Kanhan Kaltim Tangkal Ancaman Non Militer terhadap Generasi Muda

April 19, 2017 by  
Filed under Hukum & Kriminal

SAMARINDA, VIVABORNEO.COM,  Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI melalui Kantor Pertahanan (Kanhan) Kalimantna Timur mengingatkan ancaman non militer  seperti penyusupan faham-faham radikal terhadap generasi muda dapat dieliminir.

Ancaman non militer bahanyanya sangat besar menyusupi para generasi muda khususnya mahasiswa, hingga  berpotensi membahayakan pertahanan negara.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Pembekalan Ancaman Non Militer dalam rangka Pembinaan Bela Negara, bekerjasama dengan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda, Selasa (18/4/17).

Dibuka oleh Rektor Untag Samarinda, Marjoni Rachman didampingi Pembantu Rektor (PR) III Bidang Kemahasiswaan Abdul Kholik Hidayah, dikatakan, bahwa Indonesia saat ini rentan mengalami konflik yang dapat memecah kebhinekaan negara.

“Konflik yang paling berbahaya itu yang berkaitan dengan non militer khususnya faham-faham radikal. Kenapa generasi muda menjadi sasaran? Karena generasi muda yang paling mudah untuk disusupi faham-faham radikal tersebut,” ujarnya.

Marjoni Rachman  berharap melalui  Kementerian Pertahanan dapat terus mengadakan  mengadakan kegiatan seperti ini. Sehingga  pemuda dapat lebih arif menerima ajaran  atau fham yang diperoleh dari berbagai sumber terutama media sosial sehingga dapat memproteksi diri lebih baik lagi.

Sementara itu, Perwakilan Pelaksana Tugas Pokok (PPTP) Kanhan Kaltim Kolonel Infantri Gema Repelita dalam paparannnya menjelaskan, ancaman non militer atau nirmiliter memiliki karakteristik yang berbeda dengan ancaman militer.

Karakter yang sangat terasa  yaitu tidak bersifat fisik serta bentuknya tidak terlihat seperti ancaman militer. Ancaman itu tidak menggunakan senjata tetapi berada disekitar kita, kemudian tanpa disadari perlahan mempengaruhi sikap dan sifat manusia.

“Bagaimana agar negara dan daerah menjadi kuat dan berdaya saing? Tentunya dengan pengelolaan potensi daerah baik dari sisi geografi, sumber daya alam, demografi, ideologi, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan keamanan, yang akhirnya untuk kesejahteraan dan keamanan masyarakat,” katanya.

Ia melanjutkan, disinilah yang menjadi dilema karena ketika SDA dieksploitasi secara massal tetapi tidak memikirkan kesejahteraan.

“Saya perlu pemikiran-pemikiran teman-teman mahasiswa. Saya juga telah bertemu dengan beberapa rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, maka kita perlu membuat suatu kajian mahasiswa untuk menjaga ini semua, agar tercipta kesejahteraan dan keamanan,” ujarnya.

Lebih lanjut, terdapat tujuh dimensi ancaman non militer yakni, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, legislasi, keselamatan umum dan teknologi. Hal itu merupakan masalah yang acap kali terjadi disekeliling manusia. Sehingga tantangan daerah ke depan yakni membangun SDM dan SDA secara seimbang.

Pembekalan ini di hadiri sedikitnya 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda, Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda, organisasi masyarakat (Ormas) FKPPI, Pemuda Pancasila, dan Pemuda Panca Marga, Korem 091/asn Kaltim, Pemprov Kaltim diwakili oleh Kebangpol Kaltim. (vb/rdg)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.