Biaya Jembatan Teluk Balikpapan Membengkak Rp.3,2 T

July 9, 2017 by  
Filed under Ekonomi & Bisnis

VIVABORNEO.COM, Pembangunan jembatan tol teluk balikpapan yang menghubungkan Kota Penajam dan Balikpapan,  dirediksi akan mengalami pembengkakan biaya karena adanya beberapa rencana perubahan desain.

Rencana pembangunan Jembatan Teluk Balikpapan yang menghubungkan Kota Balikpapan dan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara

Selain pembengkakan biaya, dapat dipastikan juga akan mengalami molor dari segi waktu karena hingga saat ini belum ada anggaran dana dari APBD kabupaten, kerjasama investor   dan dukungan pemerintah pusat untuk membantu  anggaran pembangunannya.

Bupati Penajam Paser Utara, Yusran Aspar mengakui saat ini sedang diadakan kajian atau simulasi ulang desain dan revisi beberapa  biaya dalam anggaran yang dibutuhkan.

“Jadi baru simulasi yah, bagaimana jika desain jembatan ini diubah (diperbaiki). Saya yakin jika ada investor yang berminat (sharing pendanaan) tentunya desainnya akan dikaji ulang bagaimana prospeknya, keuntungannya, dan balik modalnya. Kita berharap tetap ada kajian,” ucapnya.

Hal  ini dikatakan Yusran Aspar usai membuka lintas alam Pramuka Saka Wana Bhakti Kabupaten PPU  di taman kota hutan pinus Sesulu,  Sabtu (98/7/17).

Sebelumnya,   jembatan tol Teluk Balikpapan ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar Pp. 6,3 triliun,   namun jika revisi desain dilakukan, maka biaya akan  membengkak menjadi Rp. 9,5 triliun atau terjadi kenaikan sebesar Rp. 3,2 triliun

Dijelaskan Yusran Aspar, simulasi perubahan desain ini meliputi   penambahan tiang jembatan atau  pylon dari dua menjadi empat pilar.  Begitupun dengan penambahan cable stayed, serta pintu masuk jembatan yang tadinya berjumlah satu menjadi dua unit serta  penambahan panjang jalan sejauh satu kilometer agar jembatan ini terhubung dengan jalan tol Balikpapan-Samarinda.

“Jalan untuk rencana jembatan ini kan sudah ada sebelumnya dan sudah kita bangun jalannya di coastal road Penajam. Namun, jika dikaji ulang ada penambahan jalan sepanjang satu kilometer yang konsekuensinya adalah penambahan dana,” ujarnya.

Yusran Aspar juga tidak  dapat menjawab kekhawatiran dan polemik di masyarakat yang  mengatakan bahwa jika jembatan ini nantinya terbangun dengan ketinggian 50 meter, maka  tidak dapat dilewati oleh kendaraan bermotor roda dua.

“Kami khawatir, tingginya jembatan mengakibatkan sepeda motor tidak dibolehkan lewat. Hanya mobil saja. Itu yang banyak beredar di  masyarakat,” ujar Abdul Rahman yang sehari-hari bekerja sebagai buruh angkut pelabuhan.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.