Membedah Visi Misi Calon Pemimpin Samarinda

February 3, 2020 by  
Filed under Opini

Memahami Pemikiran Mereka

Oleh :Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM., M.Si

**) ​Melalui WA saya, saya diundang rekan-rekan Jurnalis yang tergabung dalam PWI untuk menghadiri diskusi publikpada tanggal 26 Januari 2020 di Hotel Salyca Mulia – Samarinda, yang menghadirkan para calon pemimpin Samarinda, yaitu Walikota – Wakil Walikota (Wawali) periode 2020-2024. Tema diskusi cukup menantang, yaitu “memberdah visi-misi calon pemimpin Samarinda”. Saya tertarik untuk hadir, karena penasaran ingin mendengar langsung penyampaian visi-misi mereka.

Acara diskusi dikemas cukup bagus sebagaimana layaknya diskusi publik dalam putaran Pilkada sebenarnya, namun akibat keterbatasan waktu dan diskusi dibuat formal, maka menurut saya diskusi ini belum mengeksplorasi penjabaran visi-misi para calon Walikota/Wawali. Namun demikian, acara diskusi ini sudah dapat dijadikan tolok ukur “uji nyali”, karena tidak semua bisa hadir.

 

  1. Apresiasi bagi PWI Kaltim : Berpikir Out of the Box

Saya hadir dalam diskusi publik ini, yang sedianya akan menghadirkan 10 orang calon Walikota/Wawali Kota Samarinda, namun menjelang detik-detik terakhir hanya dihadiri 3 orang  calon saja, yaitu Sarwono, Andi Harun dan Zairin Zain, sementara yang lainnya punya alasan masing-masing untuk tidak bisa menghadirinya. Padahal ini momentum bagus untuk dimanfaatkan para calon  untuk mengutarakan visi-misi “mau dibawa kemana Samarinda”, sehingga masyarakat dapat mengetahuinya lebih dini, tidak sebatas slogan-slogan ringkas yang terpampang di bilborad.

Dalam diskusi tersebut memang tidak dihadiri banyak masyarakat secara langsung, tapi para awak media cetak dan siber serta para pemerhati maupun LSM hadir; dan mereka ini yang akan menjadi penyambung lidah masyarakat melalui tulisan-tulisan mereka sebagai pembentuk opini. Para calon jangan lupa bahwa media terutama media siber kecepatan penyebaran beritanya cukup cepat dan bisa menjadi viral, khususnya yang digerakan para influenzer ataupun buzzer. Pada umumnya, inlleunzer/buzzer akan muncul pada saat  menjelang PIlkada, karena memberikan nilai keuntungan tersendiri, dan mereka inilah yang dapat menciptkan opini melalui media sosial atau saluran media lainnya.Para calon jangan lupa pula bahwa media sosial saat ini menjadi salah satu sumber informasi alternatif bagi masyarakat.

Meskipun putaran Pilkada belum dimulai, PWI sudah mengambil peran signifikan dalam melakukan literasi berdemokrasi yang baik kepada masyarakat, dimana sejak awal masyarakat sudah dikenalkan diarahkan memilih individu Walikota/Wawali yang menawarkan program yang bersinggungan langsung dalam memecahkan masalah faktual saat ini.

Saya sungguh mengapresiasi PWI, berani mendobrak peran KPU untuk melakukan hal yang sama nantinya, pada saat putaran PIlkada sudah resmi berjalan, bedanya KPU melakukan diskusi ini terhadap pada calon definitif, resmi diusung oleh Partai Politik atau melalui jalur indipenden. Sementara PWI baru bakal calon dan belum pasti maju, dengan menyediakan panggung yang dikemas dalam  bentuk diskusi publik, walaupun belum begitu profesional dalam peeyelenggaraannya, namun PWI sudah berani menampilkan para panelis dengan berbagai latar belakang berbeda, yaitu para akademisi dan LSM yang berasal dari dari JATAM, POKJA 30 dan WALHI.

