Menekan Inflasi untuk Tingkatkan Kesejahteraan

November 27, 2017 by  
Filed under Agrobisnis, Profil

“Seorang  ibu di sebuah desa meratapi nasib ketika pergi ke warung membeli mi instan untuk anak-anaknya. Mi instan yang didapatnya hanya  dua bungkus  dengan harga masing-masing Rp5.000 per bungkusnya. Padahal, bulan lalu ketika dirinya membeli mi instan dengan merk yang sama, masih mendapatkan empat bungkus karena harga perbungkusnya hanya Rp2.500 saja.”

Itulah gambaran sederhana tentang inflasi yang tinggi dan terus menerus sehingga mampu memangkas  daya beli dan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat.  Inflasi kerap digambarkan  sebagai “pencuri yang tidak terlihat” yang mampu membuat sebuah rumah tangga mendadak miskin.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)  hingga bulan Maret 2017,  penduduk miskin di Indonesia  tercatat berjumlah 27,77 juta jiwa. Manakala inflasi tinggi, maka  daya beli warga miskin bertambah terpuruk. Sementara warga  di garis “abu-abu” yang berada sedikit di atas garis kemiskinan,  pun turut menjadi warga miskin sementara

Untuk mewujudkan inflasi yang rendah, sejumlah negara miskin dan berkembang seperti Indonesia, selalu menjaga  distribusi barang agar lancar, menjaga stok barang  agar tetap tersedia hingga  menjaga stabilitas harga  yang terjangkau bagi masyarakat luas.

Untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan yang lebih lengkap, tepat  dan  akurat, Bank Indonesia memberikan Pelatihan bagi Wartawan Daerah  seluruh Nusantara yang tidak saja mengulas tentang inflasi, tetapi berbagai kebijakan ekonomi dan moneter terbaru Indonesia.

“Melalui pelatihan wartawan daerah diharapkan awak media lebih peka dan paham terhadap isu inflasi setiap bulan. Begitupun dengan situasi ekonomi lokal dan global serta kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Wartawan yang baik  akan mampu menyampaikannya kepada  masyarakat dengan lebih mudah dimengerti,” ucap Kepala Bidang Komunikasi Bank Indonesia, saat pembukaan pelatihan yang berlangsung 19-22 November 2017 di Jakarta.

Dalam penyelenggaraan pelatihan yang ke dua ini, Bank Indonesia tetap memprioritaskan bahasan tentang inflasi agar dipahami dan dimengerti oleh peserta pelatihan, karena setiap bulan baik Badan Pusat Statistik (BPS) yang diberi mandat mengola data inflasi, juga Bank Indonesia sebagai bank sentral turut merilis tingkat inflasi sebagai bagian dari tanggungjawab lembaga moneter terhadap ekonomi masyarakat.

Karena rutin dirilis setiap bulan inilah, diharapkan setiap wartawan di daerah mampu membaca, memahami, dan menyampaikan data yang didapat kepada masyarakat luas melalui hasil karya jurnalistik.

Sementara itu,  Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Iskandar Simorangkir  menjelaskan  hingga bulan Oktober 2017, angka inflasi hampir di seluruh Indonesia dapat terjaga dalam rentang sasaran 4 + (-) 1 persen.

“Fokus utama dalam pengendalian inflasi daerah istilahnya bertumpu pada 4 K yaitu Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi dan Komunikasi yang efektif,” ujarnya.

Salah satu penyumbang inflasi berasal dari komoditas volatile foods, yaitu komoditas bahan makanan yang rentan terhadap gangguan sisi pasokan sehingga memiliki volatilitas harga yang tinggi. Permasalahan pada komoditas volatile foods terjadi dihampir seluruh wilayah Indonesia umumnya karena terkait dengan kendala produksi.

Untuk mengatasi kendala produksi dan menjaga ketersediaan stok,   Bank Indonesia telah membangun kluster-kluster produk pangan, seperti padi, bawang merah dan putih, cabai serta peternakan sapi.

Sejak tahun 2014 pengembangan Program Pengendalian Inflasi  melalui kluster-kluster  difokuskan pada komoditas ketahanan pangan, komoditas berorientasi ekspor dan komoditas sumber tekanan inflasi (volatile foods). Tujuannya meningkatkan kapasitas kelompok tani, koperasi dan  UMKM untuk memperkecil kesenjangan antar asupply dan demand sehingga dapat  meminimalisir tekanan harga yang mendorong inflasi.

Hingga kini, terdapat 173 kluster binaan komoditas pertanian di seluruh Indonesia, dengan pemanfaatan lahan seluas 7.354 hektar dan melibatkan 13.767 petani dan peternak. Jumlah tenaga kerja yang mampu diserap oleh kluster-kluster ini tercatat berjumlah 27.552 tenaga kerja.

Dari 173 kluster ini terbagi dalam 36 wilayah kluster tanaman padi, 33 kluster tanaman cabai,  34 kluster bawang merah, 7 kluster bawang putih, 37 kluster peternakan sapi, dank luster aneka jenis sebanyak 26 wilayah.

Untuk Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Bank Indonesia Perwakilan Kaltim telah sukses membentuk kluster penggembangan sapi potong terintegrasi di Desa Lubuk Sawah Kecamatan Samarinda Utara. Dengan 25 peternak, kini sapi yang dipelihara tidak kurang 150 ekor.

Sementara itu,   Kantor Perwakilan BI Kota Balikpapan juga sukses mengembangkan kluster tanaman bawang merah di Desa Rintik Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Bantuan ini khusus untuk pengembangan bibit bawang merah seluas satu hektar lengkap dengan gudang penyimpanan pasca panen.

Upaya BI Balikpapan ini memotivasi Dinas Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan Provinsi Kaltim untuk turut memberikan bantuan kepada Kelompok Tani Karya Usaha berupa bibit bawang merah untuk memenuhi konsumsi masyarakat dengan luas lahan 10 hektar.

Selain kluster bawang merah,  KPw Balikpapan juga telah sukses secara nasional menanamkan “ilmu inflasi” kepada siswa sekolah menengah pertama dan lanjutan dengan program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) melalui tanaman cabai organik di halaman sekolah.

“Dengan program SPI ini diharapkan siswa memahami apa itu arti inflasi dalam kehidupan sehari-hari dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Salah satu cara adalah mengendalikan inflasi melalui komoditas cabai yang mudah ditanam,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Suharman Tabrani.

Dari Pelatihan Wartawan Daerah oleh Bank Indonesia ini harapanya wartawan menjadi cerdas. Jikalau wartawan  cerdas dan cakap, tentu akan mengedukasi dan memotivasi masyarakat untuk turut serta dalam  pengendalian inflasi secara sederhana dan menyeluruh.(vb/yuliawan andrianto)

 

 

 

 

 

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.