Hulu Air Terjun Pampang Rusak, Diduga Ada Pematangan Lahan

June 28, 2020 by  
Filed under Lingkungan Hidup

Vivaborneo.com, Samarinda- Pecinta  lingkungan Fajar Alam mengungkap  keprihatinan terhadap informasi yang menyebutkan adanya pematangan lahan di hulu dari air terjun  Pampang yang juga disebut Air Terjun Berambai. Jika hujan turun  terlihat  air yang keruh karena di hulu sungai tersebut yang diduga adanya kegiatan pematangan lahan.

Saat dikonfirmasi, ia mengaku mendapatkan informasi bahwa warga di Desa Budaya Pampang memasang kembali  patok batas tanah hutan adat di kawasan Lubang Muda.

Lubang Muda adalah air terjun yang telah dicabut patoknya dan digarap oleh pihak lain. Selain itu, ada dugaan adanya gugusan batu karst Berambai rusak.

 “Saya, sebagai warga  yang ingin tahu perihal informasi sesungguhnya tentang itu, dan menanyakannya,” jelas Fajar saat dikonfirmasi melalui whatsapp,  Selasa (16/6).

Fajar Alam, menyayangkan, baru pada 5 Juni 2020 lalu, ada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun, mengapa sama sekali tidak ada yang mengulas gangguan di jalur air terjun atau sungai yang melewati Berambai, Pampang.

“Problematika kuantitas dan kualitas air permukaan juga senantiasa ramai ketika musim penghujan. Gak biasanya ini. Macam gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak,” tegasnya.

Secara terpisah Ahmad Karni, pemerhati lingkungan di Samarinda mengungkapkan  bahwa alur Sungai Pampang kiri, anak sungainya Lubang Putang. Sedangkan yang hulunya di Gunung Putang Kutai Kartanegara.

“Air terjunnya cukup banyak. Jika air terjun Pampang dan air terjun Berambai ini sudah  biasa dikunjungi, namun masih ada beberapa air terjun yang agak sulit dijangkau kendaraan, harus jalan kaki. Akhir-akhir ini banyak pengupasan lahan sepanjang sungai ini. Itulah mengapa, nampak coklat di Waduk Lempake saat banjir beberapa waktu lalu,” jelas Ahmad Karni.

Karni melanjutkan penjelasannya,  bahwa air terjun Pampang yang sering dikunjungi, terus dipantau melalui Ketua RT 02 Pampang Sem Usat.  “Beberapa hari lalu warga memberikan patok di sekitar situ, sekitar 2 km sebelum air terjun,” jelasnya.

Melihat dari dekat jejak air, tampak jejak-jejak erosi di permukaan tebing batu menandakan, kalau dulu aliran airnya sangat deras dan cukup besar. Mata air banyak dijumpai disepanjang sungai.

Banyak anak-anak muda yang melakukan trip penelusuran wisata alam ini, mereka menyusuri Sungai Pampang ke arah hulu yaitu air terjun 3. Pemandangannya indah, hutannya masih alami, masih ada kehidupan liar seperti monyet, berang-berang dan fauna lain. Namun jejak air bah yang membawa batang pohon melintang di sepanjang sungai itu nyata.

Banyak dari mereka mengeluhkan setelah dari trip penelusuran Sungai Pampang ke Air Terjun 3 mengalami gatal-gatal di kulit. Kemungkinan ada pencemaran air akibat kerusakan alam.

Air Terjun 3 tidak jauh dari air terjun nomor 2. Ketinggiannya lebih rendah tapi memiliki kolam paling luas dengan kanopi hutan yg indah.

Beberapa warga Pampang yang tidak mau disebutkan namanya berharap alam tersebut jangan diganggu, justru harusnya hutan adat Suku Dayak Pampang direhabilitasi, karena itu penjaga terakhir sumber air sungai kota Samarinda.(vb-Mun)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.