Bogor dalam Sepiring Kenangan, Jejak Rasa Sunda di Kota Hujan

February 5, 2026 by  
Filed under Wisata

Bogor – Bogor kerap dikenang sebagai kota hujan, kota dengan udara sejuk dan ritme hidup yang cenderung pelan. Namun bagi banyak orang, Bogor juga hidup dalam sepiring makanan. Di balik kabut dan rintik hujan, jejak rasa Sunda bertahan sebagai bagian dari ingatan kolektif warganya.

Kuliner khas Sunda di Bogor tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan alam. Bahan-bahan segar seperti sayuran, ikan air tawar, dan hasil kebun menjadi fondasi utama. Olahannya sederhana, tidak berlebihan bumbu, namun kuat dalam rasa. Dari situlah muncul hidangan-hidangan yang tak hanya mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan rasa pulang.

Menu seperti nasi timbel, pepes ikan, sayur asem, hingga sambal dadak menjadi wajah keseharian kuliner Bogor. Lalapan segar hampir selalu hadir, menegaskan kebiasaan masyarakat Sunda yang akrab dengan alam dan kesegaran bahan pangan. Cara makannya pun sering kali bersifat komunal, dimakan bersama dalam suasana santai.

Bagi Intan, perempuan Sunda yang kerap singgah di Bogor, makanan-makanan tersebut menyimpan kenangan personal.

“Kalau makan makanan Sunda di Bogor, rasanya beda. Ada suasana yang ikut yang tidak bisa dijelaskan,” ujarnya. Menurut Intan, hujan dan udara sejuk membuat pengalaman makan menjadi lebih bermakna. “Sederhana, tapi bikin tenang,” katanya.

Ia menilai kuliner Sunda di Bogor tidak bisa dilepaskan dari suasana kotanya. “Bogor itu pelan. Makanannya juga ngajarin kita buat nggak buru-buru,” ucapnya. Intan menyebut, banyak kenangan tentang obrolan panjang, tawa, dan kebersamaan yang tercipta justru saat duduk mengelilingi satu meja makan sederhana.

Selain makanan utama, Bogor juga dikenal dengan jajanan khas yang melekat dalam ingatan banyak orang. Asinan Bogor dengan rasa segar-asam, talas olahan, hingga berbagai kudapan berbahan singkong menjadi bagian dari perjalanan rasa kota ini. Jajanan tersebut kerap dijumpai di sudut-sudut kota, pasar tradisional, hingga pinggir jalan.

Fakta menariknya, kuliner Sunda di Bogor tidak hanya bertahan sebagai tradisi lama, tetapi juga terus beradaptasi. Banyak warung dan rumah makan yang tetap mempertahankan resep turun-temurun, meski berada di tengah kota yang terus berkembang. Di sanalah identitas rasa dijaga, meski zaman berubah. (*)

Dispar Kaltim Hadirkan Wadah Ekspresi dan Kolaborasi Anak Muda

January 25, 2026 by  
Filed under Wisata

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik

SAMARINDA – Upaya mendorong kreativitas dan kolaborasi generasi muda terus diperkuat Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur melalui gelaran Ruang Akhir Pekan, sebuah ruang ekspresi lintas komunitas yang berlangsung selama tiga hari, 23–25 Januari 2026, di Temindung Creative Hub, kawasan Bandara Temindung, Kecamatan Sungai Pinang. Kegiatan ini dibuka, Jumat (23/1/26) malam.

Ruang Akhir Pekan dirancang sebagai ajang kolaborasi lintas komunitas dengan memadukan unsur tradisional, modern, dan seni kontemporer. Beragam aktivitas disuguhkan, mulai dari kompetisi gim Mobile Legends, pemutaran film, pertunjukan tari kontemporer, bazar tematik, lomba mewarnai, hingga penampilan musik, baca puisi, gelar wicara, senam zumba, line dance, dan monolog.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kaltim, Awang Khalik, menjelaskan, kegiatan ini diinisiasi sebagai ruang berkelanjutan bagi para pelaku ekonomi kreatif, khususnya komunitas seni dan anak muda.

