Museum Sadurangas Simpan Sejarah yang Membanggakan

May 10, 2017 by  
Filed under Budaya

VIVABORNEO.COM, Kerajaan Sadurangas di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur muncul pada abad ke-15 Masehi  tepatnya pada tahun 1516 atau tahun 921 Hijriah.  Raja pertama yang memimpin wilayah selatan Kalimantan Timur (Kaltim) ini adalah Puteri Petung dengan Gelar Sukma Dewi Binti Arya Manau.

Lokasi kerajaan beberapa kali mengalami perpindahan tempat. Bermula di  kawasan Libur Dinding  hingga menempati Istana Sadurangas yang ada di Desa Paser Belengkong saat ini.

Ciri istana-istana kerajaan di Kaltim pada tempo dulu adalah menghadap ke sungai yang merupakan sarana transportasi utama pada masa lalu. Hingga kini, pengelola Museum Sadurangas tetap menjaga keaslian museum ini waaupun ada seikit perbaikan dan perubahan yang tidak medasar.

Tampak aneka koleksi yang masih terawatt, diantaranya Al Quran tulis tangan yang masih jelas terbaca dan apik dalam penyimpanan. Selain itu ada juga koleksi guci dan tajau, keris dan benda pusaka hingga meriam berukuran kecil dan besar yang berada di sisi kiri museum.

Kerajaan dan sistem pemerintahan berubah menjadi kesultanan pada abad awal abad 19, akibat pengaruh budaya Melayu dan Islam yang masuk ke Kabupaten Paser waktu itu. Sultan yang memerintah waktu itu adalah Pangeran Mangu Jaya Kusuma bin Latadaga dengan gelar Sultan Ibrahim Chaliluddin.

Karena pemerintahannya kerap menentang aturan Belanda, Sultan Ibrahim diasingkan oleh Belanda ke Kabupaten Cianjur hingga akhir hayatnya. Menurut keterangan, taktik yang dijalankan oleh sulan muda ini adalah berpura-pura dekat dan sejalan dengan keinginan Belanda, namun dibelakang Sultan Ibrahim Chalilluddin mengatur strategi untuk melawan kolonial tersebut.

Menurut penjelasan Surpiani, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Paser, Sultan Ibrahim diasingkan bersama istri Ratu Dayang Waru yang saat itu belum memiliki keturunan.

Pengasingan ini membuat kekosongan kekuasaan di Kesultanan Sadurangas hingga tidak tercatat siapa pengganti Sultan Ibrahim selanjutnya.

Dalam pengasingannya, Sultan Ibrahim memperoleh keturunan namun tidak pernah kembali ke Paser sehingga tidak ada keturunannya yang melanjutkan tahta sang raja. Bahkan beredar kabar, keturunan Sultan Ibrahim tidak diakui oleh kerabat Kerajaan Sadurangas hingga saat ini.

Hingga akhir hayatnya, Sultan Ibrahim tidak pernah kembali ke Paser dan ketika mangkat dimakamkan di tanah Cianjur, tepatnya di daerah Cikaret  bersebelahan dengan makam  Sultan Jailolo III dari Kesultanan Maluku, Pangeran Hidayatullah dari Kesultanan Banjarmasin, dan makam Datuk Badyuzaman dari Kesultanan Sanggul Sumater.

“Makam beliau tetap mendapat perhatian dari Pemkab Paser.  Kita juga  bersyukur karena Pemkab Cianjur menaruh perhatian besar terhadap situs cagar budaya ini, walaupun tidak dimasukkan sebagai tujuan wisata Kabupaten Cianjur” ucap Surpiani.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, Syafruddin Pernyata sangat kagum dan memuji pengelolaan Museum Sadurangas sebagai aset bersejarah yang dimiliki oleh Pemkab Paser.

Menurutnya, masyarakat Paser harus bangga memiliki akar budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Dirinya mengajak, terutama kepada anak-anak muda agar mengenal dan mencintai sejarah Kesultanan Sadurangas ini.

“Warga Paser harus bangga dengan Museum Sadurangas ini. Sempatkanlah untuk berkunjung ke museum karena museum menyimpan banyak kisah sejarah. Jangan merasa bangga mengenal obyek wisata di luar Paser jika belum berkunjung ke Museum Sadurangas ini,” pinta Syafruddin Pernyata.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.