Kayu Pasak Bumi yang belum Termanfaatkan Maksimal

May 7, 2017 by  
Filed under Kesehatan

VIVABORNEO.COM, Kayu ini di Malaysia dan beberapa wilayah semenanjung Pulau Sumatera disebut Tongkat  Ali, tetapi di Kalimantan disebut dengan Pasak Bumi. Sebutan pasak bumi dikarenakan akar dari tanaman bermana ilmiah Eurycoma Longifolia Jack  ini dalam menusuk bumi. Bahkan, akarnya bisa lebih panjang daripada batang pohonnya yang menjulang ke langit.

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 100

Tanaman pasak bumi, biasanya dimanfaatkan akarnya. Telah lama si tongkat ali atau pasak bumi ini dikenal sebagai suplemen penambah gairah dan kekuatan pria dalam berhubungan suami-istri.

Namun, ternyata pasak bumi memiliki puluhan khasiat lainnya. Disebutkan pasak bumi ini selain dipercaya menambah vitalitas pria juga dapat dimanfaatkan oleh wanita sebagai obat anti kanker payu dara.

Hal tersebut pernah diuji dengan penelitian di Malaysia yang menyatakan bahwa ada setidaknya 8 alkaloid yang ditemukan dalam akar pasak bumi, salah satunya ialah alkaloid yang berfungsi sebagai anti-kanker payudara.

Selain itu menurut penelitian pasak bumi juga ampuh sebagai penghilang capek dan pegal-pegal, obat malaria dan penolak gigitan nyamuk serta berpotensi sebagai obat anti kanker.

Di hutan-hutan Sumatera wilayah utara dan seluruh Pulau Kalimantan, termasuk Negara bagian Malaysia Timur dan Brunai Darusallam tentunya, masyarakat pedesaan dengan mudah menemukan si pasak bumi atau tongkat ali ini.

Pasak bumi merupakan salah satu tumbuhan obat asal hutan yang memiliki banyak khasiat, namun penelitian tentang jenis tanaman ini masih belum komprehensif.

Pasak bumi mengandung ekstrak yang disebut dengan ethanolic yang sangat berperan dalam menambah jumlah hormon testosteron pada pria. Tanaman pasak bumi juga mengandung strichnin dan brusin yang sangat berkhasiat untuk menambah vitalitas pria karena memiliki sifat afrodisiak.

Menurut seorang warga Kelurahan Gunung Steleng Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara yang biasa berburu kayu pasak bumi di hutan, Subur Priyono, mengatakan tahun 1990-an masih banyak pasak bumi yang berukuran besar sebesar botol kecap. Tetapi perburuan terhadap kayu pahit ini, kini pohon pasak bumi hanya tersisa yang berukuran  bolpoin/pulpen saja.

“Dahulu kayu pasak bumi yang berukuran besar diburu karena harganya mahal. Bisa mencapai seratus ribu rupiah per batang berukuran panjang setengah  meter. Kayu ini diolah menyerupai gelas, sehingga tinggal seduh saja dan langsung diminum,” ucapnya kepada vivaborneo.com.

Untuk mengambil pasak bumi tidaklah mudah karena harus menggali tanah di sekitar pohon dengan kedalaman mencapai setengah meter tergantung panjangnya akar menusuk tanah.

Jik akayu pasak bumi tumbuh di tanah berpasir maka akarnya dapat mencapai panjang satu meter. Tetapi jika tumbuh di tanah liat atau keras, maka perakarannya pendek namun membesar.

Perbanyakan pohon pasak bumi belum dibudidayakan secara komersial mengingat masi rendahnya permintaan. Namun, selain perbanyakan dengan biji, tehnik stek pucuk cukup berhasil tumbuh baik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Syarifuddin Pernyata saat berkunjung ke Hutan Agathis di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, awal April lalu (7/4/2017) mengatakan sejak dahulu suku Dayak di Kalimantan memanfaatkan kayu pasak bumi untuk berbagai pengobatan penyakit, salah satunya adalah untuk penambah gairah pria.

Di Malaysia, pasak bumi atau tongkat ali ini sudah menjadi produk campuran minuman seperti teh dan kopi kemasan instan. Berbagai olahan obat herbal juga mudah didapatkan seperti kapsul tongkat ali. Sehingga, tumbuhan dengan akar panjang ini mudah dikonsumsi karena lebih praktis.

“Kayu pasak bumi ini merupakan kekayaan hutan Indonesia. Namun pemanfaatannya masih belum maksimal hanya sebatas obat tradisional saja. Kita berharap kekayaan dari hutan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi seluruh manusia,” ujarnya.(vb/ya)

 

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.