PWi Kaltim Gelar Pelatihan Jurnalistik

September 29, 2009 by  
Filed under Samarinda

Samarinda-vivaborneo.com, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar pelatihan jurnalistik bagi kalangan santri di Pondok Pesantren dan siswa Madrasah Aliyah (MA) di Samarinda. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari 29-30 September 2009 ini diikuti sebanyak 29 peserta. Read more

SMPN-4 Kembangkan Bakat Jurnalis

September 16, 2009 by  
Filed under Serba-Serbi

Samarinda-vivaborneo.com- Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN)  4 Samarinda telah memberikan kesempatan kepada para siswa-siswinya untuk mengembangkan bakat jurnalistik serta kualitas menulis para siswanya. Read more

PWI Kaltim Siap Tampil di Porwanas X

July 1, 2009 by  
Filed under Olahraga Lain

Samarinda-vivaborneo.com, PWI Cabang Kaltim saat ini tengah mempersiapkan anggotanya mengikuti Pekan Olahraga Wartawan nasional (PORWANAS) X di Palembang Sumatera Selatan bulan Pebruari 2010.

Menurut Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI kaltim, Dt Iskandar Zulkarnaen, PWI Kaltim memastikan akan mengikuti 10 cabang olahraga (cabor) dari 12 cabor yang dipertandingkan. Cabor tersebut yaitu atletik, biliar, bulutangkis, bowling, bridge, bolavoli, catur, futsal, tenis lapangan dan tenis meja. Dua cabor lain yang tidak dikuti yaitu sepakbola dan dayung. Ketidakikutsertaan Kaltim di dua cabor ini menurut Iskandar dikarenakan ketiadaan atlet serta peluang mendapatkan medali di nomor ini sangat kecil. Read more

Masih Ada Pimred Media Buta Huruf

February 28, 2009 by  
Filed under Politik dan Pemerintahan

Dahri Yasin, Ketua Komisi I DPRD Kaltim mengungkapkan, ia prihatin karena ada pimpinan media yang buta huruf. “Apakah itu kemajuan atau kemunduran. Itu perlu kita koreksi bersama untuk kemajuan pers,” katanya pada dialog Hari Pers Nasional (HPN) 2009 yang bertajuk Pers di Mata Anda : Sebuah Kritik-Otokritik Menuju Pers Profesional yang diselengarkan PWI Cabang Kaltim di ruang serba guna Kantor Gubernur (28/2).

Sementara pengamat sosial politik Prof Sarosa Hamongpranoto mengatakan, saat ini banyak orang lebih mudah menjadi wartawan. Padahal wartawan itu bisa mempengaruhi publik melalui tulisannya.

Menurut Sarosa, ujung pena wartawan ini sangat beracun. “Jangan dekat-dekat wartawan. Jauh dengan wartawan berbahaya, dekat dengan wartawan juga berbahaya.” Kesannya terhadap wartawan. Wartawan dituntut sadar dengan tanggungjawab sosialnya. Menguasai hal yang sifatnya teknis dalam pekerjaannya.

 Ada juga wartawan yang tidak tahu apa yang ditanyakan, akhirnya yang ditulis keliru semua.  Saya pernah mengalami itu, dan saya coba memperbaiki besoknya, tapi juga tidak keluar  juga tulisannya.”

Sementara itu. Asisten I Pemprov Kaltim, Abdussamad  mengungkapkan kekhawatiran pejabat daerah dalam menyampaikan informasi kepada wartawan. Sering kali terjadi informasi yang disampaikan ditafsirkan keliru.“Hal ini bisa terjadi karena kemampuan wartawan atau pejabat itu sendiri yang kurang menguasai permasalahan yang ada.

Abdussamad juga menyinggung hak jawab yang ada pada media ketika sumber merasa dirugika dengan pemberitaan. 
“Saya punya pengalaman, ketika saya memiliki hak  jawab, media itu tidak menyediakan halaman untuk hak jawab, padahal ini sangat merugikan bagi nara sumber,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PWI Kaltim Ir Maturidi mengatakan media wajib menyediakan hak jawab bagi narasumber yang merasa dirugikan terhadap pemberitaan media.

Sementara Fauzi A Bahtar Ketua Kadin Kaltim berharap pers dapat independen. Pers harus cerdas agar masyarakat dalam menyerap informasi bisa ikut cerdas. Saat ini pers banyak yang tidak mentaati kode etik. “Kita juga sering membaca informasi yang tidak bermutu, sehingga setelah membaca kita tidak dapat apapun,” katanya. (vb-02)

« Previous Page