Megahnya Tempat Ibadah yang Menjadi Cerminan Toleransi

November 12, 2020 by  
Filed under Serba-Serbi

Samarinda —  Keberagaman suku dan umat beragama di Samarinda menunjukkan “Indonesia Mini” yang lengkap dan harmonis. Semua suku dan agama hadir serta tumbuh subur di kota berjuluk Tepian, teduh, rapi, aman dan nyaman ini.

Sebagai Ibu  Kota Provinsi Kalimantan Timur, Kota Samarinda juga menjadi representasi tujuh kabupaten dan dua kota lainnya di Kaltim. Tidak saja representasi sebagai kota pemerintahan, kota jasa, kota perdagangan, tetapi juga tampak depan kota budaya dan keberagaman.

Pemerintah Provinsi Kaltim yang berkedudukan di Samarinda, sangat memberi dukungan pada keberagaman suku, harmonisasi antar umat beragama dan menerima pendatang dari luar Kaltim dengan tangan terbuka.

Bentuk harmonisasi yang telah lama dibangun oleh Pemprov Kaltim dan Pemerintah Kota Samarinda tercermin dari keberagaman tempat ibadah yang saling berdekatan tanpa merasa terganggu setiap ada upacara keagamaan.

Masjid Al Mu’minin yang diharapkan dapat menjadi perekat antar umat beragama di Samarinda.(Foto: Humasprovkaltim)

Pemprov Kaltim secara sengaja membangun semacam “komplek tempat ibadah” sebagai representasi keberagaman yang rukun dan damai. Di dekat Kantor Gubernur Kaltim, tepatnya jalan bagian belakang  kantor ini, terdapat tempat ibadah yang dibangun secara berdampingan.

Ada Katedral Katolik yang megah, Masjid Al Mu’minun yang besar dan berkarakter serta Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Samarinda, yang damai dan teduh. Tiga tempat ibadah ini berdekatan satu dan lainnya.

Jika Kantor Gubernur Kaltim berada di Jalan Gajah Mada dengan panorama Sungai Mahakam di depannya, maka ketiga tempat ibadah yang berbeda corak ini berada di Jalan Jenderal Sudirman.

Tak jauh dari Kantor Gubernur Kaltim, jika ditarik garis lurus yang sejajar dengan Sungai Mahakam, hanya berjarak sekitar 2 Km, juga terdapat tempat ibadah warga Tiongkok yang beragama Konghucu. Klenteng Thien Ie Kiong ini bahkan sudah berdiri 115 tahun lalu saat jaman penjajahan Belanda.

Tempat ibadah yang paling baru dibangun oleh Pemprov Kaltim adalah Masjid Nurul Mu’minin. Masjid ini awalnya adalah masjid kecil yang hanya untuk menampung para jamaah shalat Dzuhur para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di Kantor Gubernur Kaltim.

Masjid yang dibangun di akhir masa jabatan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak pada 2018 ini sempat ditolak oleh warga sekitar. Penolakan bukan tidak setuju akan didirikannya masjid, melainkan karena lokasi tanah masjid adalah sebuah lapangan sepak bola warga sekitar yang juga memiliki nilai historis bagi perjuangan warga Samarinda dalam mengawal kemerdekaan.

Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi saat meresmikan masjid ini berpesan agar dapat menjadi simbol pemersatu umat, baik umat muslim maupun non muslim.

Hal ini karena di sekitar masjid terbangun juga tempat ibadah umat non muslim, baik Katolik maupun Protestan. Sehingga diharapkan, dengan terbangun dan dioperasionalkan masjid ini dapat menyatukan keberagaman di Benua Etam khususnya masyarakat Kota Tepian.

“Kami berharap masjid ini menjadi simbol pemersatu umat beragama. Bahkan, menjadi simbol kesejahteraan dan kebaikan masyarakat Islam maupun non muslim,” ujar Hadi Mulyadi usai peresmian masjid, Jalan Kinibalu Samarinda, pada Jumat 24 Juli 2020.

