Desa Mandiri Energi Berbasis Kotoran Hewan

January 1, 2010 by admin  
Filed under Ekonomi & Bisnis

SAMARINDA -  vivaborneo.com – Dinas Peternakan (Disnak) Kaltim terus mendorong berdirinya Desa-desa Mandiri Energi berbasis Kotoran Hewan  (Kohe) dengan memanfaatkan bio gas di seluruh Kaltim sebagai bentuk hasil sampingan dari usaha memelihara ternak khususnya sapi. Demikian disampaikan Kepala Dinas Peternakan Kaltim Ir. H Ibrahim, MAP  Rabu (30/12).Menurut Ibrahim, sebagian besar peternak sapi berdomisili di pedesaan, sehingga pengembangan biogas di pedesaan dengan memanfaatan kotoran ternak segar lebih tepat sasaran untuk mewujudkan Desa Mandiri Energi.  Kotorsan hewan yang dapat dimanfaatkan antara lain kotoran hewan ternak sapi, kerbau, babi, kambing ayam dan itik.

“Kotoran hewan ini mudah didapat di pedesaan dan dapat dimanfaatkan menjadi  biogas sebagai solusi penerangan bagi desa-desa yang kesulitan mendapatkan pasokan listrik,  disamping itu kegiatan ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan peternak ,” ujarnya.

Bio gas adalah salah satu bentuk proses fermentasi kotoran hewan untuk mengahsilkan gas metana (CH4) yang mudah terbakar untuk menghidupkan kompor gas bahkan dapat menjalankan generator listrik sebagai sumber  alternatif  pengganti bahan bakar minyak tanah dan  bahan bakar gas.

“Biogas sangat tepat  dimanfaatkan oleh peternak  yang memelihara sapi antara 3-5 ekor, karena satu ekor sapi dapat menghasilkan kotoran segar sebanyak 10 kg sehingga kebutuhan energi  dalam satu hari dapat dipenuhi,” jelasnya.

Ketika ditanya apakah pemanfaatan energi bio gas berbahan baku kotoran hewan ini tehnologinya mudah diserap oleh masyarakat pedesaan, Ibrahim mengatakan bahwa tehnologinya sangat sederhana dan mudah dibuat oleh siapapun termasuk peternak di pedesaan.

“Biaya pembuatan instalasi penampung kotorannya  relatif  murah berkisar Rp. 4-5 juta dan sangat sederhana pembuatan dan pengoperasiannya sehingga sangat tepat dioperasikan masyarakat pedesaan,” ujarnya.

Berdasarkan pengalaman, instalasi biogas berbentuk kubahyang terbuat dari beton sering mengalami kebocoran karena retak, sehingga penggunaan instlasi biogas berbentuk floating (bejana) atau sistem digester yang terbuat dari bahan plastik atau fiber lebih kuat.(vb-01)

Baca juga :

  • Kaltim Canangkan Gerakan Pencinta Lalulintas
  • Penggunaan Trawl Dilegalkan di Perbatasan Utara Kaltim
  • Majlis Taklim Penting Membangun Mental Masyarakat
  • Posyandu Samarinda Ilir Terima Bantuan Pembinaan
  • Dinsos Kaltim Prioritaskan Pengentasan Kemiskinan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

online counter