Dewan Pers Beberkan Ciri-Ciri Berita Hoax

November 13, 2017 by  
Filed under Opini

VIVABORNEO.COM, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, membeberkan beberapa ciri berita bohong yang biasa disebut hoax, saat tampil sebagai pemateri dalam kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat di Ternate, Maluku Utara, pertengahan  Agustus 2017 lalu. 

Stanley, demikian Yosep Adi Prasetyo disapa, menyebut ciri pertama hoax adalah begitu disebar, berita itu  dapat mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian pada masyarakat yang terpapar.

“Masyarakat yang terpapar hoax biasanya akan terpancing perdebatan. Jika sudah berdebat, mereka akan saling benci dan bermusuhan,” ujarnya.

Ciri kedua hoax, lanjut Stanley, adalah ketidakjelasan sumber beritanya. Jika diperhatikan, hoax di media sosial biasanya berasal dari pemberitaan yang tidak atau sulit terverifikasi.

Ciri ketiga informasi hoax, menurut dia adalah, isi pemberitaan tidak berimbang dan cenderung menyudutkan pihak tertentu.

Kemudian ciri keempat, kata Stanley, sering bermuatan fanatisme atas nama ideologi. Judul dan pengantarnya provokatif, memberikan penghakiman bahkan penghukuman tetapi menyembunyikan fakta dan data.

Ciri lainnya biasanya juga mencatut tokoh tertentu. Penyebarnya juga meminta apa yang dibagikannya agar dibagikan kembali.

Dari ciri-ciri hoax yang disebutkannya, Stanley meminta masyarakat untuk selalu waspada dan ikut mencegah peredarannya, karena semakin hari semakin mengkhawatirkan. Masyarakat juga diminta berlaku cerdas dalam membedakan konten dalam media sosial dan pers.

“Yang ada di media sosial itu informasi, belum terverifikasi kebenarannya. Oleh karena itu jika ada informasi di medsos, baca dengan teliti, klarifikasi kebenarannya, verifikasi dengan cara membandingkan berita yang sama dari sumber berbeda, jangan langsung diterima atau disebar ulang,” pesan Stanley.

Ia  memaparkan, sekarang  telah beredar 47 ribu media di seluruh Indonesia dengan 2.500 diantaranya media cetak dan 43.300 lainnya media online.  Namun, yang terverifikasi oleh Dewan Pers hanya 500 media cetak dan 168 media online. Sementara sisanya masih tidak diketahui validitasnya.

“Bahkan tak jarang kasus pemerasan dan penipuan terjadi dengan membawa embel-embel badan pers, padahal media tersebut adalah media abal-abal,” ujar Stanley menceritakan contoh kasus yang pernah ia temui.(Disadur dari website  dewan pers/WARTA KOTA/ http://dewanpers.or.id/berita/detail/875/dewan-pers-beberkan-ciri-ciri-berita-hoax)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.