“Perbedaan Bukanlah Penyebab Perselisihan dan Peperangan”

October 14, 2009 by  
Filed under Samarinda

SAMARINDA – vivaborneo.com – Maraknya aksi terorisme yang meresahkan rakyat Indonesia membuat prihatin  sebagian kalangan pesantren yang ingin menciptakan budaya damai. Untuk meluruskan makna jihad dalam Islam, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Wilayah Kaltim dan Badan Diklat Departemen Agama RI mengadakan Lokakarya peningkatan, pengembangan jaringan dan kerjasama antar ponsok pesantren se Kaltim, Selasa (13/10).Bertempat di ruang serbaguna Kantor Gubernur Kaltim Kepala Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, Prof. Dr. K.H. Ali Musthofa Ya’kub, MA mengatakan bahwa dalam sejarah Islam perbedaan agama bukanlah penyebab perselisihan dan peperangan antar penganut agama tertentu.

“Ajaran Islam tentang perang hanya boleh diterapkan dalam kondisi perang dan bukan dalam kondisi damai. Peperangan  dalam sejarah Islam disebabkan alas an lain dan bukan karena perbedaaan agama,” tegasnya.

Sementara itu pembicara lainnya, Ketua Nahdlatul Ulama Wilayah Kaltim, H.M. Arsyad mengatakan redikalisme tidak selalu muncul dari perbedaan agama, melainkan juga karena perbedaan pandangan politik. Sayangnya, lanjut H.M. Arsyad, paham keagamaan dijadikan legitimasi untuk membenarkan tindakan, mendapatkan dukungan dan motivasi perjuangan.

“Radikalisme keagamaan berhubungan dengan cara memperjuangkan keyakinan keagamaan dengan drastic, tanpa kompromi, bahkan dengan cara kekerasan,” ujarnya.

H.M. Arsyad yang juga merupakan Kepala Pondok Pesantren Al-Mujahiddin  menghimbau pondok pesantren menyikapi perbedaan radikalisme dengan meningkatkan fungsi pondok pesantren sebagai lembaga yang tidak saja bermanfaat bagi santrinya tetapi juga bagi lingkungan sekitar pesantren.

Selain itu, tambahnya, pesantren harus memposisikan diri sebagai agen pemberdayaan masyarakat sekitar pondok pesantren dengan membangun kemitraan antara lembaga-lembaga ekonomi kecil dan menengah.(vb-01)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.