Menggugat Efektivitas Layanan Hotline 112 di Indonesia

May 29, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Layanan Hotlline 112 adalah layanan nomor tunggal panggilan darurat nasional di Indonesia. Konsepnya mirip 911 di Amerika Serikat (AS), atau 999 di United Kingdom (UK). Layanan Hotline 112 merupakan satu nomor yang terintegrasi dengan nomor layanan 110 (kepolisian), 119 (ambulans), dan nomor layanan123 (PLN), serta berbagai nomor layanan yang lainnya.

Layanan Hotline 112 di Indonesia sebenarnya sudah cukup lama disediakan, yaitu sejak tahun 2016, berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) Nomor 10 Tahun 2016 tentang Layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat.

Tujuan layanan hotline 112 adalah untuk memudahkan masyarakat melakukan pelaporan kondisi darurat, dengan hanya menghafal 1 (satu) nomor panggilan darurat. Selain itu, juga dimaksudkan untuk mempercepat penanganan Organisasi Perangkat Daerah yang terkait, serta pengurangan resiko bencana.

Sayangnya pertumbuhan layanan hotline 112 setelah kurang lebih 10 tahun masih belum menggembirakan. Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) pada Tahun 2026, dari total 514 kabupaten/kota se Indonesia, baru 198 kabupaten/kota yang tercatat menggunakan layanan hotline 112. Itu artinya baru 38,52 persen Kabupaten Kota yang sudah masuk tahapan kesiapan.

Melihat data  layanan hotline 112 yang belum maksimal, maka Pusat Pembelajaran Strategi Kebijakan Pelayanan Publik (Pusjar SKPP) Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia, mencoba menginisiasi melakukan survey selama kurang lebih 2 bulan, yaitu sejak Februari hingga April 2026.

Hasil survey tersebut dipaparkan secara daring dengan tajuk “Ekspose Policy Paper Analisis Kebijakan Optimalisasi Layanan Hotline Kedaruratan 112 di Indonesia”. Ekspose laporan hasil survey disampaikan oleh Rustan Amrullah, Analis Kebijakan Ahli Madya dari Pusjar SKPP LAN-RI (26/5).

Survey dilakukan pada 2 wilayah yang berbeda. Untuk wilayah yang sudah terintegrasi layanan hotline 112 pada 5 kabupaten/kota. Yakni Samarinda, Bekasi, Balikpapan, Lamandau dan Kota Tomohon. Melibatkan 468 responden. Terdiri atas  responden yang mewakili Pemerintah sebanyak 221 responden. Sedangkan responden dari kalangan masyarakat, sebanyak 227 responden.

Adapun survei untuk wilayah yang belum terintegrasi layanan hotline 112, meliputi wilayah Katingan, Boven Digoel, Tual, Kutai Barat, dan Tanjung Pinang. Melibatkan 165 responden. Terdiri atas responden yang mewakili sektor Pemerintah 106 reponden.  Sedangkan responden dari kalangan masyarakat sebanyak 59 responden.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Pusjar SKPP LAN-RI, nomor darurat yang paling dikenal oleh responden masyarakat-terintegrasi, diperoleh data sebagai berikut: (1) 112 ( Darurat Tuggal Nasional) 21 persen; (2) 123 (PLN) 15 persen; (3) 110 (Kepolisian) 15 persen; (4) 119 (ambulans) 14 persen; (5) 113 (pemadam kebakaran) 13 persen; (6) 115 (SAR) 7 persen; (7) 117 (BNPB) 7 persen; (8) BPJS 4 persen; dan (9) PMI 4 persen.

Sedangkan berdasarkan hasil survei, nomor darurat yang paling dikenal oleh responden masyarakat-yang belum terintegrasi, diperoleh data sebagai berikut: (1) 119 ( ambulans) 34 persen; (2) 123 (PLN) 25 persen; (3) 110 (Kepolisian) 19 persen. Nomor layanan Hotline 112 justru sama sekali tidak muncul sebagai nomor yang paling diketahui masyarakat.

Ekspos menghadirkan Deputi Peningkatan Kualitas Kebijakan LAN-RI, Agus Sudrajat, sebagai Keynote Speech. Ia menegaskan bahwa kebijakan publik di era modern tidak dapat lagi disusun hanya berdasarkan asumsi atau pendekatan administratif semata. Lebih lanjut, Agus Sudratajat menekankan bahwa kebijakan harus dibangun melalui proses analisis yang kuat berbasis data, partisipatif, adaptif, serta mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.

