Penajam Miliki Usaha Pembuatan Kapal Phinisi

June 14, 2017 by  
Filed under Opini

Nenek moyang bangsa Indonesia dikenal tangguh dalam menaklukan laut hanya dengan kapal-kapal phinisi yang terbuat dari kayu. Zaman itu belum dikenal kapal besi. Semua dibuat dengan “home made”, penuh dedikasi dan sentuhan atangan-tangan terampil.

Salah satu tempat pembuatan kapal kayu yang telah diakui oleh daerah lain betempat di Desa Kayu Api Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara. Letak kabupaten ini tidak jauh dari Kota Balikpapan yang dipisahkan oleh sebuat teluk sempit.

Produksi kapal phinisi warga Desa Kayu Api yang berada di pesisir laut ini telah dikenal tidak saja di Kaltim, tetapi  juga dikenal oleh provinsi lain seperti Sulawesi Selatan, Surabaya, Ambon dan Nusa Tenggara Barat-Timur.

Kapal yang dibuat beraneka ukuran mulai yang kecil hingga besar. Baik untuk menangkap ikan (penongkol), hingga pengangkut barang dan penumpang.  Tidak saja melayani pembuatan kapal baru, namun juga perbaikan kapal dan renovasi bagian-bagian kapal.

Salah seorang pekerja bernama Jusman (45) mengungkapkan, tak hanya dalam kualitas kayunya menjadikan kapal-kapal asal Penajam ini dikenal baik. Namun, tehnik pembuatannya juga diacungi jempol karena “menjahit” setiap lembaran kayu dengan pasak, bukan baut ataupun paku yang mudah berkarat.

“Kalau di daerah luar, apalagi di Pulau Jawa  kan biasanya mengunakan paku, kalau kita disini hanya mengunakan pasak. Jadi lebih kuat, karena ada ikatan antar kayu dan dengan rangka kapal,” tuturnya.

Alasan mengapa orang luar lebih memilih kapal buatan warga Penajam ini karena kayu yang digunakan hanya tiga macam yaitu kayu dari Pohon Bungur, Leban atau Halaban dan Kayu Ulin yang memang dikenal kuat dengan julukan kayu besi.

Kayu-kayu yang berbentuk papan lembaran ini dijemur selama dua bulan sebelum diolah. Ketebalannya 3 cm dengan panjang 4 meter. Untuk membuat kapal berukuran besar sepanjang 19 meter, dibutuhkan kayu berjumlah 3 kubik atau sebanyak 120-150 keping papan.

Untuk waktu pembuatannya, satu unit kapal sepanjang 19 meter dan lebar empat meter yang biasa disebut kapal naik 14 ini dapat diselesaikan oleh empat pekerja dalam waktu dua hingga tiga bulan.

Pria kelahiran Bulu Kumba, Sulawesi Selatan  ini sudah 10 tahun bekerja sebagai pembuat kapal kayu di daerah tersebut. Usaha yang telah dijalankan secara turun menurun selama puluhan tahun ini mampu menghasilkan puluhan kapal berukuran kecil dan besar setiap tahunnya.

Untuk satu unit kapal berukuran kecil panjang 8 meter dihargai Rp 35 juta dan kapal berukuran besar dengan lebar 4 meter dan panjang 19 meter seharga Rp 150 hingga 200 juta belum temasuk mesin dan kelengkapan nelayan lainnya.

“Belum ada sentuhan dari pemerintah daerah, misalnya bantuan alat ataupun bantuan modal. Biasanya modal pembuatan kapal dari uang panjar pemilik kapal untuk dibelikan kayu. Setelah kayu kering dan badan kapal telah selesai, barulah pembayaran  lagi untuk pekerjaan selanjutnya,” jelas Jusman.

 

 

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.