“Sebenarnya Ruang Akhir Pekan ini kita inisiasi untuk teman-teman pelaku ekonomi kreatif. Waktu akhir tahun kemarin kami berkumpul dengan komunitas ‘Seraung’, yang isinya lintas sektor, mulai dari seni pertunjukan, film, musik, game developer, wastra, hingga kriya. Harapannya, setiap bulan kegiatan mereka tidak terputus,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Dispar Kaltim memberikan ruang seluas-luasnya kepada komunitas agar berkegiatan, termasuk dukungan fasilitas tanpa pungutan biaya, namun tetap melalui proses kurasi. Pada hari pembukaan, agenda difokuskan pada seni pertunjukan dan pemutaran film yang melibatkan sejumlah komunitas dan seniman lokal.

“Ini ruang apresiasi untuk mereka. Audiens yang kita bidik memang anak-anak muda, pelajar SMA, SMK, hingga mahasiswa. Harapannya, mereka tidak hanya berkumpul, tapi berdiskusi, berproses, lalu melahirkan karya dan produksi baru,” jelasnya.

Menurutnya, Ruang Akhir Pekan juga dirancang sebagai wadah penguatan jejaring dan inkubasi ide kreatif. Para pelaku yang sudah mapan diharapkan dapat berbagi pengalaman dengan komunitas yang masih berkembang, termasuk membuka peluang pasar yang lebih luas.

“Ke depan, karya-karya ini diharapkan punya kualitas dan nilai ekonomi. Dari hobi bisa menghasilkan cuan. Ini salah satu ruangnya,” tambahnya.

Ia menegaskan, Ruang Akhir Pekan akan menjadi agenda rutin yang digelar setiap bulan. Bahkan, pada Februari hingga Maret mendatang, Dispar Kaltim berencana menghadirkan Pasar Raya Kreatif Ramadan yang juga melibatkan komunitas ekonomi kreatif di Kalimantan Timur.

“Ini yang pertama, sebagai pembuka awal tahun. Ke depan akan terus berlanjut. Temindung Creative Hub kami dorong menjadi wahana baru untuk transformasi karya dan produksi kreatif anak-anak muda Kaltim,” pungkasnya. (yud)

Rahasia Desa Penglipuran, “Desa Terbersih di Dunia”

December 9, 2025 by  
Filed under Wisata

Desa Penglipuran

Bangli, Bali — Terletak di Kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli, Desa Penglipuran sudah lama dikenal bukan hanya karena keindahan arsitektur dan budayanya, tetapi juga konsistensi dalam menjaga kebersihan lingkungan. Berkat komitmen tersebut, desa adat ini sejak 2016 diganjar predikat sebagai salah satu “desa terbersih di dunia”.

Predikat itu diperoleh atas evaluasi dari Green Destinations Foundation, Desa Penglipuran menduduki peringkat ketiga di dunia, di belakang desa di India dan Belanda.

Keberhasilan menjaga kebersihan di Desa Penglipuran bukan hasil dari kesiapan mendadak saat turis datang, melainkan buah dari sistem pengelolaan sampah yang dijalankan secara rutin dan terstruktur.

Pemisahan dari asal (rumah tangga): Setiap keluarga di desa memilah sampah mereka menjadi tiga kategori: sampah organik, sampah plastik/kertas (anorganik), dan residu/limbah lain.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos. Sampah organik, seperti daun bambu, sisa tanaman, dan limbah organik rumah tangga dikumpulkan dan diolah di area kebun bunga dekat pintu masuk desa. Hasilnya digunakan sebagai pupuk kompos.

Bank sampah untuk sampah anorganik: Sampah plastik, botol, kertas, dan sejenisnya dikumpulkan oleh warga, terutama ibu-ibu (PKK), dan dijual ke bank sampah. Pemasukan dari penjualan ini masuk ke kas komunitas, lalu dimanfaatkan untuk kegiatan bersama, termasuk keagamaan.