“Penyusunan policy paper menjadi sangat penting karena tantangan pembangunan saat ini semakin komplek dan membutuhkan kebijakan yang implementatif serta responsif terhadap dinamika masyarakat dan perkembangan teknologi”, pungkas Agus Sudrajat.

Sementara itu, Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Mulyadi, dalam makalahnya yang berjudul “Implementasi Panggilan Darurat 112”, mengatakan bahwa banyak manfaat dari Layanan Hotline 112. Pertama, mempermudah askses masyarakat, karena nomor darurat tunggal nasional mudah diingat. Dapat diakses secara gratis selama 24 jam, dan bisa dihubungi tanpa pulsa dan saat ponsel terkunci.

Kedua, lanjut Mulyadi, respon penanganan lebih cepat. Laporan masyarakat diteruskan secara real time kepada instansi terkait, serta mempercepat penanganan kejadian darurat dan kebencanaan. Ketiga, koordinasi lintas instansi lebih terpadu. Keempat, meningkatkan rasa aman masyarakat. Kelima, mendorong transformasi pelayanan publik, serta Keenam, cakupan layanan semakin luas dan terus berkembang di berbagai daerah.

Di sisi lain, Kepala Pusjar SKPP LAN-RI, Rahmat, saat memberikan sambutan pengantar melaporkan bahwa kegiatan ekspose policy paper Efektifitas Layanan Hotline Kedaruratan 112 di Indonesia diikuti tidak kurang dari 500 orang peserta, baik dari Kementerian, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota dari seluruh Indonesia.

Rahmat berharap hasil kajian ini dapat mendukung agenda reformasi birokrasi, digital government, smart city, serta peningkatan kualitas pelayanan publik yang cepat, terintegrasi, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat. (*)

Lapas Bontang Geledah Blok Hunian

May 26, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Bontang – Lapas Kelas IIA Bontang menggelar penggeledahan mendadak seluruh blok hunian warga binaan, pada Senin (25/5/2026).

Razia ini sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban (kamtib) di lingkungan lapas.

Langkah ini bentuk komitmen jajaran Lapas dalam menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif, sekaligus upaya nyata memberantas peredaran barang-barang terlarang. Razia ini dipimpin Kepala Lapas Bontang Suranto, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Arif Afandi .Bahkan diikuti Polri dan TNI.

Kolaborasi bersama aparat Penegak Hukum (APH) tersebut menjadi wujud penguatan pengawasan sekaligus komitmen bersama dalam menjaga stabilitas keamanan di lingkungan pemasyarakatan.

Suranto mengatakan, langkah ini dilakukan sebagai bentuk deteksi dini sekaligus komitmen Lapas Bontang dalam mendukung upaya pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di lingkungan pemasyarakatan.

Tak heran, melalui kegiatan ini kewaspadaan terhadap barang terlarang dapat teratasi. Dengan begitusituasi keamanan dan ketertiban di Bontang tetap terjaga dengan baik serta semakin memperkuat sinergi antar aparat penegak hukum dalam mewujudkan pemasyarakatan yang bersih dari narkoba dan bebas dari gangguan kamtib.

“Sesuai arahan Kanwil kita gelar rajia mendadak. Dan ini juga sering dilakukan secara internal dalam deteksi dini. Terbukti semua zero ponsel, narkona dan penipuan, “tutupnya. (*)

Yayasan Harum Center Bantu Bedah Rumah Warga

May 22, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA –  Nama Maria Mercedes menjadi nama populer dan menjadi perhatian publik usai viral di media sosial karena ikut dalam aksi demonstrasi di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Perhatian diberikan Organisasi Baladika Mulawarman bersama Ketua PKK Kalimantan Timur, Syarifah Suraidah. Kepedulian diberikan melalui program bedah rumah untuk Maria yang selama ini tinggal di rumah tak layak huni. Hal tersebut dilakukan Syarifah Suraidah saat berkunjung ke rumah Maria di Gang Masjid, Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda, Jumat (22/5/2026).

Pada kunjungan tersebur Syarifah melihat kondisi rumah Maria yang dinilai memprihatinkan dan membutuhkan perbaikan. Sebagai bentuk kepedulian, Yayasan Harum Center yang didirikan oleh Syarifah Suraidah memberikan bantuan bedah rumah agar rumahnya menjadi lebih layak huni.