  1. ​Peran Panelis : Cerdas Menggiring Diskusi

Saya mengapresiasi PWI terkait dengan ke-5 orang panelis sudah merupakan pilihan yang tepat, karena diluar prediksi saya sebelumnya, ternyata mereka mampu mengarahkan pertanyaan yang berimplikasi terhadap program-program prioritas yang ditawarkan para calon, yang harus merngevaluasi kembali program-program tersebut agar dapat diimplementasikan, karena faktanya antara program dengan strategi pembiayaanya belum sinkron, karena seperti kita ketahui bersama bahwa posisi keuangan daerah Kota Samarinda sebesar ± Rp 3 triliyun, sebagian besar sudah dialokasikan untuk membiayai belanja wajib yang mencapai ± Rp 2 triliyun. Belanja wajib ini tidak mungkin dihindiri, termasuk keharusan membayar hutang. Fakta ini yang dilupakan oleh para calon, sehingga program-program prioritas yang ditawarkan menjadi tidak realistis, dimana program prioritas tersebut membutuhkan dana relatif besar, tidak imbang dengan sisa dana yang ada sekitar Rp 1 triliyun, kecuali dapat dilakukan optimalisasi penerimaan daerah, baik berasal dari PAD maupun DAK APBN dan bantuan keuangan Pemerintsh Provinsi Kaltim.

Para panelis memiliki latar belakang pengalaman praktis dibidangnya masing-masing, sehingga tidak mengherankan fokus pertanyaan sesuai pengalamannya, terutama latar belakang LSM terkait pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Fokus pertanyaan adalah memastikan upaya penanganan banjir yang selalu terjadi di Samarinda di setiap musim penghujan saat ini. Penanganan banjir ditanggap belum tuntas, mengingat lokasi rawan banjir cenderung terus bertambah, bukan sebaliknya berkurang. Kita semua warga Kota Samarinda pasti berpendapat sama bahwa masalah banjir termasuk prioritas utama yang segera diselesaikan.

Para panelis mengingatkan salah satu penyebab banjir adalah pengelolaan eks lokasi tambang yang tidak mengindahkan ketentuan lingkungan, para calon dituntut upaya  nyata untuk mengatasinya; pertanyaan mendasar yang diajukan oleh panelis adalah keberanian untuk menutup tambang, apabila ada indikasi melanggar aturan. Semua calon menjawab dengan alasan masing-masing, tapi belum tuntas.

Berbeda dengan panelis berlatar belakang akademisi, menyebutkan kesulitan untuk menjastifikasi keberhasilan program alokasi dana per RW/RT, karena belum ada benchmark daerah yang sudah menerapkan program yang sama. Belum lagi dikaitkan dengan sumber pembiayaannya, karena apabila program ini diterapkan akan membutuhkan dana lebih dari Rp 1 triliyun, sehingga tidak ada lagi ada dana tersisa untuk membangun Kota Samarinda, kecuali yakin ada sumber dana alternatif.

Kembali saya tegaskan bahwa saya apresiasi upaya PWI Kaltim, mereka cerdas mengemas diskusi publik sebagai ajang pembelajaran bagi para calon Walikota/Wawali Kota Samarinda, bahwa para calontersebut harus mampu menentukan program yang realistis dan relevan dalam mengatasi masalah yang ada. Diskusi publik ini menjadi tolok ukurnya, seberapa jauh tingkat penerimaan masyarakat, walaupun bukan menggambarkan kererwakilan masyarakat secara keseluruhan, akan tetapi suara para akademisi dan LSM masih didengar masyakat kita, apalagi suara tersebut terjabarkan dalam verbal pemberitaan oleh kalangan media, pasti gaungnya akan terasa.

