Pengalaman di Pesantren Bisnis Indonesia  Kuatkan Tekadku

August 1, 2018 by  
Filed under Profil

BERSYUKUR sekali menjadi salah satu peserta yang terpilih bisa belajar bareng di Pesantren Bisnis Indonesia (PBI) pada kelas Business Basic Training (BBT) ke-25 di Wonosobo 27-29 Juli 2018 lalu. Sejak ada pendaftaran BBT di jogja beberapa waktu yang lalu,  saya sudah berkeinginan mengikuti namun qodarullah saat itu form sdh saya isi lengkap tapi  selalu gagal saya kirim. Akhirnya Alhamdulillah  Allah ijinkan lolos di BBT #25 Wonosobo.Saya teramat sangat yakin bahwa hanya karena Allah yg memperjalankan langkah kaki ini,  sehingga saya bisa sampai ke kota dingin Wonosobo dan Allah pasti punya pesan-pesan indah pada saya.

Saya dilahirkan di tengah keluarga non muslim yg ber KTP islam. Bapak saya murtad 6 tahun sebelum saya lahir, berpindah menjadi salah satu penganut kepercayaan namun ber KTP islam karena kepercayaan tidak termasuk agama yang diakui di Indonesia.

Dari kecil saya yg anak kelima dari 6 bersaudara diijinkan ikut mengaji di masjid kampung dengan alasan agar tidak ketinggalan pelajaran agama di sekolah. Menginjak usia SMP saya semakin tekun mendalami Islam hingga ditentang oleh salah satu kakak.

Tapi entahlah, kekuatan itu dari Allah sehingga anak sekecil saya waktu itu bisa bertahan terus dengan keyakinan saya. Memasuki usia SMA saya hilang arah dan akhirnya menikah setelah selesai SMA.  Sejak menikah saya memulai usaha kecil kecilan yg lama lama menjadi besar tapi akhirnya jatuh karena terjerat riba.

Saya pernah bekerja di lingkungan pemerintahan tapi lagi-lagi resign krn banyak riba di dalamnya. Dalam jatuh bangun itu akhirnya saya memutuskan untuk berIslam secara benar. Ya saya hijrah pelan-pelan.

Awal berhijab kecil dan harus ngumpet dari keluarga sehingga akhirnya berproses dan mengambil hijab besar sebagai pilihan sebagaimana yg telah tersebut dalam Alquran. Saat hijrah dengan kondisi ekonomi yang pontang panting.

Saya menjadi terbiasa di bully habis habisan. Saya yang berjuang mempertahankan aqidah di tengah cercaan dan hinaan keluarga sendiri. Di bully tentang Islam, tentang krudung besar yang saya kenakan, tentang kaos kaki yang kemana mana saya pakai, tentang murojaah hafalan bersama anak-anak, dan masih banyak yang lain. Dan suami yang muslim pun selama ini tidak bisa membela karena kami belum satu visi.

Kegiatan workshop atau seminar bisnis adalah kegiatan yang biasa saya ikuti karena saya memang tipe pembelajar sehingga rasa haus akan ilmu selalu ada. Model belajar dengan mengosongkan gelas itu yang saya lakukan.

“Saking getolnya belajar,  pernah saya berkali-kali bertemu satu mentor di beberapa seminar yang beliau isi dan di suatu pelatihan. Saat sesi tanya jawab saya mengajukan pertanyaan,  dan apa kata mentor tersebut, sebenarnya mbak Retno itu ada berapa ya? Kok dimana mana ada,” ujarnya.

Semangat mengikuti BBT #25 tentu juga berawal dari semangat belajar. Setelah mendaftar saya selalu berdoa jika mengikuti BBT #25 adalah yang terbaik mudahkanlah Ya Allah.

‌Jujur saat berangkat ke Wonosobo saya bagai seekor rajawali besar yang patah kedua sayapnya. Semangat berjuang yang dulu menggebu gebu terasa mengendur pelan pelan.

Saya yang tipikal getol belajar melihat suami yang stagnan di satu titik berasa pengin menyerah. Saya yang ghirroh Islamnya dulu begitu menggebu serasa semakin kabur tersapu angin puting beliung.

Entahlah, mungkin karena kesuksesan besar yang saya harapkan belum segera menghampiri,  sementara upaya terus saya lakukan dan cercaan menjadi hal yang biasa mampir di telinga saya.