Kehadiran Syarifah disambut hangat oleh Maria dan warga sekitar. Momen tersebut pun ramai dibagikan di media sosial dan menuai beragam respons dari masyarakat. Banyak warga menilai bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial tanpa melihat latar belakang maupun perbedaan pandangan politik.

Bantuan bedah rumah dari Yayasan Harum Center diharapkan dapat membantu meringankan beban Maria sekaligus memperbaiki kualitas tempat tinggalnya agar lebih nyaman dan aman ditempati.

Tak hanya memperbaiki bangunan rumah, bantuan juga mencakup penggantian sejumlah perabot rumah tangga yang sudah rusak dan tidak layak pakai. Kasur, meja, bantal, hingga guling disiapkan untuk menunjang kebutuhan Maria setelah renovasi selesai dilakukan. (*)

The Oracle of Usadha Menjawab Pertanyaan yang Selama Ini Tak Berani Ditanyakan Generasi Muda Bali tentang Tradisi Leluhurnya

May 22, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

DENPASAR — Ada sesuatu yang tidak biasa di Ruang Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Senin sore itu. Di ruangan yang biasanya diisi rapat-rapat kebijakan dan seremoni pemerintahan, hari itu yang duduk berdampingan adalah seorang rohaniwan senior, dua orang profesor sains, dan seorang dokter muda yang tumbuh besar dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan kepada leluhurnya.

Yang menyatukan mereka adalah sebuah buku. The Oracle of Usadha — karya Dr. dr. I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa, M.Fis, yang lebih akrab disapa dokter Ngurah — adalah buku yang lahir dari kegelisahan. Bukan kegelisahan yang melumpuhkan, melainkan kegelisahan yang mendorong seseorang masuk ke laboratorium dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika orang Bali melukat, meditasi, atau menjalani ritual pebayuhan?

Forum bedah buku yang dihadiri akademisi, pejabat Dinas Kesehatan, dekan-dekan Fakultas Kedokteran, dan para direktur rumah sakit se-Bali itu terasa lebih seperti reuni intelektual antargenerasi. Di kursi-kursi yang melingkar rapi, hadir pula tokoh-tokoh: Ida Dalem Semaraputra dari Puri Klungkung, A.A. Bagus Djelantik dari Puri Ageng Karangasem, dr. Anak Agung Martha Sp.OG dari Puri Nyalian, tokoh nasional Dr. I Gede Subawa, M.Kes., AAK — mantan Direktur Askes sekaligus Komisaris RS Wisma Prasanti Tabanan — serta dr. Wayan Mustika sebagai Komisaris Independen PT Varash Sadan Nusantara. Wajah-wajah yang selama ini memimpin kebijakan dan pelayanan kesehatan Bali, kini duduk sebagai pendengar yang penasaran.

Pembedah pertama, Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, membuka diskusi bukan dengan teori — melainkan dengan pengakuan.

“Dalam berbagai teks Usadha, kemampuan menyembuhkan diri sendiri itu memang ada,” katanya, suaranya tenang dan berwibawa. “Saya sendiri pernah membuktikannya. Saat jatuh dari ketinggian tujuh meter, tulang servikal saya patah dan saya lumpuh. Saya masih menggunakan aksara sebagai media penyembuhan.”

Ruangan hening sesaat. Bukan hening yang canggung — melainkan hening yang penuh.
Inilah yang membuat forum ini berbeda dari seminar akademis biasa: ia tidak dimulai dari data, tetapi dari pengalaman. Pengalaman seorang tokoh spiritual yang telah menghabiskan hidupnya menekuni teks-teks Usadha, dan yang kini berdiri di depan para dokter dan profesor untuk berkata: ini bukan sekadar ritual, ini bekerja.

“Kita Tidak Mau Menerima ‘Nak Mula Keto'”

Dokter Ngurah, penulis buku sekaligus akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Mahasaraswati Denpasar, menjelaskan dari mana buku ini berasal.

“Kita sebagai milenial tidak mau menerima budaya nak mula keto,” ujarnya usai acara, dengan nada yang campuran antara humor dan kesungguhan. “Jadi kami mencoba mencari dasar ilmiah dari apa yang sudah dilakukan leluhur kita.”

Akademisi sekaligus praktisi ini menggambarkan perjalanan intelektualnya bukan sebagai penolakan terhadap tradisi, melainkan sebagai bentuk penghormatan yang lebih dalam. Jika leluhur sudah tahu sesuatu bekerja, maka generasi ini bertugas menjelaskan mengapa ia bekerja.
Dan penjelasan itu, kata dokter Ngurah, kini mulai tersedia.