Penanganan limbah yang tidak bisa didaur ulang: Untuk sisa sampah atau limbah non-kompos/anorganik yang tidak bisa dikelola secara internal, desa bekerja sama dengan pemerintah daerah (dinas lingkungan hidup) untuk diangkut ke TPA.

Penempatan tong atau tempat sampah di area strategis dan budaya gotong royong di sepanjang gang dan area publik, tersedia tempat sampah; setiap ± 30 meter ada fasilitas pembuangan sehingga mudah dijangkau. Selain itu, warga secara rutin gotong-royong dalam kegiatan kebersihan desa.

Sistem penataan ruang dan aktivitas sehari-hari di desa mengikuti filosofi tradisional Bali, yaitu Tri Mandala dan Tri Hita Karana, harmoni antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas. Keharmonisan ini mendorong warga untuk menjaga lingkungan secara kolektif.

Dengan demikian, dari rumah ke pemukiman, lalu ke fasilitas pengolahan internal atau bank sampah, hingga koordinasi dengan pemerintah, sampah di Desa Penglipuran dikelola secara komprehensif. Sistem ini bukan temporer, melainkan bagian dari gaya hidup warga desa.

Desa Penglipuran bukan destinasi wisata “instan”. Sejarahnya panjang, dan tradisi leluhur tetap dijaga. Desa ini berada di ketinggian, sekitar 600 meter di atas permukaan laut, dikelilingi hutan bambu, ladang, dan sungai. Wilayahnya terbagi sesuai konsep Tri Mandala, zonasi suci, permukiman, dan area kuburan/area kurang suci.

Sejak lama, masyarakat Penglipuran menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan sebagai bagian dari tradisi. Ketika pada 1993 pemerintah mempromosikan desa ini sebagai desa wisata, komunitas menetapkan model pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism), sehingga manfaat ekonomi dari wisata dibagi kolektif, bukan individu semata.

Pada 1995, desa mendapatkan penghargaan Kalpataru atas pelestarian hutan bambu lokal, menunjukkan pelestarian lingkungan sudah menjadi bagian dari identitas desa jauh sebelum pariwisata berkembang.

Saat ini, pariwisata di Penglipuran terus berkembang, namun tetap dibarengi dengan semangat menjaga lingkungan dan tradisi, sehingga wisata dan kelestarian dapat berjalan beriringan.

Hal ini dirasakan oleh wisatawan yang berkunjung ke Desa Panglipuran, ia takjub dengan pemandangan yang tidak ada sampah didalamnya.

“Saat saya masuk ke gang-gang desa, saya tak melihat satu pun sampah berserakan. Rumah, jalan, pekarangan, semuanya rapi dan bersih,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan, tradisi dan budaya bisa menjadi fondasi kuat bagi lingkungan yang bersih dan lestari. Saat norma adat dan filosofi lokal (seperti Tri Hita Karana) dijalankan, menjaga lingkungan jadi bagian dari identitas. (intan)

Desa Wisata Jadi Garda Depan Promosi Pariwisata Kaltim

December 8, 2025 by  
Filed under Wisata

SAMARINDA – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Timur, Awang Jumri, menegaskan, pembangunan Desa Wisata merupakan strategi utama agar memperkuat wajah pariwisata daerah. Menurutnya, desa menjadi representasi paling otentik dari budaya, alam, dan kehidupan masyarakat lokal yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan.

“Desa Wisata itu sebenarnya mengembangkan potensi. Hal-hal yang sifatnya organik dan alami justru harus menjadi publisitas kita ke luar. Karena orang luar tidak tahu budaya kita seperti apa,” jelas Awang, Senin (8/12/25).