Masukan panelis akan lebih mempertajam program yang ditawarkan, jangan dilihat kontrakdiktifnya. Para calon yang berkesempatan hadir dalam diskusi publik mendapatkan nilai tambah secara personal, karena dapat merubah performa yang dirasakan masih kurang, sehingga akan menjadi lebih siap dalam diskusi publik pada putaran Pilkada sebenarnya. Sementara bagi calon lain yang tidak hadir akan dihadapkan pada kondisi demam panggung.

​Strategi Mengusung Konsep : Wujud dari Kualitas Visi-Misi

Konsep yang saya maksudkan adalah penjabaran program-progrm prioritas dari visi-misi yang diusung para calon. Saya yakin belum final dan masih terbuka peluang untuk berubah, terutama bagi para calon yang masih belum berpasangan secara permanen, tentunya visi-misi dimaksud masih bersifat tawaran perorangan.

Visi-misi adalah  mimpi kedepan yang akan diwujudkan melalui pelaksanaan program prioritas, sehingga mimpi ini jangan hanya sekedar khayalan belaka yang tidak dapat diwujudkan. Saya mencoba sedikit mengevaluasi mimpi seorang Andi Harun (AH)dan mimpinya pasangan Zairin Zain-Sarwono (Z2S).Namun ini jangan dipersepsikan sebagai upaya untuk membandingkan. Ini hanya sekedar masukan dari seorang sahabat kepada sahabatnya, karena saya memiliki hubungan emosional dengan mereka, sehingga tidak elok untuk memihak.

Konsep yang ditawarkan AH – Merubah Peradaban Samarinda

Sahabat saya ini mengajak kita bahwa kedepannya “Samarinda akan menjadi pusat peradaban” di Kalimantan Timur, sama pemikirannya dengan Jokowi yang akan menjadikan IKN tidak sekedar memindahkan ibukota saja, akan tetapi merubah peradaban berupa perubahan tatanan kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Saya tidak tahu, apakah AH mengadopsi konsep Jokowi, atau ada aksentuasi berbeda yang ditawarkan AH.

Apa yang ditawarkan AH, dalam catatan saya terdapat keinginan AH untuk; (1) memastikan energi yang berkecukupan; (2) mengatasi banjir; (3) menyediakan air bersih; dan (4) mengatasi disparitas pembangunan antar wilayah dalam kota. Untuk melaksnakan ke-4 program tadi AH memberikan penekanan tehadap perlunya  “leadership”, yaitu peran ketokohan yang mampu bertindak tegas.

Pertanyaannya adalah dari ke-4 program tersebut, sisi mana yang diharapkan jadi pemicu terjadinya perubahan peradaban. Saya yakin sahabat saya ini akan menjelaskannya kelak. Kalau saya diperkenankan berandai-andai, mungkin upaya mengatasi disparitas antar wilayah di Kota Samarinda melalui pemberian alokasi dana sebesar Rp 100 juta s/d Rp 300 juta kepada setiap RT/RW, yang berjumlah sekitar 1.900-an.Artinya, dibutuhkan dana berkisar Rp 1 triliyun setiap tahunnya, dan dalam kurun waktu 5 tahun akan terserap dana APBD sekitar Rp 5 triliyun, dengan asumsi tidak ada kenaikan alokasi dana setiap tahunnya. Dengan menggunakan pendekatan analisis finansial (B/C Ratio), kita harus berhitung efektifitas alokasi dana untuk setiap RT/RW ini, dibandingkan dengan alokasi dana untuk kegiatan lainnya yang memberikan nilai manfaat lebih besar, seperti penanganan banjir.

Penanganan disparitas antar wilayah dalam kotadapat dilakukan dengan format lainnya, seperti semenisasi lingkungan, penataan drainase, penyediaan fasos/fasum lingkungan setempat. Masyarakat dapat dilibatkan secara langsung melalui proses perencanaan bottom up, sehingga Perangkat Daerah terkait sudah aktif terlibat pada pelaksanaan Musrenbang di tingkat Kelurahan dan menghimpun masukan secara langsung dari masyarakat di sekitar lingkungan RT/RW setempat. Format ini tdiak berbeda prinsip dengan pemberian dana secara langsung, karena format yang disebutkan terakhir hanya merubah bentuk pemberian tunai menjadi pembangunan fisik, yang proses perencanaannya melibatkan masyarakat.

