Bank Indonesia Dorong Transformasi Ekonomi Daerah

November 24, 2017 by  
Filed under Ekonomi & Bisnis

VIVABORNEO.COM,  Beberapa provinsi di Indonesia, seperti Riau, Kalimantan Timur, dan Papua yang selama beberapa dekade  mengandalkan sumber daya alam minyak bumi dan gas, kemudian disusul oleh komoditas batu bara dan bahan penggalian lainnya,  goyah diterpa turunnya harga komoditas dunia dan turunnya permintaan negara-negara yang selama ini menampung ekspor Indonesia.

Sejak krisis ekonomi di 2008 dan turunnya permintaan batu bara di akhir tahun 2013, menjadikan  sejumlah provinsi tersebut mengalami kontraksi minus dan  merasakan  perlambatan ekonomi di berbagai sendi ekonomi.

Masyarakat turut merasakan perlambatan ekonomi tersebut.  Pedagang makanan merasakan sepi pembeli. Sopir angkutan kota hingga ojeg motor merasakan sepi penumpang. Pegawai  dan buruh merasakan berkurangnya insentif yang mereka terima. Pokoknya,  hampir semua sendi ekonomi masyarakat merasakan sakitnya “rematik ekonomi” hingga kini.

Provinsi-provinsi yang selama beberapa dekade dikatakan sebagai provinsi kaya, turut merasakan kebangkrutan akibat goyangan ekonomi global tersebut. Semua orang berhemat. Begitupun pemerintah daerah turut memangkas sejumlah pekerjaan yang tidak dirasa belum prioritas.

Walaupun ekonomi Indonesia bergerak positif di sepanjang tahun 2017, namun masyarakat  kelas bawah masih merasakan “radang sendi” ini belum pulih secara sempurnya. Masyarakat masih membutuhkan stimulan-stimulan yang dapat mengangkat kesejahteraan mereka.

Deputi  Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara mengatakan pencapaian inflasi tahun 2017 diprediksi mencapai target karena sepanjang tahun 2017, inflasi masih terkendali dengan baik.

“Inflasi bulan Oktober tercatat sebesar 0,01 persen (mtm) atau 2,67 persen (ytd), terutama dipengaruhi oleh inflasi kelompok inti dan kelompok administered prices,” ucap Mirza saat menjadi keynote speaker dalam Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia yang berlangsung 19-22 November 2017 di Hotel Sahid Jaya Jakarta.

Dijelaskan Mirza,  transmisi  kebijakan moneter Indonesia adalah penurunan bunga deposito dan bunga kredit serta penyaluran kredit perbankan yang perlu ditingkatkan lagi untuk membantu ekonomi yang masih sakit ini.

Untuk mengobati radang ekonomi yang masih merah ini, Bank Indonesia terus mendorong sektor jasa pariwisata untuk perlahan-lahan menggantikan sektor migas dan pertambangan batu bara serta sektor penggalian lainnya.

Selain perkebunan, sektor pariwisata dianggap mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Modal dasar yang dimiliki bangsa Indonesia, seperti budaya, adat istiadat dan alam  yang  luar biasa indah  masih belum tergarap secara optimal.

Pemerintah terus mencari sumber-sumber destinasi wisata baru untuk menggantikan pariwisata Bali yang mulai mencapai titik penuh pada satu dua decade mendatang.

Pencarian Second Bali ini terus digenjot pembangunannya. Sebut saja, pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata  (KEKP) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, hampir di beberapa provinsi telah memiliki kawsan ekonomi khusus pariwisata.  Coral triangle Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara, kawasan taman bawah laut Raja Ampat Papua Barat dan kawasan ekonomi syariah di Kabupaten Banyuwangi,  diupayakan mampu menarik wisatawan dari Bali dan kawasan Timur Tengah  yang  mendambakan halal tourism.

Begitupun dengan Provinsi Kalimantan Timur yang ekonominya  ditopang oleh sektor migas dan pertambangan batu bara, sejak beberapa tahun lalu telah menjadikan  obyek wisata Kepulauan Derawan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata dengan membangun konektivitas infrastruktur.

Walaupun belum dapat menjadi “Bali Kedua” namun spirit dari provinsi dan kabupaten ini telah menyadarkan pemerintah daerah untuk perlahan namun pasti  mentranspormasi kebijakan –kebijakan yang masih berbasis migas dan batu bara ke arah pariwisata.

Mirza mengatakan,  potensi pariwisata Indonesia membuka peluang luas datangnya wisatawan untuk  menambah pundi-pundi devisa negara. Tercatat tahun 2016,  devisa yang masuk melalui sektor pariwisata ini mencapai hampir US$  5.000 million.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap cadangan devisa mencapai US$ 13,7 juta. Walau demikian, dibandingkan dengan negara-negara  lain di Asia Tenggara  Indonesia masih berada di bawah Thailand (49,9) dan Malaysia (18,1). Bahkan posisi Indonesia masih berada di bawah negara kecil berbentuk segitiga berlian Singapura , yang berhasil mengumpulkan devisa sebanyak 18,4.

“Walaupun devisa yang masuk dari sektor pariwisata ini banyak dan mampu menambah cadangan devisa negara,  namun masih banyak juga orang Indonesia yang berlibur dan menjadi wisatawan ke luar negeri,” tegas Mirza.

Dari data yang tersaji, Mirza menjelaskan jika empat komoditas utama Indonesia yaitu  batu bara, timah, crude palm oil (CPO) dan karet, telah melampaui harga tertinggi pada 5-7 tahun lalu. Kini harga empat komoditas ini cenderung turun dan tidak  tampak perbaikan harga yang ekonomis bagi masyarakat.

Transpormasi ekonomi dan kebijakan ekonomi di daerah memang sudah saatnya beralih ke sektor jasa dan pariwisata. Sektor pariwisata harus menjadi gerbong ekonomi baru untuk mendampingi sektor migas dan penggalian yang terus turun, serta sektor perkebunan yang terus ditingkatkan luasannya.

“Dengan banyaknya devisa yang masuk ke Indonesia dan pengendalian inflasi yang terus terjaga, diharapkan  ekonomi Indonesia mampu stabil dan dapat mensejahterakan masyarakat,” harap Mirza mengakhiri sesinya.(vb/yul)

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.