Emy Rosana: Ilmu Tidak akan Habis Jika Dibagi

April 22, 2020 by  
Filed under Profil

Ketika mahasiswanya kesulitan memahami pembelajaran mata pelajaran mahasiswa, Emy Rosana membantu dengan dialog di kelas-kelasnya di Universitas Kutai Kertanegara dan Universitas Mulawarman, Samarinda. Berharap dengan ilmunya, mahasiswanya menjadi garda depan guru-guru untuk desa pelosok di Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar). Sejak 2017, Emy Rosana harus memikirkan pembelajaran, kurikulum dan pengembangan mutu tingkat menengah pertama.

Dulu hanya 30-40 calon guru Bahasa Inggris yang dipikirkan, sekarang Emy harus memikirkan seluruh proses pembelajaran SMP di seluruh Kukar.

“Ini menantang bagi saya, karna posisi geografis Kukar luas sekali, dan infrastruktur di beberapa tempat masih sulit di akses. Saya harus mempertimbangkan kondisi-kondisi wilayah yang jauh, karena itu merupakan tanggung jawab saya,” buka Kasi Kurikulum Pengembangan Mutu SMP Disdikbud Kukar, Emy Rosana.

Kukar mempunyai 18 kecamatan dan 225 desa atau kelurahan. Topografi wilayah sebagian besar bergelombang dan berbukit dengan kelerengan landai sampai curam. Tentunya tidak mudah untuk menggerakkan pendidikan SMP di seluruh 18 kecamatan. “Jika saya tutup mata, maka jurang pendidikan kota dan desa akan tajam dan tentunya kesenjangan sosial makin tajam di kemudian hari,” ungkap Emy.

Emy Rosana menyukai ilmu pengetahuan terutama di bidang pendidikan, beliau mengenyam pendidikan Bahasa Inggris di Australia melalui beasiswa pemerintah Australia. Ekosistem ini dibawa Emy kepada rekan-rekan tenaga pendidik di Kabupaten Kutai Kertanegara untuk mencari solusi. “Saya suka sekali menggali ide, menciptakan inovasi-inovasi, dan ekosistem ini didukung oleh Tanoto Foundation,” jelas Emy.

Tanoto Foundation memilih 16 fasilitator daerah tingkat SMP sebagai garda depan menerapkan pembelajaran aktif, manajemen berbasis sekolah, dan budaya baca di Kukar. Setiap bulannya, ada pertemuan untuk membahas pelatihan-pelatihan yang akan diberikan pada tenaga pendidik di Kukar.

“Saya tersadar, esensi pembelajaran harus memuat unsur pembelajaran aktif, yaitu Mengalami, Interaksi, Komunikasi, Refleksi. Namun, hal ini masih tidak terimplementasi sepenuhnya oleh guru di sekolah,” jelas Emy.

Kukar Pintar ini pertama kali diperkenalkan ketika Unjuk Praktik Baik Kukar 7 November 2019, dan siap diluncurkan pada April hanya saja dengan pandemik ini, Emy dan tim Kukar Pintar memikirkan bersama tidak hanya menjalankan pembelajaran di daerah terpencil tetapi di situasi pandemic covid-19 ini.

“Saya bersyukur dengan ekosistem ini, kami dituntut terus berinovasi untuk menciptakan solusi-solusi, kami akhirnya menjalankan pembelajaran daring melalui siaran YouTube kami, pada 22 Maret 2020 dengan pembahasan soal-soal UN,” jelas Emy.

Karena UN dihapus, sekarang Kukar Pintar mengudara dengan membahas mata pelajaran SMP sekaligus edukasi tematik, mulai dari kesehatan reproduksi, persiapan Ramadhan, Covid-19.

Saat ini tim berjumlah 13 orang khusus untuk yang berada di garda depan pembelajaran online, namun khusus untuk menggarap portal kukar pintar dan diseminasi berjumlah 60 orang. Tim Kukar Pintar dengan semangat meskipun dengan kondisi terbatas, smua berkolaborasi, berdiskusi, berlatih, mempersiapkan pembelajaran walaupun malam dan juga hari libur tetap bekerja, mereka tetap semangat saling membantu. Saya yakin ilmu tidak habis walaupun terus dibagi, saya berharap kedepannya, seluruh Kukar merasakan pendidikan yang sama,” tutup Emy. (*)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.