Dari keterangan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kaltim, Muhammad Taufik Fauzi, masjid Nurul Mu’minin mengadaptasi perpaduan beberapa arsitektur masjid di Timur Tengah.

“Untuk menara mengikuti arsitektur masjid di Dubai. Arsitektur itu dipilih karena adanya masukan dari beberapa tokoh-tokoh untuk menggunakan arsitektur itu,

Sementara untuk dana pembangunan, kontrak pertama dilakukan pada 2018 dengan nilai Rp27 miliar dan pada tahun 2019 kontrak pengerjaannya senilai Rp55 miliar, sehingga total nilai pembangunannya mencapai sekitar Rp83 miliar.

“Saat ini progres pembayaran dan pembangunan oleh kontraktor sudah selesai 100 persen. Saat ini bangunan masjid masih masuk masa pemeliharaan selama satu tahun oleh pihak kontraktor,” ujar Taufik.

Masjid yang menelan biaya sekitar Rp82 miliar yang dibangun diatas tanah milik pemprov kaltim seluas 16.261 m2. Masjid besar ini memiliki bangunan utama berlantai tiga  dengan empat menara. Kapasitas masjid diperkirakan mampu menampung 3.500 jamaah dengan area parkir kendaraan roda empat sebanyak 150 unit dan roda dua sebanyak 400 unit.

Saat peresmian masjid pada Jumat, 24 Juli 2020,  Hadi Mulyadi menyampaikan pesan Gubernur Isran Noor. Orang nomor satu di Kaltim tersebut ingin agar masyarakat sekitar terlibat dalam pengelolaan masjid.

“Ini amanah beliau. Warga sekitar harus dilibatkan untuk cleaning service, security dan parkir. Kita juga akan juga akan memberikan kesempatan pertama kepada warga sekitar untuk terlibat dalam pengelolaan kantin masjid,” tambah Wagub.

Gereja Katedral Santa Maria Penolong yang telah dipugar dari bangunan lama. Kini gereja ini mampu menampung leih banyak jemaatnya.(Foto: Istimewa)

Sementara itu, tak jauh dari Masjid Nurul Mu’minin, hanya berjarak sekitar 200 meter, juga berdiri megah Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi. Katedral ini merupakan bangunan baru hasil renovasi pada tahun 2019.

Paroki Katedral Samarinda adalah paroki yang terletak di tengah di Kota Samarinda, berada dalam Keuskupan agung Samarinda. Uskup Agung Samarinda pada liturgi Paskah dan Natal memimpin misa di Gereja Katedral Santa Maria Penolong Senantiasa di paroki ini.

Untuk kota Samarinda terdapat tiga paroki yang melayani umat, selain paroki ini juga terdapat Paroki Santo Lukas Temindung untuk melayani umat di daerah utara kota Samarinda dan Paroki Hati Kudus Yesus di Samarinda Seberang untuk melayani umat di daerah selatan kota Samarinda.

Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi terdiri dari tiga lantai, yaitu lantai dasar, lantai utama, dan balkon. Lantai utama sebagai ruangan inti di gereja, di lantai kedua (balkon) berfungsi sebagai tempat duduk umat serta ruang kendali pengeras suara.

Kapasitas Gereja Katedral baru ini mencapai 1.914 tempat duduk, sedangkan di ruang bawah (basement) bisa menampung 2.000 ribu umat. Secara keseluruhan termasuk basement mampu menampung 4.000 ribu umat sekaligus.

Tidak hanya itu, Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi ini memiliki bangunan megah dengan tinggi 45 meter, terdapat dua menara tinggi menjulang yang mengapit bentang tengah gereja.

Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi ini memiliki perpaduan gaya arsitektur kuno, modern, dan sentuhan etnik lokal bernuansa gotik-kontemporer-inkulturatif.

Gaya gotik merupakan salah satu arsitektur klasik gereja Katolik di paruh kedua abad pertengahan yang mewakili sifat universalitas dari gereja Katolik. Kontemporer menggambarkan perpaduan antara kontemporer dan modern. Sedangkan, inkulturatif mewakili ciri budaya lokal khas Kaltim.