Dengan memerankan “leadership” sebagai seorang Walikota, maka harus berani memastikan keseimbangan pembangunan antar wilayah, yang tidak diartikan sebagai pemerataan, akan tetapi harus memastikan adanya alokasi yang proporsional seauai kondisi wilayah setempat. Artinya, suatu wilayah yang masih dianggap kurang harus mendapat proporsi yang lebih besar. Permasalahannya adalah kriteria wilayah ini harus diperjelas terlebih dahulu; apakah mencakup wilayah administratif atau lainnya. Hal ini nanti AH sendiri yang akan menjawabnya, kita tunggu bersama pada waktunya nanti

Mungkin apa yang saya utarakan diatas, itulah yang dimaksudkan AH sebagai merubah peradaban Kota Samarinda melalui program menghilangkan disparitas antar wilayah. Namun bisa juga tidak seperti itu yang dimaksudkan AH. Dan terlepas dari itu semua, AH telah membuktikan kualitasnya.

Konsep yang ditawarkan Z2S – Samarinda Bangkit

Sabahat saya ini merupakan pasangan yang sudah mendeklarasikan diri secara resmi berpasangan lebih dini dibandingkan para calon lainnya, yang mengusung konsep “menuju Samarinda bangkit”. Saya ingat konsep ini pernah digaungkan oleh Awang Faroek Ishak (AFI)pada periode pertama pemerintahannya 2008-2013.Saya belum dapat mengatakan konsep tersebut; apakah mengadopsi konsep AFI, atau hanya sekedar sama namanya saja, namun berbeda penerapan program prioritasnya.

Konsep menuju Samarinda bangkit akan menonjolkan program-program prioritas : (1) membentuk SDM yang berkualitas; (2) mengembangkan ekonomi kerakyatan dan ekonomi kreatif; (3) penataan infrastruktur perkotaan; (4) penataan lingkungan dan banjir; dan (5) birokrasi pemerintahan yang profesional. Mungkin masih ada lagi program prioritas lainnya yang tidak sempat saya catat.

Diawali dengan upaya penanganan banjir, dimana Z2S menawarkan program penataan Sungai Karang Mumus, sungai disekitar Karang Asam dan sungai disekitar Air Putih. Ketiga sungai kecil akandinormalisasi dengan melakukan pengurugan, reklamasi dan menata lingkungan sekitarnya sebagai ruang terbuka hijau (taman); dan bersamaan dengan penataan ke-3 sungai kecil tadi, akan dilakukan perbaikan drainase terutama di kawasan yang salama ini selalu mengalami banjir. Para pengembang (developer) dipastikan turut terlibat dalam menata drainase perumahan sebelum izin-nya diterbitkan. Kemudian program lainnya terkait penanganan banjir ini adalah menata bendungan dan kawasan penampungan air(folder), dengan melakukan penguragan.

Program penanganan banjir tadi dapat dipastikan membutuhkan biaya besar, sementara potensi pendanaan APBD Kota Samarinda relatif terbatas, sehingga alternatifnya adalah mencari pembiayaan dalam bentuk bantuan keuangan Provinsi Kalimantan Timur dan DAK APBN. Permasalahannya adalah pihak Z2S harus berani memastikan strategi untuk mendapatkan dana tersebut, inilah yang harus diketahui oleh masyarakat, karena dalam diskusi publik masih belum terungkap tuntas.

