Cegah Stunting dengan ASI

September 16, 2019 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA – Kalimantan Timur menghadapi masalah serius dalam urusan air susu ibu (ASI), utamanya untuk ASI eksklusif (sejak bayi lahir hingga berumur 6 bulan). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar di Kaltim pada tahun 2013 hingga 2018 terjadi penurunan signifikan untuk ASI eksklusif. Angka prevalensi penurunan ASI eksklusif cukup memprihatinkan, dimana pada tahun 2013 angka ASI eksklusif masih sekitar 69%, namun pada tahun 2018 ASI eksklusif di Kaltim melorot hingga 33,2%.

Penurunan tajam tersebut terjadi di antaranya disebabkan budaya memberikan makanan pralaktal (pemberian makanan bubuk, susu dan air sebelum ASI keluar, memberikan tambahan susu formula karena ASI tidak keluar, menghentikan ASI karena ibu atau bayi sakit dan ibu harus bekerja.

Padahal setiap bayi berhak mendapatkan kolostrum (ASI yang baru pertama keluar), inisiasi menyusu dini (IMD), ASI ekslusif dan makanan pendamping ASI (MP ASI) secara tepat.
“Kenyataan ini harus menjadi kekhawatiran kita bersama. Oleh sebab itu, kami mengajak para ibu di Kaltim untuk dengan bahagia dan senang hati dapat menyusui anak-anak mereka. Setidaknya dengan ASI eksklusif,” kata Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kaltim Hj Norbaiti Isran Noor di Gedung PKK Kaltim Jalan M Yamin, Senin (16/9).

Mengingat pentingnya penggunaan ASI eksklusif ini, maka bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kaltim, Selasa hari ini (17/9), TP PKK Kaltim akan menggelar Workshop Pekan ASI Sedunia Tahun 2019 dalam rangka Percepatan Penurunan Stunting di Pendopo Odah Etam Samarinda.

Norbaiti menjelaskan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (Unicef) mencatat lebih dari 50% kematian balita diakibatkan kekurangan gizi dan 2/3 dari mereka karena pemberian makan yang kurang tepat dan rendahnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), serta lambatnya memberikan Makanan Pendamping ASI.
Keadaan ini membuat daya tahan tubuh anak menjadi lemah, mudah sakit dan gagal tumbuh. Hingga tahun 2017 balita Kaltim masih mengalami kekurangan gizi. Persentasenya bahkan terus mengalami kenaikan.

Prevalensi balita pendek (stunting) misalnya. Dari Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015 tercatat 26,6%, meningkat pada 2016 menjadi 27,1% dan naik lagi pada 2017 menjadi 30,6%.

“Dengan ASI dan makanan pendamping yang tepat, saya yakin anak-anak kita akan tumbuh sehat dan berkembang dengan baik. Karena itu perlu kerja keras semua pihak dan dukungan dari para ibu dan ayah juga,” seru istri orang nomor satu di pemerintahan Kaltim itu.

Baginya kesadaran untuk menyusui akan menjadi investasi terbaik bagi perkembangan intelektual dan kesehatan generasi bangsa.
Workshop yang akan dilaksanakan hari ini mengusung tema

“Percepatan penurunan stunting melalui dukungan ayah dan ibu dalam keberhasilan menyusui”.

Narasumber kegiatan ini antara lain Ketua TP PKK Kaltim Hj Norbaiti Isran Noor, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dan dr Nanan Surya Perdana (Konselor ASI). (sam)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.