XL Axiata Sosialisasikan Aplikasi “Laut Nusantara”

January 1, 2019 by  
Filed under Agrobisnis

Serang, Vivaborneo.com,  PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) melanjutkan program sosialisasi aplikasi “Laut Nusantara” kepada masyarakat nelayan Indonesia. Kali ini, XL Axiata bekerja sama dengan organisasi nelayan yakni Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) di wilayah Banten.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten, Ir. H. Suyitno, MM (tengah) bersama Perwakilan XL Axiata dan HNSI foto bersama perwakilan nelayan provinsi Banten usai menggelar acara Sosialisasi Aplikasi Laut Nusantara di Gedung Aula BAPPL STP Karangantu, Serang, Banten pada Kamis (28/12)/18)

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten, Ir. Suyitno  hadir membuka acara yang dilaksanakan di Gedung Aula BAPPL STP Karangantu, Serang, Banten, yang dihadiri sekitar 250 orang nelayan,  pada Kamis (28/12/2018.

Group Head XL Axiata Jabodetabek Region, Bambang Parikesit mengatakan setelah beberapa waktu yang lalu diluncurkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, XL Axiata mengenalkannya kepada masyarakat nelayan di berbagai daerah.

“Tujuan kami tidak hanya membuat saja, tetapi bisa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan untuk meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya akan membantu memperbaiki kualitas hidup mereka. Karena itu, kami juga memiliki program sosialisasi langsung kepada masyarakat nelayan di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Banten yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten,” ujarnya.

Lanjut Bambang Parikesit,  pada program sosialisasi ini tim dari XL Axiata mengajarkan langsung penggunaan aplikasi Laut Nusantara kepada para nelayan.

Tidak lupa, kepada mereka juga diberikan pemahaman mengenai manfaat dari pemanfaatan teknologi digital untuk membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan di laut, sekaligus memastikan keamanan mereka dalam bekerja.

Salah satu fitur yang mereka butuhkan adalah petunjuk lokasi tempat ikan berada, yang selama ini tidak bisa mereka perkirakan. Teknologi digital yang didukung data satelit mampu memberikan data-data tersebut.

XL Axiata dan Kementerian Kelautan dan Perikanan berharap pengetahuan dan materi edukasi yang sudah diberikan selanjutnya bisa diteruskan kepada warga nelayan lainnya.

Dengan demikian, aplikasi Laut Nusantara bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang lebih luas. Bersamaan dengan pelatihan tersebut, XL Axiata juga menyerahkan donasi perangkat smartphone yang sudah dilengkapi dengan aplikasi Laut Nusantara dan paket data selama 1 bulan.

Aplikasi “Laut Nusantara” yang dibangun selama kurang lebih 5 bulan ini didukung basis informasi yang lengkap dan real time. Serta sumber data sepenuhnya dari Balai Riset dan Observasi Laut (BROL). Sebagai lembaga riset dan observasi kelautan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, BROL memiliki data kelautan yang sangat lengkap dan sangat berguna untuk pengembangan di bidang kelautan, termasuk manfaat praktis bagi nelayan kecil.

Data-data dari BROL juga up to date dan berdasarkan riset dan observasi laut di seluruh wilayah nusantara. Semua informasi kelautan yang terdapat dalam Aplikasi Laut Nusantara ini didapat secara langsung dari stasiun bumi Balai Riset dan Observasi Laut, sehingga tidak diragukan keakuratannya.

“Updating data dilakukan setiap tiga hari berdasarkan data dari satelit khusus. Sementara itu, data yang bersifat prakiraan berdasarkan analisa data selama 20 tahun ke belakang. Tim XL Axiata dan BROL sebelumnya sudah melakukan penelitian dan survey ke sejumlah komunitas nelayan di berbagai daerah untuk mengetahui kebutuhan mereka terkait informasi seputar aktivitas penangkapan ikan,” jelas Bambang.

Masyarakat nelayan di seluruh Indonesia bisa mengunduh aplikasi Laut Nusantara di Play Store secara gratis melalui smartphone Android dengan menggunakan operator layanan data. Aplikasi ini bisa dipergunakan oleh nelayan saat melaut sejauh smartphone mereka masih bisa menangkap sinyal data dari operator.

“Berdasarkan ujicoba di sejumlah daerah, aplikasi masih bisa dibuka hingga jarak 10 mil dari pantai. Jarak ini masih sangat relevan mengingat nelayan kecil, dengan perahu berjungkung dan bentuk perahu tradisional berukuran kecil lainnya memiliki daya jangkau rata-rata kurang dari 20 mil laut,” ucap Bambang.(vb/yul)

 

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.