Pembangunan Gereja Katolik adalah salah satu kegembiraan bukan hanya bagi umat Katolik tapi segenap masyarakat Kalimantan Timur. Selain sebagai tempat ibadah yang megah bagi umat katolik, juga menjadi simbol perekat antar umat beragama di Kota tepian Samarinda.

Peresmian dilakukan Gubernur Isran Noor didampingi Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Piero Pioppo. Turut disaksikan juga oleh Uskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto MSF dan Menteri ESDM RI, Ignasius Jonan.

Gereja baru pembangunannya dimulai pada 14 September 2017. Dibangun di  atas luas lantai bangunan seluas  7.704,5 meter persegi. Pengerjaannya dibangun secara bertahap. Tahap pertama menyelesaikan pembangunan gedung gereja dengan luas 3.712  meter persegi.

Itu belum termasuk  Ruang Sakristi, Ruang  Misdinar, dan Kapel Sakramen Maha Kudus. Sekilas, wajah gereja baru Katedral Samarinda menyerupai gaya bangunan Gereja Katedral  Jakarta. Ciri khas yang  mirip antardua gereja ini  yaitu dua menara menjulang yang terletak di masing-masing sisi kanan dan kiri.

“Konsepnya ingin memadukan ketiga gaya tersebut. Tidak lupa kami juga menginterpretasikan ciri budaya lokal khas Kalimantan Timur baik di eksterior maupun interior,” kata Pastor Moses.

Pastor Moses mengaku senang, lantaran  pembangunan katedral megah ini sesuai rencana dan berjalan dengan lancar.

Gereja megah ini jadi yang pertama dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik di Bumi Etam. Rencana pembangunan Gereja Katedral baru dimulai saat beberapa Pastor dan Uskup Agung melihat umur gereja lama, kian tua.

Gereja lama dibangun pertama kali pada 1953. Kini berusia 64 tahun sebelum dibongkar pada September 2017. Karena bangunan tua, konstruksi bangunannya pun mulai rapuh. Kapasitas atau daya tampung jemaat pun hanya 800 tempat duduk.

Mengamati perjalanan sejarah, Keuskupan Agung Samarinda memang belum memiliki gereja yang didesain khusus sebagai representasi sebuah katedral.

Pada 1955 wilayah yang menjadi Keuskupan Agung Samarinda dan Keuskupan Agung Tanjung Selor adalah bagian dari Vicariat Apostolic, Banjarmasin. Kemudian dibentuk Keuskupan Agung Samarinda pada 3 Januari 1961. Barulah menunjuk gereja lama sebagai sebagai Gereja Katedral.

Karena terbatasnya daya tampung yang hanya 800 tempat duduk, membuat gereja ini sering penuh sesak. Apalagi disaat hari besar keagamaan.

Bagaimana tidak, jumlah umat Katolik yang masuk wilayah Katedral sudah mencapai 7 ribu orang. Akibatnya, perayaan Misa setiap Minggu harus dilaksanakan 4 kali. Sabtu sore sampai Minggu sore.

Tak hanya itu, setiap tahun saat peringatan Hari Raya Paskah, Natal dan Tahun Baru, umat selalu meluber hingga ke Jalan Jenderal Sudirman. Polisi terpaksa menutup jalur jalan tersebut untuk kelancaran ibadah. Kursi yang disusun di pelataran gereja pun sempit dan berdesak-desakan.

Keuskupan Agung Samarinda pernah merehab bangunan pada 1991 – 1992. Namun tidak menyeluruh sehingga menyisakan struktur bangunan dan bagian-bagian kayu. Lama kelamaan mulai lapuk dan rapuh. Kondisi itu mengkhawatirkan keselamatan umat dan kelayakan sebuah tempat ibadah.

Tak hanya alasan kondisi gereja yang tak representatif. Lebih jauh, semangat membangun Gereja Katedral menempati kedudukan dan peran simbolik khusus. Katedral sebagai Gereja induk, tempat umat berhimpun bersama Uskup sebagai imam agung setiap perayaan iman.

