Kisah Pangkalima Burung dan Batalnya Perkawinan Gaib

April 11, 2017 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

VIVABORNEO.COM,  Pada akhir pekan bulan Februari 2017, masyarakat Indonesia heboh dengan rencana pernikahan gaib antara seorang wanita yang konon  titisan Nyi Roro Kidul bernama Sri Baruno Jagat Prameswari dari Gunung Merapi dengan Pangkalima atau Panglima Burung yang bertempat di Provinsi Kalimantan Tengah.

Namun kehebohan hilang bak ditelan air bah karena berita ini kalah heboh dengan berita kedatangan Raja Arab Saudi,  Salman bin Abdul Aziz Al Saud yang berkunjung ke Istana Negara dan berlibur ke Bali.

Rencana acara pernikahan gaib  ini akhirnya dibatalkan dengan alasan yang tidak jelas. Padahal, undangan yang disebar juga dialamatkan kepada Presiden Joko Widodo dan Kapolri Irjen Polisi Tito Karnavian, serta orang-orang penting lainnya di Kalteng.

Awalnya, berita pernikahan gaib ini dianggap berita bohong (hoax) oleh sebagian masyarakat di Kalimantan. Namun setelah tersiar kabar persiapan dan cetak undangan, masyarakat menjadi percaya ini bukan berita hoax. Kabarpun tersiar hingga menarik media nasional, terutama media-media televisi dan online (daring).

Dikabarkan pernikahan akan berlangsung tanggal 28 Februari 2017, namun karena sesuatu dan lain hal, “perantara” Nyi Roro Kidul bernama Retno  membatalkan upacara yang sebenarnya gaib ini.

Dalam masyarakat  Dayak di Kalimantan, Panglima atau Pangkalima Burung adalah sosok gaib dan tak kasat mata,  yang hanya akan datang jika dipanggil secara ritual adat.

Kemunculannyapun hanya di waktu-waktu tertentu manakala warga Dayak membutuhkan pertolongan, khususnya ketika menghadapi musuh atau sedang dalam keadaan berperang dengan kelompok lain.

Terlepas dari pernikahan gaib ini, cerita tentang panglima atau Pangkalima Burung ini memang menjadi cerita yang sudah dipercaya turun-temurun oleh masyarakat dimanapun mereka berada di tanah Kalimantan.

Konom, Pangkalima Burung adalah sosok yang kalem, lembut, tenang dan penyabar kadang pemalu seperti halnya sifat orang Dayak pada umumnya yang tinggal dan hidup di pedalaman.

Masyarakat Dayak di pedalaman akan sangat “welcome” terhadap setiap tamu yang berkunjung. Tidak jarang, mereka kerap menawarkan tempat bermalam hingga makan gratis seadanya.

Tidak jarang,  bekal kita berupa garam, gula dan rokok kretek (dahulu tembakau) dapat menjadi perekat antara orang Dayak dan pendatang. Tidak jarang, bekal sembako  tersebut, kita dapat diaangap sebagai anak atau saudara angkat si empunya rumah.

Kembali kepada  kehebatan  Pangkalima Burungi.  Menurut cerita tetua dahulu para pangkalima ini datang dengan sebuah ritual khusus. Salah satu ritual  yang ada adalah ritual Mangkung Merah berisi darah, disamping aneka sesaji lainnya.

Jika sosok Pangkalima Burung  yang dipanggil telah datang,  akan merasuki keluarga yang memiliki garis keturunan sedarah sebagai pewaris ilmu pangkalima. Seluruh keturunan dan kerabat Pangkalima Burung dapat menjadi sosok yang pemberani dan sakti.

Seseorang yang dirasuki roh pangkalima akan menjelma menjadi pemberani, sakti mandraguna, kebal senjata, dapat mencium aroma musuh tak peduli laki-laki, perempuan maupun anak-anak akan dianggap sebagai  musuh.

Senjata tajam khas Suku Dayak, Mandau,  juga dapat diperintah untuk menebas leher-leher lawan yang dikenal dengan istilah “Mandau terbang.” Dalam keadaan tidak sadar dan sakti inilah, Pangkalima Burung memimpin peperangan dengan musuh.

Konon, selain Pangkalima Burung, masyarakat Dayak juga juga mengenal adanya sosok gaib Pangkalima Kumbang, yang juga berasal dari Suku Dayak, Kalimantan Tengah.

Namun, kesaktiannya keduanya sedikit berbeda. Panglima Kumbang bisa membuat kebal secara massal melalui proses ritual tertentu.

Adapun kesaktian Panglima Burung mampu memasukkan roh kepada semua anggota pasukan di lapangan sehingga mereka mengamuk hingga tak sadarkan diri menghabisi lawan-lawannya.

Jika peperangan telah usai, Pangkalima Burung akan kembali ke alamnya dan tubuh yang dirasuki akan sadar tanpa tahu apa yang telah dilakukannya.

Sekali lagi, Pangkalima Burung maupun Pangkalima Kumbang adalah sosok gaib yang tidak seorangpun tahu dimana keberadaannya. Jangankan diajak kawin, kemunculanya saja sangat sakral dan perlu rital khusus.

Dalam masyarakat Dayak juga tidak mengenal perkawinan gaib. Perkawinan  gaib titisan anak Nyi Roro Kidul dan Pangkalima Burung, diakui dapat merusak nilai-nilai budaya setempat.

Sehingga pembatalan perkawinan diyakini lebih bijak ketimbang memaksakan sesuatu yang bertentangan dengan kearifan budaya lokal..(vb/yul)

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.