DPRD Kaltim Dukung Pengembangan Museum Mulawarman

July 31, 2012 by  
Filed under Serba-Serbi

Samarinda-vivaborneo.com, Ketua Komisi IV DPRD Kaltim,  Ahmad Abdullah,  mengatakan museum merupakan salah satu bukti sejarah yang banyak mengandung harta tidak ternilai harganya, sehingga perlu  dijaga dan dilestarikan serta digalakkan sebagai salah satu obyek wisata sejarah yang merupakan bagian dari budaya  Bangsa Indonesia.
Ia mencontohkan, Museum Mulawarman Tenggarong banyak menyimpan “harta karun” yang ditinggalkan para pendahulu kepada masyarakat Kaltim khususnya dan Indonesia pada umumnya.

“Jika melihat kondisinya sekarang,  Museum Mulawarman kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak, seakan hanya menjadi tempat yang biasa saja ketika dikunjungi,  terlebih para pengunjungnya kebanyakan cuma dari anak sekolah dasar di sekitar Tenggarong,” kata Ahmad Abdullah yang didampingi anggota Sekretaris Komisi IV,  Mudiyat Noor dan anggota Komisi IV, Lelyanti Ilyas, Yakob Ukung, HA Waris Husain dan Zain Taufik Nurrohman di sela-sela kunjungan Komisi IV DPRD Kaltim ke Museum Mulawarman, Jumat (27/7) tadi.

Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan lokal maupun asing maka dinilai perlu melakukan sejumlah perombakan serta berbagai inovasi baru,  mulai dari sisi sarana dan prasarana hingga menonjolkan sisi etnik budaya lokal Kutai.

Guna mewujudkan itu semua maka komisi IV mendukung sesuai dengan tupoksinya yakni dalam hal anggaran dan legislasi,  termasuk mengomunikasikan berbagai faktor yang menjadi kendala selama ini bagi pihak museum dalam melakukan pengembangan dan promosi,  kepada pihak pemerintah.
Hal senada diungkapkan anggota Komisi IV DPRD Kaltim, HA Waris Husien yang menyebutkan Museum Mulawarman merupakan warisan budaya yang luhur karena mengandung banyak aspek mulai dari sejarah hingga pendidikan budaya bangsa.

Jadi pantas kalau keberadaan Museum Mulawarman menjadi daya tarik para wisatawan lokal maupun asing, baik dalam hal penggalian pendidikan sejarah hingga pengenalan nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa.

Oleh sebab itu pihak pengelola museum perlu menggali ilmu di daerah-daerah maju yang pendapatan daerahnya sebagian besar dari sektor pariwisata. Jogyakarta misalnya, pemerintah daerahnya melakukan inovasi dengan membuat kantor perwakilan di Eropa,  hanya untuk mempromosikan daerahnya.

Dengan adanya pemberdayaan dan pengembangan museum yang baik serta maksimal tentu akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan perekonomian kerakyatan serta akan kembali mengangkat berbagai budaya yang menjadi identitas negeri ini.

“Tidak semua daerah memiliki bukti-bukti sejarah seperti museum, apalagi peninggalan kerajaan hindu tertua di nusantara.  Pastinya kalau dipromosikan dengan benar maka akan banyak mendatangkan para wisatawan lokal maupun asing,  terlebih akan mengundang para arkeolog maupun ahli sejarah guna menambah pengetahuannya,”  kata Waris.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim,  Zain Taufik Nurrohman menuturkan bisnis terbesar di dunia adalah pariwisata karena  terkait erat dengan bidang-bidang lain,  terutama perekonomian kreatif.

“Bisnis penerbangan, kuliner, wisata bahari, hingga segala bentuk kerajinan akan hancur kalau tidak ada orang-orang yang melakukan wisata. Dan Kaltim merupakan daerah yang kaya akan warisan yang mengandung banyak nilai,”  kata Zain.

Museum merupakan salah satu obyek wisata yang tidak ternilai dan tidak akan terpengaruh terhadap cuaca/iklim ekonomi, sehingga apabila diperhatikan dengan baik maka akan menjadi sumber pendapatan daerah baru yang tidak kalah besar dengan lainnya.

Sementara itu Kepala UPTD Museum Mulawarman Riduansyah mengatakan pihaknya tidak dapat melakukan berbagai upaya pengembangan yang maksimal, dikarenakan masih terbentur dengan sejumlah persoalan pokok,  seperti minimnya sarana dan prasarana pendukung termasuk anggaran yang masih jauh dari maksimal.

Adapun program sementara yang rutin dilakukan pihak museum adalah bekerjasama dengan pihak sekolah dalam rangka menanamkan nilai dasar sejarah kepada putra-putri bangsa, agar mau mencintai dan menggali nilai-nilai  sejarah melalui museum.
“Pendapatan utama museum berasal dari tiket masuk saja, namun ini  tidak mampu membiayai operasional kegiatan, terlebih jumlah pengunjung terus mengalami penyusutan sehingga dengan adanya kunjungan komisi IV ini diharapkan menjadi pintu gerbang dan langkah awal dalam melakukan pengembangan museum di masa mendatang,” kata Riduansyah. (vb/mir)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.