Gereja Katedral pun simbol kesatuan umat beriman dalam sebuah keuskupan, peziarahan di bawah penggembalaan Uskup. Gereja Katedral harus bisa jadi rujukan dalam tata laksana, ruang dan simbol rumah ibadah. Pun jadi tempat dilaksanakannya tata liturgi yang menunjukan kesetian pada kesatuan gereja universal namun hidup sebagai gereja lokal yang aktif.

Melalui pergumulan panjangan, hingga pada akhirnya disepakati, Gereja Katedral lama dirobohkan lalu dibangun kembali. Tak main-main, butuh pemugaran menyeluruh.

Akhirnya, Gereja Katedral lama resmi dibongkar pada Juli 2017. Minggu, 3 Juli 2017 menjadi penanda terakhir kalinya perayaan Ekaristi Kudus yang diselenggarakan di Katedral lama.

DUKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI KALTIM

Rencana pembangunan Gereja Katedral bukan hal mudah. Jalan liku mewarnai rencana ini. Sempat tertunda karena alasan tertentu.

Awalnya, bergulir ide untuk tukar guling  (ruislag) lahan dengan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Rutan Klas II A yang tepat berada di sebelah kirinya. Memang sempat beredar wacana LP ini mau dipindahkan ke lokasi lain, karena tempatnya saat ini sudah sempat dengan banyaknya para warga binaan..

Sempat dibangun komunikasi dengan Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim terkait rencana itu. Namun batal karena keuskupan tak memiliki banyak uang untuk tukar guling.

Akhirnya, diputuskan tetap menggunakan lahan yang ada. Paroki Katedral mewakili Keuskupan Agung Samarinda mengajukan permohonan bantuan pembiayaan ke Pemprov Kaltim. Usulan dikabulkan dengan komitmen sebagian besar pembiayaan ditanggung Pemprov Kaltim.

Skema kegiatannya melalui hibah. Diterima dalam bentuk fisik bangunan. Total bantuan dana APBD Kaltim sebesar 86,5  persen dari total dana pembangunan gereja sebesar Rp 52 miliar. Perjuangan panjang berakhir dan disepakati Gereja Katedral ini untuk segera dibangun.

“Keuskupan Agung sangat beruntung karena mendapat dukungan Pemprov Kaltim. Kami mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kaltim (kala itu dijabat oleh Gubernur Awang Faroek Ishak) dan DPRD Kaltim yang telah meloloskan usulan kami,” ungkap Pastor Moses.

Tepat Kamis 14 September 2017,  Gubernur Kaltim Awang  Faroek Ishak yang sudah tak menjabat,  membuka Groundbreaking pembangunan Gereja Katedral ini.

Awang menyatakan sikapnya mendukung pembangunan Gereja  Katedral Samarinda yang  baru. Awang bangga dengan semangat umat Katolik yang ingin memiliki  gereja representatif di tengah kota Samarinda.

Ia berpesan agar bangunan ini, tak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah semata. Melainkan dapat menjadi sarana pembinaan mental dan akhlak umat Katholik.

Kegiatan groundbreaking kala itu juga dihadiri dua perwakilan DPRD Kaltim yaitu  Yahya Anja dan Veridiana Huraq Wang. Kedua tokoh  ini ditugaskan Awang Faroek untuk mengawal anggaran  pembangunan Gereja Katedral  di  DPRD  Kaltim.

Jalinan keharmonisan antar umat beragama di Kaltim, khususnya di Samarinda kian lengkap dengan sejarah perjalanan Klenteng Thien Ie Kiong yang berjarak sekitar 2 Km dari Gereja Katedral Santa Maria Penolong.

Klenteng Thien Ie Kiong Samarinda adalah klenteng tertua di kota Samarinda karena umurnya yang lebih dari satu abad. Tepatnya klenteng ini berdiri tahun 1905 atau telah berumur 115 tahun.

Klenteng Thien Ie Kiong menjadi satu situs budaya Tiongkok yang ada di Samarinda. Klenteng ini telah berdiri selama 115 tahun.(Foto: Heldyanur).

