Dimulai, Pembangunan Gedung Terminal Bandara Samarinda Baru

July 3, 2012 by  
Filed under Samarinda

SAMARINDA – vivaborneo.com, Pembangunan Tahap II dan Tahap III atau pembangunan gedung terminal dan bangunan penunjang sisi darat Bandara Samarinda Baru (BSB) segera dimulai. Mulainya pembangunan tahap II dan Tahap III ditandai dengan Ground Breaking atau peletakan batu pertama yang dilakukan Gubernur Kaltim, H Awang Faroek Ishak dengan menekan tombol sirine dan meninjau lokasi didampingi Staf Ahli Menteri Perhubungan RI, Santoso Adi Wibowo, Wakil Gubernur Kaltim, H Farid Wadjdy, Wakil Walikota Samarinda, H Nusyirwan Ismail dan Wakajati Kaltim Agus Riswanto, di lokasi pembangunan BSB, Sungai Siring, Samarinda, Senin (2/7).

Awang Faroek mengaku bersyukur dengan pelaksanaan ground breaking pengerjaan pembangunan tahap II dan tahap III sisi darat BSB. Hal tersebut dinilainya menjadi bukti keseriusan Pemprov Kaltim dalam membangun infrastruktur pendukung sebagai upaya melakukan percepatan pembangunan daerah.

“Ground breaking ini setidaknya menjadi bukti bahwa progres pengerjaan BSB tidak jalan ditempat. Ini menjadi tanda dimulainya pengerjaan pembangunan tahap II dan tahap III sisi darat BSB. Itu artinya sudah tidak ada masalah lagi, sehingga hanya tinggal menunggu pembangunan sisi udaranya,” kata Faroek.

Seperti diketahui, pembangunan tahap I meliputi pembentukan lahan (land development) dan bangunan khusus seperti jalan dan drainase. Tahap II pembangunan gedung terminal seluas 12.700 m2, lahan parkir 10.000 m2, fasilitas taksi dan bus, dan gerbang masuk (tol gate). Sedang pembangunan tahap III berupa gedung penunjang seperti hanggar, cargo, dan rumah dinas.

Menurut Faroek untuk pembangunan sisi udaranya pun yang dalam hal ini pembangunan runway atau landasan pacu sepanjang 2.500 meter dan lebar 60 meter serta pembangunan appron atau tempat parkir pesawat terbang seluas 575 m x 100 m juga sudah tidak masalah. Karena menurut dia, sudah masuk tahapan penyelesaian perhitungan teknis dengan investor, yakni PT Bakrie Capital Indonesia (BCI). Sehingga begitu perhitungan dimaksut selesai, ground breaking untuk pembangunan sisi udaranya sudah bisa dilakukan.

Dikatakan, masyarakat Kaltim sejak lama merindukan adanya bandara yang memadai di ibukota provinsi kaltim. Oleh karenanya, dalam reaintra pembangunan infrastruktur baik yang masuk dalam RPJMD Kaltim 2009-2013 maupun MP3EI,  sepakat mendukung pembangunan BSB.

Terlebih dengan kondisi luas wilayah Kaltim yang satu setengah kali Pulau Jawa plus Madura, tentu dianggap sangat tidak efisien jika menggunakan transfortasi darat maupun air, melainkan sangat efisien jika menggunakan trasfortasi udara.

“Sebab Jawa dan Madura yang luas wilayahnya dibawah Kaltim saja memerlukan banyak bandara. Apalagi Kaltim yang luas wilayahnya satu setengah kali pulau jawa plus madura, tentu sudah dapat dibayangkan berapa banyak Bandara yang dibutuhkan untuk menjangkau seluruh wilayah di Kaltim,” sebutnya.

Karenanya, pihaknya mengaku sangat berterimakasih kepada Bupati/Walikota yang secara sadar mengembangkan Bandara di daerahnya masing-masing. Hal tersebut, menurutnya sesuai dengan keinginannya membangun jembatan udara dalam kaitan memudahkan akses dari dan menuju berbagai daerah di Kaltim.

Ketika ditanya alasan komitmennya dalam membangun BSB, pihaknya mengaku hal tersebut selain karena Samarinda sebagai ibukota provinsi yang notabene pusat administrasi pemerintahan serta perdangan dan jasa, juga karena penerbangan Bandara Sepinggan Balikpapan sudah terlampau sibuk, bahkan penerbangan tersibuk keempat di Indonesia setelah Cengkareng, Bali dan Juanda. Dalam hal ini mencapai 7,5 juta penumpang pertahun dan diprediksi empat tahun kedepan meningkat menjadi 10 juta penumpang pertahun.

Sementara Santoso Adi Wibowo menyatakan, Kemenhub sangat mendukung pembangunan BSB sebagai pengganti Bandara Temindung Samarinda. Sebabg pembangunan sarana dan prasarana dianggap sangat tepat untuk mendukung kesuksesan pelaksanan koridor ekonomi. Mengingat, Kaltim ditetapkan sebagai salah satu koridor ekonomi nasional untuk koridor Kalimantan.

“Harapannya tentu dengan adanya BSB mampu memperlancar arus transfortasi orang dan barang. Terlabih kebanyakan orang lebih memilih penerbangan sebagai model trasfortasi pilihan dalam kaitan efisiensi yang terlihat dari padatnya jumlah penerbangan. Nah BSB hadir tuk antisipasi semaki meningkatnya penerbagana masa mendatang.”

Karenanya, pihaknya menaruh harapan besar agar ground breaking ini menjadi momentum bangkitnya penerbangan di Kaltim. Untuk itu, Pemda diharap mengawal pembentukan tata ruang agar tidak terjadi seperti halnya di Bandara Temindung, dimana banyak pemukiman dan bangunan tinggi sehingga menghambat pengembangan Bandara.

“Yang tidak kalah pentingnya semoga pembangunannya cepat selsai, sehingga Bandara Temindung bisa segera pindak ke BSB agar ibu kota provinsi punya bandara bertaraf internasional seperyi ibokota provinsi lainnya. Dengan demikian diharpkan dapat memberi dampak postif bagi dunia penerbangan nasional bahkan internasional,” tukasnya.

Sementar H Zairin Zain mengatakan, ground breaking tahap II dan tahap III dilakukan bersamaan tuk mengejar percepatan pembangunan sisi daratnya. Jadi serentak selesai secara bersamaan. “Harapan kita akhir Desember 2012 bisa mencapai 40 – 50 persen. 2013 diselesaikan,” katanya.

Sedang terkait pembangunan sisi udaranya, kata dia, masih menunggu proses perhitungan teknis dengan PT BCI sambil tetap melakukan pengerjaan. Karena seperti diketahui kerjasama dengan PT BCI masih harus menyelesaikan adminstrasi.
Sementara terkait lahan pemanfaatan eks Bandara Temindung, pihaknya menyebut menjadi kewenangan Kota untuk mengatur pemanfaataanya. “Yang jelas ketika pembangunan sisi udarnya sudah 1600 M, seluruh peralatan di Badara Temindung sudah dipindahkan ke BSB,” tandasnya. (vb/arf)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.