Upacara adat Erau 2016

August 16, 2016 by  
Filed under Erau, Opini, Wisata

Jika memiliki waktu luang, sempatkanlah untuk berkunjung ke Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Kabupaten yang memiliki ibukota bernama Tenggarong dan berjuluk “Kota Raja” ini setiap tahunnya selalu menyelenggarakan upacara adat Erau. Huruf “E” diucapkan seperti menyebut kata “enak.Upacara adat Erau ini tidak ubahnya seperti budaya pada upacara-upacara adat nusantara lainnya. Semisal upacara adat tanda terima kasih manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang berlimpah dan tidak ada bencana. Intinya, Erau adalah ucapan syukur manusia kepada sang pencipta yang diwujudkan melalui ritual budaya dan kesenian.

Bagi masyarakat Suku Kutai, Erau merupakan upacaraadat di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.“Erau” berasal dari kata “Eroh”, yang berarti ramai dengan riuh rendah suara peserta dan penonton. Upacara adat ini sudah dilangsungkan secara turun temurun selama beradad lebih mengiringi perjalanan Suku Kutai di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Upacara Erau bermula dari Kerajaan Kutai Lama di wilayah Jahitan Layar pada abad 13 dengan nama perayaan ”Tijak Tanah Raja Kutai” atau upacara injak tanah pertama kali bagi putra mahkota kerajaan.

Selanjutnya Upacara Erau dilaksanakan pada penobatan raja dan putra mahkota, pemberian gelar kepada mereka yang telah berjasa bagi kemajuan kerajaan serta peristiwa-peristiwa penting lainnya di lingkungan kerajaan.

Ketika menjadi kerajaan Islam, Kerajaan Kutai berganti nama menjadi Kesultanan Kutai dan istilah raja berganti menjadi sultan. Kemudian pada abad 17, setelah menaklukkan Kerajaan Martadipura yang merupakan Kerajaan Hindu tertua di Indonesia abad 4, nama kerajaan Kutai berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Pada tahun 1970-an Bupati Kutai Ahmad Dahlan berupaya melestarikan kembali upacara adat Erau dengan merangkai Erau dengan hari jadi kota Tenggarong yang jatuh pada tanggal 28 September.

Sekian lama Upacara Erau digelar setiap bulan September dalam rangka memperingati Hari jadi Kota Tenggarong sehingga membuat masyarakat mengira Erau identik dengan hari jadi Kota Tenggarong.

Sementara kotaTenggarong sendiri baru berdiri pada tanggal 28 September 1782 atau 5 abad kemudian setelah Upacara Erau yang pertama dilakukan pada abad 13 di Kerajaan Kutai “Jahitan Layar” yang bertempat di daerah Kutai Lama.
Dalam pakem Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, sesungguhnya Erau dapat dilaksanakan kapan saja bila Sultan berkehendak. Pada tahun 2008 Erau sempat digelar pada bulan Desember.

Pertimbangan bahwa pelaksanaan upacara Erau telah menjadi agenda tetap daerah dan nasional serta menjadi magnit wisata di Kutai Kartanegara, maka sejak 2009 hingga sekarang, sultan berkenan untuk menyelenggarakan upacara Adat Erau pada bulan Juli bertepatan dengan waktu liburan sekolah sebagaimana disarankan oleh Kementerian Pariwisata.

“Adapun Upacara Adat Erau pada tahun 2016 ini dilaksanakan pada tanggal 20 – 28 Agustus karena pada bulan Juli bertepatan dengan perayaan Idul Fitri. Pada waktu mendatang Upacara Adat Erau akan kembali digelar setiap bulan Juli,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kaltim, Sri Wahyuni.

Selain pertunjukkan seni budaya, selama EIFAF berlangsung juga dilaksanakan berbagai atraksi, yakni Lomba Permainan Tradisional Kutai seperti Belogo, Begasing, Bakiak, Engrang, Dagongan, Asen Naga, Behempas Bantal, Behempas Rotan, dan Menyumpit.
Selain itu juga ada Lomba Olah Raga  Tradisional seperti Gubang Lunas dan Perahu Naga, Lomba Pacu Perahu Motor Tradisional atau Perahu Ces, Erau Expo dan Bazar Rakyat dan Festival Kuliner.

Siring dengan perkembangan waktu, sejak tahun 2013, Upacara adat Erau juga mengundang perwakilan sejumlah Negara untuk berpartisipasi. Tahun 2016 ini, terdapat 9 negara turut serta meramaikan Erau.

“Sehingga mereka dapat mengenal sejarah Kutai sebagai pusat kerajaan Hindu tertua abad 4 di tanah air, serta mengenal seni budaya khas daerah Kutai Kartanegara sebagai bagian dari aset budaya nasional,” ucap Sri Wahyuni.(vb/yul)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.