“Dengan majunya penelitian di bidang biomedik, kita menemukan titik temunya. Usadha Bali dengan kedokteran bertemu pada regenerative medicine,” jelasnya. Meditasi yang menurunkan kadar stres oksidatif. Proses melukat yang bekerja melalui modulasi sistem saraf otonom. Ritual pebayuhan yang menyentuh jalur epigenetik. Semua, katanya, kini mulai dapat buktikan secara kuantitatif di laboratorium.

Dua pembedah berikutnya membawa substansi buku ke dalam percakapan saintifik yang lebih dalam.
Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes, menilai buku ini berhasil melakukan sesuatu yang jarang berhasil dilakukan: meletakkan fondasi yang solid bagi integrasi Usadha ke dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Bukan sebagai lampiran anekdotal pada protokol medis, melainkan sebagai kontributor utama dengan mekanisme yang dapat diverifikasi.

Prof. apt. Dr. rer. nat. I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si, membawa perspektif yang lebih luas. Bagi Prof Gelgel, The Oracle of Usadha memberikan sesuatu yang selama ini absen dalam diskusi integrasi pengobatan tradisional dan modern: peta aksiologi. Sebuah kerangka nilai yang dapat dijadikan acuan oleh para praktisi ketika mereka harus membuat keputusan di persimpangan antara Usadha dan kedokteran berbasis bukti dalam lanskap layanan medical wellness masa depan.

I.B. Ketut Kiana, tokoh masyarakat asal Sanur yang hadir sebagai peserta, merangkumnya dengan cara yang paling sederhana dan paling mengena.

“Yang dulunya hanya berdasarkan warisan dan keyakinan, sekarang dijelaskan dan dibuktikan secara ilmiah,” katanya. “Saya melihat keberanian anak muda dalam buku ini untuk mengangkat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dari dulu tersimpan mengenai kearifan lokal Bali.”

Itulah mungkin kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi di Ruang Praja Sabha hari itu. Bukan revolusi. Bukan pertentangan antara tradisi dan modernitas. Melainkan sebuah rekonsiliasi yang telah lama ditunggu — antara apa yang leluhur sudah rasakan benar, dan apa yang sains kini mulai mampu buktikan.

Dokter Ngurah menutup hari itu dengan harapan yang sederhana namun berat maknanya: “Kita berharap buku ini menjadi pemantik diskusi antargenerasi, sehingga kita sebagai orang Bali lebih mencintai Bali — dan melaksanakan budaya Bali tidak sebagai formalitas, namun lebih dalam memaknainya.”

Di luar jendela, sore Bali turun perlahan. Di dalam, diskusi masih berlanjut — sebagaimana seharusnya percakapan yang benar-benar penting: tidak mudah selesai, tidak ingin berhenti. (esf)

Tidak Kuat Menanjak, Truk Kecelakaan di Jalan Trans Kaltim

May 21, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SENDAWAR – Laka lantas terjadi di jalan Trans Kaltim, di daerah Kampung Jengan Danum, RT. 04 , Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kamis (21/5/2026).

Saksi mata yang merupakan salah satu warga Kampung Jengan Danum, Presyadi yang juga Sekretaris Desa kampung setempat mengatakan, mobil truk tersebut tidak mampu menanjak karena kelebihan muatan yang dibawa. Kondisi jalan yang terjal juga menyebabkan truk mengalami kecelakaan.

“Truk tua dengan kelebihan muatan memang sangat rawan dengan kondisi jalan yang rusak,” kata Presyadi.

Sementara itu Kanit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Polres Kutai Barat Aipda Toni mengatakan, truk Mitsubishi DA 8714 GK diakui kelebihan muatan. Truk yang membawa kasur tersebut tidak kuat menanjak dengan kondisi jalan rusak.

“Akhirnya mobil mundur dan sopirnya terjepit,” kata Toni.

Sopir Bernama Lendi berusia kurang lebih 45 tahun asal dari Jawa Tengah meninggal di tempat kejadian, sementara kernet selamat karena meloncat saat truk mundur.

Dijelaskan, muatan kasur tersebut dari Jawa Barat (Garut) dan akan dibawa ke toko yang ada Kampung Mencimai, Kecamatan Barong Tongkok, Kubar, Kaltim. Menurut keterangan, sopir tersebut baru pertama kali membawa muatan ke Kutai Barat. (arf)

« Previous PageNext Page »

  • vb