Amaliah Syahadat Dalam Ibadah Haji

August 4, 2017 by  
Filed under Opini

Oleh: Firdaus, S.Ag *)

Puji dan syukur hanya milik Allah SWT. Tuhan penguasa alam semesta, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di tangan Allah jualah tergenggam segala kekuasaan. Kekayaan Allah meliputi segenap alam semesta ini. Shalawat dan salam semogatetap tercurah ke haribaan junjungan kita Nabiyullah Muhammad SAW. Penghulu dari semua nabi dan rasul Allah.

Rasanya baru kemarin kita melakukan ibadah fardhu puasa, sebulan suntuk. Malamnya kita melaksanakan ibadah shalat tarawih dan ibadah-ibadah lainnya. Berakhirnya bulan suci Ramadhan ditandai dengan kita melakukan sholat maghrib dan mengumandangkan takbir, tahli dan tahmid. Sebagai rasa syukur yang mendalam bahwa kita sudah dapat melaksanakan kewajiban ibadah fardhu puasa.

Saat ini kita umat Islam berada pada bulan Zulqaidah. Yaitu bulan persiapan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali Imron Ayat 97, “mengerjakan haji adalah kewajiban terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.”

Ibadah haji merupakan merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan. Sebagai bentuk upaya menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT, orang yang berhaji tentu saja mesti sudah yakin tentang ucapan dua kalimat syahadat, melaksanakan ibadah shalat fardhu lima waktu, menunaikan ibadah puasa, dan membayar zakat.

Nilai-nilai keempat ibadah wajib tersebut termasuk ke dalam proses perjalanan ibadah haji. Sebagaimana syarat haji yang salah satunya adalah beragama Islam. Keislaman bukan hanya sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi juga harus meyakini dengan sepenuh hati serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Segala bentuk perangai yang diperbuat tentu saja ditentukan seberapa besar keyakinan pada Allah SWT dengan mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Banyak pengalaman mereka yang telah pergi haji menjadi saksi bagaimana erangai yang buruk sebelum menunaikan ibadah haji akan mendapat balasan di Baitullah.

Mereka yang menjalankan ibadah haji juga tetap harus mengerjakan shalat lima waktu. Walaupun di perjalanan dapat keringanan (rukhsyah) untuk di-jama’ dan di-qashar. Seperti halnya juga ibadah puasa, orang yang berhaji juga ada muatan-muatan untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan ibadah haji serta hal-hal yang mengurangi nilai ibadah haji. Orang yang berhaji juga mengerluarkan sebagian harta yang dimilikinya, seperti zakat harta atau zakat maal, infaq dan shadaqah.

Hingga pada akhirnya, bagi kita yang belum mendapat panggilan menjadi tamu Allah SWT, seyogianya terlebih dahulu menunaikan dan memperkuat rukun Islam yang lain, mulai dari Syahadat hinggamengeluarkan Zakat. Agar setelah menjalankan ibadah haji dapat menjadi haji yang mabrur.

*) Penyuluh Agama Islam Tingkat Madya Kementerian Agama Kota Samarinda

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.