Keberadaan Klenteng Thien Ie Kiong bukan saja mewarisi perjalanan  sejarah warga Tionghoa di Samarinda, tetapi sebagai bukti bahwa warga Samarinda dari dahulu sudah menerima orang-orang dari luar Kaltim dengan damai dan hidup berdampingan dengan damai dan saling membutuhkan.

Kelenteng Thian Gie Kiong merupakan tempat persujudan atau persembahan bagi Dewi dan Makco Thian Siang Sing Bo, Dewa atau Kongco Hian Thian Siang Te dan Dewa Kwan Sing Tee Kun serta para suci lainnya.

Bangunan kelenteng didirikan atas swadaya masyarakat etnis tionghoa atas prakarsa Letnan Oey Kun Khue Gwan yang melihat aspirasi dan mendapat persetujuan khalayak ramai. Masyarakat Tionghoa menghimpun dana dari masyarakat Tionghoa Samarinda dan didapat uang sebesar 50.000 gulden sebagai dana  pembangunan kelenteng.

Menurut catatan sejarah, pada zaman pendudukan Jepang, kelenteng ini pernah nyaris hancur terkena hantaman bom, dari udara. Saat itu Jepang ingin menghancurkan pabrik pengolahan minyak goreng yang berada tepat di belakang kelenteng. Akibatnya, salah satu tiang penyangga bangunan klenteng miring hingga saat ini.

Delapan tiang menyangga bagian teras, dua di antaranya berhias ukiran awan dan naga. Uniknya, tak hanya melingkari tiang namun naga ini seperti merentangkan kedua tangan dengan satu kaki menendang ke depan. Seakan-akan sedang melakukan jurus naga sakti menendang awan.

Bangunan klenteng berarsitektur khas Tionghoa, ada bagian yang terbuka di bagian tengah. Ruangan ini berfungsi sebagai ventilasi ketika upacara-upacara ibadah berlangsung karena asap dari hio yang dinyalakan akan mengepul tanpa henti.

Di sisi kanan dan kiri ada tempat-tempat untuk berdoa. Sedangkan meja altar besar, tempat meletakkan sesaji di depan patung Dewi Kwan Im berada di bagian utama yang luas dengan langit-langit tinggi.

Uniknya, semua tiang penyangga di bagian dalam klenteng dicat hitam dengan tulisan Cina berwarna emas. Ada lukisan dan relief ukiran hampir di setiap dinding dan pintu. Dinding, tiang-tiang, dan bubungan atap bangunan kelenteng ini masih menggunakan kayu, teknik penyambungannya adalah dengan menggunakan pasak kayu.

Di halaman luar klenteng, ada taman yang dipenuhi patung-patung yang tampaknya dibuat dengan ‘gaya masa kini’. Taman patung ini berisi tokoh ‘Perjalanan ke Barat’, yaitu Xuanzang atau Pendeta Tong yang merupakan guru pendeta yang menaiki kuda putih.

Pendamping lainnya adalah Sun Wokong atau Sun Go Kong adalah raja kera yang sakti, Zhi Bajie atau Tie Pat Kay yaitu manusia berwajah babi, dan Sha Wujing atau Sam Cheng yang merupakan rahib pengembara.

Dalam kisahnya mereka harus pergi ke ke barat dalam perjalanan penebusan dosa dan membawa kembali kitab suci. Melewati 14 musim panas, 14 musim dingin, dan puluhan kali menghadapi bahaya gangguan dari siluman dan setan-setan. Selain keempat tokoh tersebut, ada juga dua buah patung naga, dan Dewi Kwan Im.

Melihat gambaran sepintas tentang keunikan beberapa tempat di Kota Samarinda ini, diharapkan dapat menyadarkan warga Samarinda bahwa mereka memiliki potensi yang besar untuk turut bersama merajut perbedaan untuk meraih tujuan bersama.

Perbedaan suku dan penganut agama yang sejak berabad lalu tidak pernah lekang oleh waktu, membuktikan orang tua dan leluhur kita di masa lalu, telah memberikan gambaran bagaimana toleransi antar umat beragama dijalankan dengan damai di dalam kebersamaan.(Vb/ Heldyanur)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.