ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Setiap Warga Negara Wajib Membela Tanah Air

October 19, 2018 by  
Filed under Hukum & Kriminal

Share this news

Samarinda, vivaborneo.com, Kantor Perwakilan Kementerian Pertahanan (PKP) Provinsi Kalimantan Timur  (Kaltim) mengajak seluruh mahasiswa di Kaltim untuk lebih mempertebal kecintaan terhadap tanah air Indonesia.

Selain menyelenggarakan Parade Cinta Tanah Air, Kader Bela Negara hingga pelatihan Resimen Mahasiswa (Menwa) bagi makasiswa di beberapa perguruan tinggi di Samarinda, PKP berupaya agar mahasiswa mampu berpartisipasi dalam upaya bela negara jika terjadi ancaman militer dan non militer.

“Dalam Undang-Undang telah disebutkan bahwa setiap warga negara berhak membela negara dari berbagai ancaman. Kewajiban membela negara ini menjadikan bangsa Indoensia kuat dan disegani oleh negara lain,” ujar Kepala PKP Kaltim, Brigjen TNI Rukman Ahmad, saat sarasehan di kalangan pendidikan dan pekerja yang berlangsung di Bandiklat Kaltim, pada Kamis (19/10).

Dijelaskan jenderal bintang satu ini, bahwa Kementerian Pertahanan telah membagi ancaman non militer sebanyak tujuh jenis, yaitu ancaman politik, ideologi, tehnologi, terorisme, narkotika,  pekerja asing, hingga ancaman legialasi.

“Dari tujuh identifikasi ancaman ini masih dijabarkan lagi menjadi 50 jenis ancaman non militer yang mengancam bangsa Indoesia,” ujarnya.

Namun demikian, ujarnya, peran mahasiswa dalam hal membela negara cukup dengan mengikuti kegiatan-kegiatan positif diantaranya menfaktifkan kembali kegiatan  Resimen Mahasiswa.

Kewajiban bela negara, tegas Rukman, telah melekat disetiap diri bangsa Indonesia. Sehingga, tidak perlu lagi ada wajib militer bagi mahasiswa ataupun rakyat Indonesia, seperti negara-negara lain semisal Amerika Serikat.

Di masa lalu, ujarnya Menwa merupakan kegiatan ekstrakulikuler di perguruan tinggi selain kegiatan-kegiatan lainnya. Namun, seiring dengan waktu, kegiatan Menwa dihentikan karena ada yang beranggapan kampus bukan zona militer. Sehingga semua yang beratribut militer harus dihilangkan dari lingkungan kampus.

Sementara itu, Komandan Alumni Resimen Mahasiswa Wilayah Kaltim dan Kaltara,  Dr. Abdul Rais mengatakan saat era Orde Baru, pelatihan Menwa dianggap sebagai kader militer di kampus.  Sementara pada saat reformasi, kampus dikader untuk berorganisasi.

“Sebenarnya tidak begitu. Kader Menwa hanya untuk melatih mahasiswa sebagai bagian dari pertahanan negara. Kini, keberadaan Menwa di kampus akan diaktifkan kembali untuk membentuk disiplin mahasiswa,” ujarnya.

Dalam sarasehan pertahanan negara di lingkungan pendidikan ini diikuti lebih dari 60 orang peserta dari kampus Polnes Samarinda, Widyagama, Stikes WHS, IAIN, Stimik Wicida dan Untag 1945. Para mahasiswa selain dikenalkan dengan organisasi Menwa, juga dikenalkan dengan baris berbaris dan penggunaan kompas.(yaya)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.