Program prioritas lainnya, yaitu membentuk SDM yang berkualitas diantaranya dilakukan dengan caramemberikan bantuan pendidikan dan subsidi keikutsertaan warga pada BPJS. Untuk membiayai program ini harus mampu meningkatkan potensi PAD.Pihak Z2S mentargetkan peningkatan PAD 15-25 %, namun ini dipertanyakan oleh Panelis terkait upaya yang harus diakukan, yaitu tidak hanya melakukan upaya intensifikasi maupun ekstensifikasi pendapatan saja, namun harus ada upaya meningkatkan obyek pendapatan secara makro melalui dorongan terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

Program pengembangan ekonomi kerakyatan maupun ekonomi kreatif yang diusung Z2S, salah satu upaya yang ditawarkan adalah menata kembali kawasan Citra Niaga, menghidupkan kembali aura-nya sebagai sentra pemagangan bagi para UKM sebelum naik kelas menjadi pengusaha formal. Penataan kawasan Citra Niaga merupakan ide cemerlang dalam konteks saat ini, karena bertambahnya penduduk Kota Samarinda perlu ada penyerapan angkatan kerja baru, serta harus ada ikon baru yang dapat ditawarkansehubungan dengan adanya IKN. Lanjutkan sahabatku, anda ber-2 telah membuktikan kualitas yang seharusnya, berani untuk tampil.

Konsep Calon Lainnya : Akan Terjadi Face to Face Fighting

Sebelumnya sudah saya utarakan bahwa AH dan Z2S dengan segala  kelebihan dan kekurangannya telah mengaktualisasikan diri sebagai calon Walikota/Wawali yang layak maju dalam Pilkada 2020 mendatang. Memang harus kita akui bahwa diskusi publik yang dilaksanakan PWI bukan merupakan satu-satunya ajang untuk melakukan aktualisasi dimaksud, masih banyak ajang lainnya yang dapat dimanfaatkan, namun momentumnya yang berbeda.Diskusi publik PWI ini merupakan langkah curi star yang tidak menyalahi aturan, sehingga sangat disayangkan para calon lainnya tidak memanfaatkan momentum ini.

Bukan hal yang terlambat untuk segera mempublikasikan konsep yang ditawarkan, terlepas dari sudah memiliki pasangan definitif atau belum, karena menawarkan program yang sudah diutarakan calon lainnya terlebih dahulu, akan dipersepsikan mengikuti program calon lain tersebut. Masalahnya adalah mau atau tidak saja lagi untuk melakukannyasegera.

Saya prediksikan bahwa nantinya hanya ada 2 pasangan calon Walikota/Wawali yang akan maju pada Pilkada 2020, dan masih ada 1 pasangan lainnya yang berpeluang untuk maju, sehingga dapat terjadi 3 pasangan yang bertarungnantinya. Akan tetapi, saya masih berkeyakinan bahwa menjelang detik-detik terakhir hanya ada 2 pasangan saja.Beberapa alasannya adalah :

(1)​Partai Politik yang paham berdemokrasi tentu tidak akan berspekulasi mengajukan calon yang tidak memiliki kapasitas, karena menyangkut kredibilitas Partai Politik bersangkutan ;

(2) ​Kualitas para calon tidak ditentukan dari maraknya publikasi, tetapi keberanian untuk utarakan konsep (“visi-misi”) secara terbuka ;

(3) Tidak memiliki konsep merupakan indikasi belum solidnya Tim Sukses, atau sebaliknya belum siap membentuk Tim Sukses permanen, karena karaguan untuk maju terutama kepastian dukungan sumber daya ;

(4) ​Belum berani tampil terbuka, seperti diskusi publik PWI, ada kemungkinan masih disibukan urusan konsolidasi internal; atau mencari pasangan dan sekaligus yang dapat diajak berbagi beban; atau belum ada kepastian Patai Politik pengusung ; dan

(5)​Sekedar memposisikan diri melalui publikasi dan penggalangan massa dalam skala kecil. Pasif menunggu pinangan calon lain.

Prediksi saya ini bukan merupakan kepastian, tapi dengan beberapa alasan diatas, kita harus siap akanterjadinya face to face fighting pada Pilkda 2020. Gelagatnya sudah mulai kelihatan saat ini. (*)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.