Srikandi Flores Timur, Mengudara di RRI Tarakan

February 10, 2019 by  
Filed under Profil

Tarakan, vivaborneo.com, Hari Pers Nasional (HPN) Ke-64 tahun 2019 yang jatuh pada tanggal 9 Februari 2019. RRI Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara melalui Programa Satu mengomentari tentang kehidupan pers masa kini yang sudah barang tentu sangat banyak pernik perniknya. Baik dari sejarah wartawan sampai dengan media yang muncul secara beragam hingga berita-berita hoax.

Siang itu , Sabtu, tanggal 9 Februari 2019 sekira jam 11.00 siang terdengar suara lembut serak basah seorang penyiar tengah berdialog dengan salah satu wartawan di Tarakan yang boleh dikatakan wartawan era 80-an.
Melalui Fm.97.90 mhz, suara yang membahana terdengar diseluruh penjuru Kalimantan Utara. Suara lembut serak basah terdengar disuasana Hari Pers Nasional 2019, yang dipusatkan di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Dialah Firgo Eddy (38 th) seorang wanita kelahiran Desa Mangaleng, Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia adalah keluarga perantauan di Tarakan. Tidak disangka wanita asal Flores ini memilih jadi penyiar di Tarakan dan memiliki suara yang khas di RRI Tarakan.

Berawal dari kakeknya yang sudah sejak tahun 1960-an merantau ke Kota Tarakan, hingga saat ini keluarga besarnya masih menetap dan berdomisili dikota yang berjuluk “Little Singapore” ini.

Awal cerita kenapa sampai Firgo terjun ke dunia cuap-cuap ini karena adalah suatu hal yang tak pernah dipikirkannya untuk bercita cita jadi penyiar.

Awalnya pada tahun 2006 ketika ia masih bekerja di sebuah warung telekomunikasi (wartel) ia mendengar siaran RRI Tarakan yang mengumumkan penerimaan kerja untuk lowongan penyiar.

“Waktu saya masih berkerja di wartel, saya sering mendengarkan siaran RRI Tarakan dan saya mendengar ada informasi penerimaan penyiar dan saya coba melamar,memberanikan diri” ujar firgo.,” ujarnya kepada wartawan vivaborneo.com.

Waktu itu, ingatnya, peserta audisi ada 50 orang peserta, diantara yang hadir itu ada yang muda dan ada yang sudah berpengalaman penyiar serta peserta yang berprofesi sebagai wartawan. Saat itu, Firgo tidak berharap untuk lolos. Nyalinya hampir ciut.

Setelah diseleksi 50 0rang peserta itu yang berhasil maju untuk tahap berikutnya sekitar 6 orang peserta, termasuk dirinya. Kemudian dari 6 orang peserta tersebut, du tes kembali untuk membaca berita. Kemudian dipercayakan membawakan acara lomba menggambar dan mewarnai tingkat Taman Kanak Kanak. Setelah melalui proses bermacam tingkatan ini maka ahirnya diterimalah 2 orang penyiar.

Ia mengenang, dari dua orang penyiar ini, salah satunya adalah bernama Gode Permanayang kini menjadi rekan kerjanya. Setelah lolos seleksi ini, dirinya bersama Gode kemudian diikutkan pelatihan selama 3 bulan.
Hingga saat ini Firgo Eddy tetap eksis sebagai penyiar yang tentunya sudah banyak banyak memiliki pendengar. Tidak saja di Kota TArakan, tetapi juga beberapa kota lainnya di Provinsi Kaltara.

Sebagai penyiar yang mengemban tugas, tentu banyak suka dan duka yang dialami Firgo. Apa lagi jika bertugas di waktu subuh sejak pukul 04.00 dirinya pun harus sudah siap meninggalkan rumah.

“Subuh paling banyak tantangan. Apalagi melawan kantuk,sepi dijalan, apalagi jika dalam keadaan hujan lebat. Takut dibuntuti orang, jambret dan lain-lain,” ujarnya tertawa.

Namun tantangan itu tetap dirasakannya selama bertahun-tahun menjadi penyiar. Yang sangat menakutkan menurut Firgo ketika dirinya pernah dibuntuti pria mabuk saat turun dinas subuh. Apalagi saat pulang jam 12 tengah malam suasana Kota Tarakan mulai sepi.

Pengalaman seru lainnya, ujarnya, adalah tantangan cuaca saat hujan lebat dan kadang kebanjiran di tengah jalanan menuju ke kantor ataupun pulang ke rumah usai bertugas.

Acara yang diasuh oleh Firgo adalah acara ragam budaya. Disamping itu ia juga sebagai penulis naskah sandiwara radio, reporter minggu di gereja dan hiburan lagu-lagu dangdut.

Firgo juga kadang mengasuh acara MPL yaitu Musik Pelepas Lelah dengan sajian lagu-lagu lama bernuansa nostalgia bagi pendengarnya.

Firgo Eddy yang lahir di NTT, 4 September 1981 merupakan anak tunggal atas perkawinan antara Eddy Sili Teka dengan Maria Magdalena.

Ia pernah tinggal selama beberapa tahun di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, dari tahun 1986 sampai dengan tahun 2002. Sejak tahun 2002 hingga sekarang menetap di Tarakan.

Selama di Malaysia, ia pernah mengenyam pendidikan di sekolah dasar sekolah kebangsaan Puun Tunoh, Penampang, Sabah, Malaysia. Dan sekolah menengah di sekolah menengah kebangsaan Datuk Peter Mojuntin, juga di Penampang, Sabah, Malaysia.

Ketika ditanyakan kesan apa yg diperoleh selama menjadi penyiar, ia mengatakan bahwa pekerjaan penyiar merupakan profesi yang menyenangkan.

“Menyenangkan dan cukup banyak mendapat tantangan. Banyak belajar hal yang baru khususnya penyiaran dan jurnalistik,” ujarnya.

Iapun kini telah menyelesaikan kuliahnya, dengan gelar Sarjana Ekonomi(SE) pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bulungan di Tarakan.

Wanita cantik yang hobby membaca dan travelling ini mengatakan akan tetap menjadi penyiar selama tenaga dan suaranya masih dibutuhkan. Kecintaannya pada profesi penyiar inilah yang menyebabkan dirinya tetap eksis berada di Programa Satu RRI Tarakan.(vb/waldy)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.