Laki dan 7 Pangkon Bini.

Tugas para Pangkon Laki-Bini adalah masing-masing membawa kipas, lante atau tabung tempat surat, keris, bokor pucuk rebong, dan tempat penginangan. Untuk Pangkon Bini, kipas, lante, keris, bokor dan penginangan bahannya terbuat dari perak, sementara Pangkon Laki bahannya terbuat dari kuningan.

“Keris perak maupun kuningan gunanya sebagai pengeras, sedang bokor pucuk rebong tempat membuat beras kuning yang akan dihamburkan ke udara oleh Dewa,” papar Demong Nata saat ditemui usai Ritual Beluluh.

Sedangkan disekeliling Balai ditempatkan lima Peduduk yaitu sebuah mangkuk berisi masing -masing sebuah kelapa tua, gula merah, daun sirih, pinang, jarum, benang, lilin dan beras dibagian dasar mangkuk.

Dibagian belakang balai terdapat balai yang lebih kecil bernama Balai Penyembahan yang berisi Peduduk dan baju persalinan Sultan, yang bermakna sebagai pengganti diri Sultan.

Demong Nata menjelaskan bahwa Balai dan perlengkapannya itu diletakkan menghadap matahari terbit sedangkan bagian belakang balai menghadap ke matahari terbenam. Usai upacara beluluh, Sultan berpantangan menginjakkan kakinya ketanah  secara langsung.

“Selama seminggu usai beluluh ini Sultan tidak menginjak tanah secara langsung, serta biasanya Sultan selalu disertai para Pangkon,” demikian ungkapnya. (hmp03)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.