Mandau Dayak, Lambang Keberanian dan Kearifan Lokal

February 27, 2017 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

VIVABORNEO.COM, Mandau, itulah sepenggal kata yang menggambarkan jenis senjata tajam khas dari Suku Dayak di Kalimantan, termasuk Kota Sabah dan Serawak Malaysia  serta Brunei Darussalam.

Dalam Wikipedia berbahasa Indonesia dijelaskan jika mandau berasal dari kata   “Man” salah satu suku di China bagian selatan dan “dao” yang berarti golok dalam bahasa China.Pada alinea terakhir Wikipedia juga dijelaskan jika mandau adalah sebutan nama sebuah senjata adat asli Pulau Kalimantan. Arti mandau sebenarnya dari Suku Dayak katulistiwa. Dau tersebut artinya senjata. Man artinya keberanian .

Namun, menurut Mandalika (35 th) yang asli Suku Dayak di  Kalimantan Tengah menjelaskan jika kata Mandau terdiri dari dua suku kata, yaitu “Man” yang berarti makan (dalam bahasa Dayak umumnya, kata  kuman berarti makan)  dan “dau” yang berarti darah!

Masih menurut Mandalika, jika sebuah mandau keramat dikeluarkan dari sarungnya yang disebut kumpang, maka senjata dengan panjang 80-100 centimeter ini haruslah diberi makan darah. Jika dahulu harus diberi makan darah manusia melalui tradisi berburu kepala musuh yang dikenal dengan istilah Ngayau.

Setelah tradisi berburu kepala lawan ini dihentikan, maka Mandau keramat yang dikeluarkan dari sarungnya haruslah diberi makan pengganti darah, minimal setahun sekali.  Bisa menggunakan darah dari seekor ayam atau ditebaskan pada buah kelapa muda sebagai perwujudan “kepala manusia”.

Uniknya lagi, senjata berbentuk pedang ini ketika berada di dalam sarungnya dan digantungkan ke pinggang empunya, maka  sisi tajamnya berada di atas. Berbeda dengan senjata tajam jenis parang lainnya yang menghadap bawah.

Ketika mandau  ditarik keluar dari kumpangnya itulah tangan yang menggengam gagangnya diputar sehingga sisi tajamberubah  menghadap ke bawah. Gerakan ini jika dilakukan secara perlahan maka akan terlihat seperti sebuah tarian.

Masih menurut Wikipedia, disebutkan bahwa  Suku Dayak dengan senjata  mandaunya terkenal kejam dan ahli dalam peperangan. Pedang mandau menjadi terkenal dengan bilah senjatanya yang tajam dan digunakan untuk memenggal kepala musuh-musuhnya (adat Pengayauan suku Dayak) hingga para bangsa lainnya tidak berani memasuki daerah mereka.

Pernyataan Wikipedia ini tidaklah semuanya benar karena Mandau juga sebagai alat utama dalam pertanian ketika masyarakat Dayak membuka ladang dan memotong pokok-pokok kayu untuk ditanami padi ladang.

Mandau untuk berladang ini biasnya bentuknya sederhana tanpa ukiran di bagian atasnya. Berbeda dengan mandau keramat yang khusus untuk berperang. Mandau untuk berperang memiliki ukiran pada “kepala” sisi atasnya. Bahkan kerap ditemui ukiran ini dilapisi tembaga hingga emas murni.

Mandau keramat biasanya terdiri dari sarung yang disebut kumpang. Pada kumpang ini juga biasanya terselip pisau kecil. Pada gagangnya biasanya terbuat dari tanduk rusa yang diukir. Diujung gagang biasanya terdapat hiasan rambut. Jika dahulu, rambut-rambut ini merupakan rambut musuh yang berhasil dipenggal kepalanya.

Umumnya, tiap keluarga dalam Suku Dayak memiliki dua jenis mandau, yaitu  mandau untuk berladang dan mandau untuk menjaga diri dari. Pemuda-pemuda Dayak di pedalaman Kalimantan hingga saat ini biasa saja menggantungkan mandau di pinggang mereka kemanapun mereka pergi. Tetapi, mandau hanya dibawa untuk berladang dan bertani saja.

Biasanya mandau-mandau penjaga diri mereka gantung di samping kelambu tempat tidur. Mandau ini hanya digunakan untuk membela diri. Hingga saat ini tidak pernah terdengar anak muda Dayak duel menggunakan mandau layaknya tradisi Carok di Madura.

Mandau hanya digunakan untuk berperang, membela diri dan membela kehormatan keluarga dan suku Dayak. Bahkan sebuah mandau keramat, jika telah mendapatkan jampi-jampi akan berubah sangat sakti hingga mampu melayang mencari kepala musuhnya sendiri.(vb/yul)

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.