Pendidikan yang punya nilai Keberkahan

March 3, 2019 by  
Filed under Opini

PARA santri berkumpul di depan ruang guru, melihat sederet kertas-kertas yang tertempel di mading, membaca dengan seksama serta penuh rasa penasaran. Suasana begitu syahdu, rona wajah mereka menunjukkan rasa suka cita yang begitu mendalam. Yaa, sebentar lagi jatah kepulangan santri akan tiba. Tiket pesawat, kereta, bis dan alat transportasi lainnya sudah di booking bahkan di beli jauh-jauh hari guna mengantarkan mereka menuju rumah tercinta dan bertemu orang-orang terkasih.

Hanya menghitung hari, kepulangan akan tiba. Tetapi tidak untuk santri kelas 12, mereka harus tetap berada di pondok pesantren guna berjuang melawan ujian akhir sekolah berstandar nasional (USBN) selama kurang lebih 2 pekan lamanya. Bagi sebagian santri kelas 12, hal ini merupakan sebuah nasihat bahwa hidup itu tak selamanya manis, harus ada pahitnya, kecutnya, asem-asem dikit agar yang manis itu terasa sampai hati.

Keesokan hari, wajah-wajah yang kemaren sumringah, gembira, senang tiba-tiba berubah menjadi murung, cemberut, bahkan suram. Di benak saya bertanya-tanya, “Ada gerangan apa ini??”. Saya mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada santri. “Mas, ada apa ini, kok pada suram semua muka-muka nya???”.S

alah satu dari santri ada yang menyahut dan menjawab dengan nada yang begitu kesal tetapi tak tersampaikan kekesalannya itu, “ini loh mas, aku udah beli tiket pulang sama temen-temen, yang lain udah pada bilang orang tuanya kalo besok mau kepulangan, eh tiba-tiba di omongin kalo kepulangan di batalkan.”

Hanya bisa tersenyum melihat kekesalan mereka, melihat emosi mereka yang ga jelas, melihat lagak mereka yang males ngapa-ngapain, sudah kayak mau akhir dari segalanya. Di dalam hati saya bergumam, “Namanya aja santri, kalian ga bisa apa-apa, ngikut aja yang di instruksikan, InsyaAllah itu yang terbaik.”

Saya meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke serambi masjid, sedikit berfikir dan merenung serta mengambil hikmah dari apa yang tadi saya lihat, bahwa seluruh manusia itu tidak bisa apa-apa, kalau Allah sudah menetapkan suatu hal, maka tak ada yang dapat merubah hal itu kecuali diri-Nya dan pendidikan itu tidak hanya sebatas pembelajaran di kelas, masuk jam 7 pagi pulang jam 2 siang, bukan seperti itu hakikat dari sebuah pendidikan, toh kalau hanya seperti itu namanya pendidikan Transsaksional.

Anda membayar kami berikan. Pendidikan itu yang terpenting adalah pendidikan karakter dan akhlak. Bagaimana ulama-ulama terdahulu mereka belajar karakter dan akhlak sekian tahun lamanya. Tujuannya itu adalah mendapatkan berkah dari ilmu yang di peroleh, bukan mendapatkan banyak ilmu yang di peroleh.

Jika ilmu itu tidak berkah, ia ibarat setumpuk sampah, tak ada nilai jualnya di mata Allah, tak ada gunanya bagi siapapun, tetapi jika ilmu itu berkah, InsyaAllah ia akan bermanfaat dunia dan akhirat serta dapat menghantarkan kita menuju ke-ridha-an Allah SWT. Ingat sahabat, mencari ilmu itu adalah mencari keberkahan bukan mencari banyaknya yang di dapat.(Usamah Bima Shafa / Santri pondok pesantren Ihsanul Fikri Mungkit Magelang)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.