Ayo, Selamatkan Kersik Luwai Sekarang!

July 23, 2010 by  
Filed under Wisata

MELAK- vivaborneo.com – Kersik dalam bahasa setempat berarti pasir dan Luwai berarti sunyi. “Pasir yang Sunyi atau Damai” itulah kira-kira arti dari Cagar Budaya Kersik Luwai ini. Betapa tidak, hingga kini belum terungkap mengapa ada pasir putih di tengah-tengah hutan belantara? Hamparan pasir putih ini tidak berada di tepi pantai, tetapi berada pada ketinggian 135 meter dari permukaan laut. Jaraknyapun ratusan kilometer dari pesisir.Karena keunikannya, kawasan yang berada di Kecamatan Sekolaq Darat ini ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 792/Kpts/Um/10/1982. Uniknya lagi, pasir putih tersebut merupakan penopang lapisan tanah tempat hidup anggrek yang dapat menyimpan persediaan air, layaknya sebuah busa spon.

Keajaiban hutan yang ditetapkan sebagai cagar alam ini merupakan tempat hidup 75 species anggrek dan tanaman lainnya. Sayangnya, setelah kebakaran hutan pada 1982, 1987 dan 1997 sehingga hanya menyisakan 57 jenis saja. Luas lahan tempat tumbuh anggrek juga menyusut dari 5.000 hektare menjadi 17,5 hektare.

Anggrek hitam di Kersik Luwai merupakan salah satu dari enam spesies dalam genus anggrek Coelogyne yang juga ditemukan di Nepal, Cina, Filipina, Papua, dan banyak pulau-pulau lain di Pasifik.
Selain anggrek hitam (Coelogyne pandurata) yang begitu terkenal, di hutan kerangas ini dengan mudah juga ditemui berbagai jenis kantung semar (nepenthes sp).

Kantong semar atau dalam bahasa Dayak Tunjung disebut Selo Bengongong jumlahnya banyak dan tumbuh liar merambat di tanah dan sela-sela tegakan pohon. Terdapat semacam lendir di dalam rongganya yang bisa menjerat serangga sehingga disebut-sebut memangsa dan mencerna serangga yang masuk ke dalamnya.

Kantung Semar merupakan tumbuhan karnivora atau pemakan daging (seranggga) yang menurut para ahli botani berfungsi sebagai indikator baik-buruknya kualitas udara dan iklim bumi. Bagi sebagian Suku Dayak, kantong semar dapat berfungsi sebagai wadah racun, bahkan tempat untuk menanak nasi dan merebus ikan yang didapat.

Melihat kerawanan dibalik keindahan Kersik Luwai, hendaknya ada satu komitmen bersama antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten Kubar dan dukungan DPRD Kaltim, tentunya untuk “mengeroyok” Kersik Luwai menjadi sebuah objek wisata andalan Kaltim dan Indonesia pada umumnya. (vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.