Perlu Sinergisitas Lestarikan Situs Kerajaan Tertua di Indonesia

February 7, 2012 by  
Filed under Serba-Serbi

Vivaborneo.com – Dalam buku pelajaran Sejarah di sekolah, Kaltim pernah memiliki kerajaan tertua di Indonesia yaitu Kerajaan Kutai Hindu pada abad 4 Masehi di Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara. Keberadaan situs sejarah ini umumnya hanya diketahui pelajar dan masyarakat melalui buku sejarah, tanpa pernah melihat langsung keberadaannya. Hanya sedikit masyarakat Kaltim yang pernah melihat situs kebanggaan ini.Namun situs cagar budaya yang hanya berupa onggokan batu tersebut tampak tidak terawat. Bahkan,  jalan untuk menuju ke lokasi yang berjarak sekitar tiga jam dari Samarinda tersebut aksesnya sangat buruk karena juga digunakan sebagai  jalan perusahaan pertambangan setempat.

“Kita hanya bangga Kaltim merupakan tempat berdirinya kerajaan tertua di Indonesia tanpa pernah tahu bagaimana sejarah dan kondisinya saat ini,” ujar  I Gusti Made Jaya Adhi yang  merupakan tokoh masyarakat Bali di Samarinda.

Menurutnya, hampir setiap minggu, ada saja masyarakat Bali yang sengaja datang ke Kaltim hanya untuk berwisata religi. Mengenang kebesaran leluhur mereka yang pernah ada di Kaltim.

Made Jaya  melanjutkan,  potensi wisata religi untuk masyarakat yang beragama Hindu sangat terbuka lebar. Terbukti ratusan orang Bali berkunjung ke Kaltim hanya untuk melihat situs Kerajaan Kutai dan beberapa pura yang ada di Balikpapan, Tenggarong dan Samarinda.

Paket yang ditawarkan oleh agen perjalanan  untuk wisata religi ini biasanya dari Balikpapan menuju Tenggarong untuk melihat Pura Payogan Agung di Tenggarong, kemudian dilanjutkan ke Museum Mulawarman serta  situs Kerajaan Kutai di Muara Kaman.

Setelah bermalam, wisatawan biasanya melanjutkan ke Pura Jagat Hiata Karana di Samarinda dan berwisata belanja ke Citra Niaga untuk mencari souvenir khas Kaltim.

Di Balikpapan, lanjut Made, rombongan wisatawan langsung menuju Pura Giri Jayanata dan dilanjutkan ke Pasar Kebun Sayur untuk berbelanja batu-batu permata khas Kaltim.

“Ini potensi wisata religi yang sangat besar untuk digarap, namun saying situs Kerajaan Kutai sebagai tujuan utama tidak terawat dan memerlukan perhatian pemerintah,” ujarnya.

Saat ini, jumlah masyarakat Bali yang ada di Kaltim berjumlah lebih kurang 35 ribu jiwa. Sebagian besar adalah transmigran dengan profesi sebagai petani yang tersebar di beberapa kecamatan yaitu di Desa Kertabuana Teluk Dalam dan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Sebagian lainnya berada  di Kecamatan Kaliorang, Kaubun, dan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur.

Kami berharap, wisata religi umat Hindu ini dapat menjadi andalan Kaltim sebagai tujuan wisata. Tentunya harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung  seperti jalan yang bagus, pemondokan (Home Stay) di sekitar obyek wisata dan adanya keterlibatan warga sekitar untuk berusaha, baik menjual kuliner maupun cinderamata.

“Kepedulian Pemerintah, baik Provinsi maupun  Kabupaten Kutai Kartanegara serta  masyarakat sekitar sangat rendah, ini terbukti adanya kabar yang menyebutkan bahwa banyak kuburan tua yang telah digali dan dicuri benda purbakalanya. Harusnya masyarakat sekitar dan perangkat desa mengerti akan pentingnya situs bersejarah ini,” harapnya.

Made Jaya mengharapkan masyarakat Kaltim tidak melupakan sejarah, apalagi sejarah sebagai tempat berdirinya  kerajaan tertua di Indonesia. Hingga kini, masih banyak misteri yang harus dipecahkan oleh peneliti tentang keberadaan masyarakat Hindu dijaman  tersebut.

Pertanyaan seperti dimanakah para penganut Hindu pertama tersebut saat ini? Mengapa justru di Provinsi Bali menjadi pusat agama Hindu saat ini? Kemana sebagian sejarah peralihan dari Hindu ke Islam? Dan banyak lagi pertanyaan yang perlu dijawab oleh peneliti dan akademisi.

“Suka tidak suka, sejarah telah membuktikan bahwa di Kaltim pernah berdiri kerajaan tertua di Indonesia. Asset ini yang harusnya kita jaga dan lestarikan, agar kebanggaan tersebut tetap ada di masa mendatang,” ujarnya.(vb/yuliawan)

 

 

 

 

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.