Bepelas Malam Ke 6 Diwarnai Perang Beras

July 19, 2010 by  
Filed under Erau

RITUAL adat Bepelas  digelar setiap malam (kecuali malam jumat) di ruang Setinggil Keraton atau Musium Mulawarman Tenggarong, pada pelaksanaan Erau Sabtu (17/7) malam lalu yang merupakan malam ke 6 pelaksanaan Bepelas, terlihat berbeda.Pasalnya pada Bepelas ke 6 itu, dilakukan prosesi Belimbur Beras atau saling lempar beras. Kontan saja hal tersebut mejadi daya tarik tersendiri bagi para kerabat kesultanan, Pemerintah Daerah, serta ratusan pengunjung  yang memadati halaman Keraton.

Bepelas ke 6 itu dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Kukar Rita Widyasari – HM Ghufron Yusuf, Sekda  Kukar HAPM Haryanto Bachroel, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Kerabat Kesultanan, Finalis Puteri Pariwista Indonesia 2009.

Seperti biasa, saat Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat melakukan Bepelas dan menginjak Gong  terdengar bunyi ledakan keras dari kawasan dermaga Tenggarong. Ledakan tersebut terdengar enam kali karena sesuai dengan Bepelas yang memasuki malam ke – 6.

Bepelas ke 6 itu  juga diwarnai dengan ritual Dewa Menjala. Saat Dewa Menjala itu, Sultan Kutai bersama kerabat Keraton dan undangan memberikan sejumlah uang logam maupun uang kertas ke dalam perahu kecil dan kain kuning yang diseret para Dewa (sebutan wanita yang ahli mantera) dan Belian (sebutan Pria yang ahli mantera).

HAPM Haryanto Bachroel yang juga Menteri Sekretaris Keraton berglar HAP Gondo Prawiro, menjelaskan uang yang terkumpul itu diperuntukkan  bagi Dewa, Belian dan peniup suling yang telah bertugas selama berlangsungnya Erau.

“Makna Dewa Menjala ini adalah kebersamaan dan rasa gotong-royong antara Raja bersama rakyatnya,” jelasnya.

Pada malam itu suasana semakin semarak dan riuh  ketika acara ditutup dengan Belimbur Beras atau saling lempar beras. Belimbur Beras terjadi usai para penari lelaki yang dipimpin Putra Mahkota  HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat melakukan tari Kanjar mengelilingi Tiang Ayu atau disebut juga Seluang Mudik.
Puncaknya, setelah tarian itu seluruh hadirin yang sudah mempersiapkan beras langsung  saling melempar beras tersebut, perang beras pun terjadi.  Tidak ada  ada yang kesal atau marah akibat perang beras itu, malahan perang beras itu berlangsung penuh keceriaan. (vb/heru)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.