Disbun Kembangkan Demplot Biopori Menggunakan Cacing

August 11, 2017 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA – Dinas Perkebunan Kaltim melalui Bidang Perkebunan Berkelanjutan mengembangkan demplot biopori dengan menggunakan cacing (Lumbricus rubellus) pada kebun lada milik masyarakat di Kabupaten Berau dan Penajam Paser Utara (PPU).

Kepala Bidang Perkebunan Berkelanjutan Henny Herdiyanto menjelaskan biopori adalah lorong-lorong kecil dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme seperti cacing, perakaran tanaman, rayap maupun fauna tanah lainnya.

“Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara menjadi tempat berlalunya air dalam tanah,” ujar Henny.

Manfaat biopori menurut dia, diantaranya untuk menyerap air hujan, menyuburkan tanah dan mendaur ulang sampah organis menjadi kompos.

Dia mengungkapkan dampak perubahan iklim mengakibatkan terjadinya banjir dan kekeringan yang dampaknya sudah dirasakan petani pekebun. Akibatnya, tingkat resiko kerugian hasil pada budidaya perkebunan semakin besar dan meningkat setiap tahunnya. Banjir maupun kemarau mengakibatkan fauna tanah seperti cacing hampir punah sehingga kesuburan tanah menurun padahal organisme itu ikut berperan menggemburkan tanah.

Karenanya, guna membantu mengatasi hal tersebut maka petani pekebun perlu dibekali pengetahuan, kemampuan dan keterampilan untuk melakukan konservasi tanah.

Demplot di lahan perkebunan rakyat menggunakan teknologi Vermipori atau teknologi pembuatan pori-pori alami tanah dibantu cacing jenis Lumbricus rubellus atau Eisenia foetisida.

“Bekerjasama dengan BengkelDen Bandung. Kita kembangkan teknologi Vermipori untuk memelihara, meningkatkan kesuburan tanah dan menyimpan cadangan air dalam tanah,” ungkap Henny.

Kegiatan biopori dilaksanakan di Desa Pesayan Kecamatan Sambaliung Berau dan Desa Argomulyo Kecamatan Sepaku PPU.(mas)

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.