Ia menekankan, segala unsur budaya mulai dari ritual, kuliner, seni, hingga kehidupan sosial masyarakat tampak paling kuat di desa. Karena itu, pengembangan desa menjadi destinasi wisata dianggap sebagai langkah tepat untuk memperbanyak ragam daya tarik wisata yang benar-benar mencerminkan identitas Kaltim.

Awang menyebutkan, saat ini pengembangan Desa Wisata tidak hanya berfokus pada destinasi atau atraksinya, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Masyarakat desa didorong agar siap menerima kunjungan wisatawan, memahami perannya sebagai pemandu lokal, dan mampu mengelola atraksi serta fasilitas yang ada.

“SDM desa harus siap untuk berpromosi dan mengembangkan diri. Baik dari sisi pemanduan, amenitas, kelengkapan destinasi, sampai ansilari dan kelembagaannya,” katanya.

Ia menilai, penguatan kelembagaan merupakan fondasi penting agar Desa Wisata tidak tumbuh secara sporadis, tetapi memiliki struktur yang jelas dan berkelanjutan. Dinas Pariwisata dikenal sangat getol mendorong lahirnya Desa Wisata di berbagai kabupaten/kota sebagai bentuk peran aktif pemerintah pada pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.

Dirinya memastikan, semakin banyak desa yang siap menjadi destinasi, semakin besar peluang Kaltim memunculkan daya tarik baru yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Peran desa sangat kompleks dalam membangun wisata. Justru dari desa itulah wisata kita bisa tumbuh kuat dan berkarakter,” ujarnya. (yud)

Akses Jadi Hambatan Utama Pariwisata Kaltim

December 8, 2025 by  
Filed under Wisata

SAMARINDA – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Timur, Awang Jumri, menegaskan, persoalan utama yang menghambat perkembangan pariwisata daerah bukan terletak pada daya tarik alam atau kekayaan budaya, melainkan buruknya akses menuju destinasi. Menurutnya, aspek aksesibilitas merupakan elemen paling krusial dari konsep 6A yang menjadi acuan pengembangan pariwisata nasional.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Timur, Awang Jumri

“Daya tarik kita tidak kalah dengan luar daerah. Kita punya orang utan, pesut Mahakam, pantai, sungai, budaya yang kaya. Tapi yang membuat wisatawan ragu datang adalah akses,” tegas Awang, Senin (8/12/25).

Ia mencontohkan, perjalanan menuju Tenggarong yang mencapai hampir tiga jam sudah cukup membuat wisatawan mengurungkan niat. Padahal wilayah tersebut memiliki potensi wisata besar, mulai dari budaya Kutai hingga objek alam di sekitarnya.

Awang menilai, penyelesaian persoalan akses harus dilakukan melalui kolaborasi lintas instansi. Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, hingga Dinas PUPR dinilainya wajib duduk bersama agar memastikan jalur menuju destinasi wisata diperbaiki secara bertahap.

“Jalur yang dilalui wisatawan itu semestinya jadi prioritas. Tapi kadang jalan tersebut bukan kewenangan daerah, melainkan pusat. Ini juga sering jadi kendala,” jelasnya.

Ia menyebutkan, wisatawan datang ke Kaltim biasanya dengan tiga motivasi utama, nature, culture, dan manmade. Ketiganya, kata Awang, justru merupakan kekuatan yang sangat kaya di Kaltim. Mulai dari Sungai Mahakam, endemik orang utan dan pesut, budaya Kutai, Paser, Dayak, hingga destinasi buatan seperti MLG dan sejumlah waterboom.

Meski demikian, wisatawan mancanegara umumnya memiliki minat khusus yang berfokus pada keunikan alam. Oleh karena itu, ia menegaskan, memperbaiki akses menuju titik-titik wisata alam harus menjadi prioritas agar potensi besar tersebut tidak sia-sia.

“Kita punya semuanya. Yang kurang itu hanya memastikan orang bisa menuju ke sana dengan nyaman,” pungkasnya. (yud)

« Previous PageNext Page »

  • vb