Jangan Gunakan Mesin Pompa Saat Belimbur

July 7, 2010 by  
Filed under Erau

Tenggarong-vivaborneo.com, Salah satu momen dalam pesta adat Erau yang paling diminati  pengunjung adalah acara adat Belimbur. Upacara siram-siraman dengan air bersih ini merupakan puncak  perayaan Erau yang dilaksanakan usai Naga diulurkan di perairan Desa Kutai Lama Kecamatan Anggana.

Tampak warga  di sepanjang jalan protokol kota Tenggarong  saling baku siram sebagai wujud upacara adat Belimbur

Tampak warga di sepanjang jalan protokol kota Tenggarong saling baku siram sebagai wujud upacara adat Belimbur

Menurut Menteri Sekretaris Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura HAPM Haryanto Bachroel, upacara adat Belimbur  diawali setelah Sultan  menerima air tuli di Rangga Titi yang diambil dari perairan di Kutai Lama, Kecamatan Anggana, daerah yang pernah menjadi ibukota pertama Kerajaan Kutai Kartanegara pada abad ke-13 hingga 17.

Menurutnya Berlimbur sejatinya bermakna  untuk membersihkan jasmani dan rohani dari pengaruh  jahat yang  menyertai kehidupan paling tidak selama setahun terakhir. “Oleh karenanya upacara adat Belimbur merupakan bagian tak terpisahkan dari Erau,” ujarnya.

Ditambahkan upacara Belimbur yang berdimensi sakral juga memiliki prosesinya sendiri yaitu dilakukan  setelah Sultan menerima Air Tuli yang berasal dari Desa Kutai Lama. “Jika Belimbur dilakukan sebelum Air Tuli diterima Sultan maka itu melanggar adat yang resikonya bisa macam macam,” ujarnya.

Namun bagi yang belum mengerti, Belimbur acap dimaknai sebagai sarana saling baku basah, sehingga diharapkan timbul rasa lucu diantara yang belimbur. Namun disayangkan banyak diantara pelimbur menggunakan air tidak layak atau air kotor. Sehingga air yang tadinya diharapkan untuk membersihkan dari unsur jahat namun sebaliknya mengundang kejahatan baru. Jika ini terjadi kemungkinan klaim dari yang kena limbur bisa saja terjadi, sehingga berpotensi timbulnya keributan. Yang paling  tidak afdal lagi dari adat Belimbur adalah jika sekelompok pengunjung menggunakan alat mesin penyemprot air. Karena ketika menggunakan mesin pompa air dalam upacara ini maka adat Belimbur semakin kehilangan maknanya. Yang lebih fatal lagi seperti pernah terjadi pada Erau sebelumnya terutama di sepanjang ruas jalan antara KH Akhmad Mukhsin hingga Jembatan Kartanegara di Jalan Walter Monginsidi terjadi kemacetan panjang. Kemacetan terjadi  akibat banyaknya kelompok warga pengunjung Erau terkonsentrasi menyaksikan penggunaan mesin pompa air di sepanjang kedua jalan tersebut yang secara frontal airnya ditujukan kepada penguna jalan yang melewati ruas jalan tersebut. Pompa mesin tersebut ada yang dibawa dengan menggunakan mobil pikup  yang biasa digunakan mengangkut air bersih dan ada pula dengan kapal yang sengaja bertambat di tepi turap sungai Mahakam. Seharusnya pihak keamanan Erau mengantisipasi jika ada warga yang membawa mesin pompa. Antara lain dengan melarang kapal bertambat di turap Mahakam atau mobil pengangkut air melewati jalan tersebut saat upacara Belimbur.

“Agar upacara adat Belimbur dilakukan sesuai maknanya, maka masyarakat Tenggarong sebagai warga yang merayakan Erau hendaknya mampu memberikan contoh terbaik dalam melakukan uopacara ini.” Demikian  harapan Dr Haryanto Bachroel.(vb/rudi)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.