Ditambah keberhasilan finansial adik yang bukan muslim namun birulwalidainnya begitu sungguh- sungguh secara finansial, sementara saya yang notabene muslim tidak mampu memberikan seperti yang adik berikan pada orang tua.

Yah, saya patah semangat kala itu, tapi ternyata Allah lebih Ridho saya yang punya semangat menggebu dengan memperjalankan kaki ini ke Wonosobo. Saat sesi muhasabah tangis saya paling kenceng apalagi saat diminta mengingat dosa ke suami dan orang tua.

Air mata ini deras mengalir, saat Ustadz Arif minta kami memejamkan mata itulah magic moment bagi saya. Terbayang saya belum bisa jadi istri yang baik karena visi yang berbeda. Saya belum jadi anak yang baik karena aqidah yang berbeda…

Duh Robb, tangis ini semakin kenceng, saat kembali mendengar kata-kata ustadz bahwa apapun yang mereka lakukan pada kita itu urusan mereka dengan Allah, urusan kita sebagai istri adalah berbakti dan mengabdi,  urusan kita sebagai anak adalah berbakti dan mengabdi.

Kata-kata itu seakan membangunkan saya dari mimpi, menyadarkan kembali saya tentang apa yang harus saya lakukan. Saat sesi family mastery kembali keluar magic word dari Ustadz,  yang Masyaa Allah luar biasa tentang suami istri. Suami istri itu pasangan bukan kembaran,  tugas kita bukan mencari pasangan yang sempurna, namun tugas kita adalah menerimanya dengan sempurna.

Kembali seperti ditampar dengan kata-kata rasanya. Di saat suara Ustadz kembali menggelegar agar mendoakan siapapun yang di.  rumah agar dilembutkan hati mereka, sembari terisak doa itu mengalir,

“Ya Allah lembutkanlah hati suami dan orang tua hamba, berikan hidayah pada kedua orang tua hamba sebelum ajal menjemput mereka, ijinkan mereka kelak meninggal dalam konsisi iman dan Islam dan dalam pelukan hamba”.

Dan doa itu benar-benar Allah ijabah karena saat sampai rumah sikap suami dan orang tua benar-benar berbeda, Allahu Akbar. Semoga doa tentang hidayah juga akan segera Allah ijabah, aamiin. Karena  seandainya hidayah itu bisa dibeli mungkin saya berani lapar untuk membelikan hidayah untuk orang tua dan saudara-saudara saya.

Terimakasih Ya Allah, kau telah kembalikan aku yang sesungguhnya melalui wasilah BBT #25 di kota dingin Wonosobo.

Terimakasih untuk seluruh Ustadz, panitia, relawan BBT #25 Wonosobo wa bil khusus Ustadz Arif Abu Syamil yang Masyaa Allah luar biasa, Barokallahu fiikum Ustadz, semoga Allah senantiasa merahmati semuanya.

Terimakasih ayah untuk ijin yang telah begitu mudah kau berikan.

Terimakasih mbah kakung mbah putri yang telah membantu menjaga anak-anak saat saya tinggal, semoga bantuannya menjadi salah satu wasilah hidayah.

Terimakasih anak-anak yang begitu solih dan tidak merepotkan saat bunda tinggal.  Terimakasih sahabat- sahabat seperjuangan yang telah menorehkan moment kebersamaan teramat indah di Wonosobo.

Malam itu tanggal 29 Juli 2018, saya telah kembali menjadi pribadi yang pantang menyerah memperjuangkan kehidupan dunia akhirat terbaik untuk anak-anak tercinta, mempersembahkan yang terbaik untuk kedua orang tua.

Saya akan kembali pada pilihan semula, menjadi pemenang bukan pecundang. Saya akan terus menjadi penebar kebaikan seperti yang selama ini telah saya lakukan ikhlas semata karena Allah. Saya takkan menyerah dan akan menyelesaikan sampai garis finish.

Saya akan terus berjuang dan takkan ada yang menghentikan selain maut. Saya akan menjadi orang yang akan selalu ambil bagian dalam kebangkitan dan kejayaan Islam. Dan saya yakin, anak-anak kelak akan menjadi umat Islam yang tangguh, yang kuat dan akan selalu memberi kontribusi berharga untuk kejayaan Islam,

Allahu Akbar. Malam itu kedua sayap rajawali ini seakan mendapat energi baru agar terus terbang, setinggi langit dan tak boleh menyerah,  Masyaa Allah. (Kiriman Retno Wahyuningsih-Temanggung)

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.