Indonesia Lemah Dalam Diversifikasi Turunan Minyak CPO

August 11, 2010 by  
Filed under Berita

SAMARINDA – vivaborneo.com - Indonesia terlanjur bangga sebagai pengekspor Crude Palm Oil (CPO) terbesar dunia mengalahkan Malaysia,  padahal komoditas CPO hanya sebagai bahan baku yang semestinya melalui proses lanjutan atau diversifikasi menjadi bahan komoditas lainnya untuk menambah nilai tambah komoditas tersebut. Demikian dikatakan Ketua Dewan Penasehat Kawasan Industri Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy, HS Syafran dalam Workshop bertema Pengembangan Komoditi Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku, bertempat di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (10/8).HS Sjafran menjelaskan dengan program pembangunan pelabuhan laut Internasional Maloy sebagai pelabuhan laut pengespor khusus CPO di Indonesia bagian Timur. “Masih terjadi kesenjangan antara pelabuhan  Indonesia bagian barat dan timur yang mengakibatkan adanya perbedaan harga tandan segar CPO. Ini dikarenakan Indonesia timur tidak memiliki pelabuhan ekspor. Saat ini kapasitas Pelabuhan Dumai 5 juta ton per tahun dan BElawan 4 juta ton per tahun sementara dari lain-lain 10 juta ton setahunnya,” jelasnya.

Minyak kelapa sawit (CPO) sebenarnya dapat didiversifikasikan ke dalam berbagai bentuk produk yang sangat dibutuhkan dunia, sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi di pasar ekspor. Kesadaran konsumen dunia kini terus meningkat untuk beralih dari minyak hewani ke minyak nabati karena isu asam lemak. Asam lemak yang terkandung dalam minyak sawit lebih seimbang daripada yang terkandung pada minyak hewani.

Sementara itu, Gubernur Kaltim, H Awang Faroek Ishak dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pertanian, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Dady Rukhiat mengatakan program Satu  Juta Hektar Sawit yang dilaksanakan Provinsi Kaltim didasari dengan  pemikiran karena perkebunan sawit memiliki prospek cerah dan sebagai sektor andalan pengganti Minyak dan Gas (Migas).

Potensi lahan yang tersedia bagi pengembangan perkebunan di Kaltim saat ini terdapat 4,6 juta hektar. diperkirakan sudah mencapai lebih dari 700 ribu hektar yang terdiri dari plasma atau yang diusahakan rakyat, perkebunan milik BUMN dan perkebunan besar swasta (PBS) dengan produksi 2,5 juta ton TBS dan sekitar 100 ribu ton crude palm oil (CPO) beserta turunannya per tahun.

“Dari 302 perusahaan yang mendapat ijin lokasi, sebanyak 103 perusahaan telah memegang ijin Hak Guna Usaha (HGU.) Dengan bertambah banyaknya perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kaltim, maka luasan lahan perkebunan kelapa sawit akan semakin bertambah, sehingga Kaltim optimistis produksi target Satu Juta Hektar Sawit sampai 2013 akan dapat terpenuhi,” jelasnya.

“Berdasarkan informasi yang Saya peroleh di Malaysia,  selama ini sudah mampu mengembangkan produk sawitnya lebih dari 3000 macam produk, tidak hanya berupa produk makanan, tapi untuk keperluan lain yang lebih luas, misalnya untuk pembuatan kosmetik hingga menjadi bahan bakar kendaraan bermotor pengganti bensin (premium),” ujar Awang Faroek.

Sementara itu, untuk mendukung klaster industria berbasis pertanian dan oleo chemical, maka dukungan infrastruktur sebagai pendukung utama harus dibangun terlebih dahulu. Untuk sebuah, klaster, sebaiknya dibangun industri hulu dan hilirnya. Sehingga, ketika harga CPO dunia jatuh, maka CPO dapat diolah menjadi barang-barang turunan lainnya yang juga mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga pengusaha dan petani tetap dapat memanen buah sawitnya. (vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.