Sambut Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026, Belantara Foundation Ajak Sektor Swasta Jepang Tanam Pohon

June 13, 2026 by  
Filed under Hukum & Kriminal

Vivaborneo.com, Riau — Belantara Foundation mengajak mitra sektor swasta Jepang menanam bibit pohon secara simbolis di kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Provinsi Riau pada Kamis (11 Juni 2026). Kegiatan ini menyambut Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026,

Aksi tanam pohon ini terselenggara atas kerja sama dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura serta Kelompok Tani Hutan yang menjadi mitra Tahura SSH.

Salah satu jenis bibit pohon yang ditanam adalah balangeran (Shorea balangeran), yang termasuk dalam kategori spesies pohon langka yang perlu dilestarikan. Penanaman ini merupakan salah satu bentuk aksi nyata kerja sama multipihak dalam upaya restorasi hutan yang terdegradasi.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan, restorasi ekosistem merupakan salah satu isu global yang sangat penting dan mendesak saat ini. Ditambahkan, jika dunia telah menargetkan pemulihan seluas 1,5 miliar hektar lahan terdegradasi pada 2030. Restorasi ekosistem dianggap sebagai salah satu langkah strategis dan efektif untuk memitigasi perubahan iklim, meningkatkan ketahanan pangan, menjaga suplai air, serta melindungi biodiversitas.

Dengan tema “Rangelands: Recognize. Respect. Restore” atau “Padang Rumput: Kenali. Hormati. Pulihkan”, Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang jatuh pada 17 Juni  2026.

Ini diharapkan menjadi momentum penting guna membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat global untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Lebih dari itu, peringatan ini bisa menjadi kesempatan bagi semua elemen masyarakat, termasuk sektor swasta, untuk berkontribusi dalam upaya pemulihan lahan yang terdegradasi.

Tujuan utama penanaman simbolis ini adalah untuk memperluas keterlibatan sektor swasta dalam kerja sama pada program restorasi hutan yang terdegradasi untuk mendukung beberapa Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan melestarikan jenis pohon lokal terancam punah serta mengurangi dampak perubahan iklim.

Lebih lanjut, Dolly, yang juga merupakan pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan menegaskan bahwa kegiatan seremonial penanaman bibit pohon bersama mitra sektor swasta Jepang ini merupakan bagian dari program “Forest Restoration Project: SDGs Together!” yang dijalankan sejak 2020 lalu.

Program ini merupakan program pemulihan hutan yang terdegradasi yang diharapkan dapat membantu upaya mengembalikan fungsi iklim mikro dan pengaturan tata air pada ekosistem hutan, mengurangi resiko kerusakan lingkungan seperti tanah longsor dan erosi, tercemarnya sumber air, turunnya muka air tanah, kebakaran lahan, serta polusi udara.

Selain itu, restorasi hutan terdegradasi juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan, termasuk kualitas udara, kualitas air, pohon, tanah, dan populasi satwa liar beserta habitat alaminya. Tidak hanya mendukung restorasi hutan terdegradasi, program ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan sosial-ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.

“Sesuai dengan misi dari United Nation Sustainable Development Goals (UN SDGs) atau Persatuan Bangsa-Bangsa atau yaitu no one left behind dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak, salah satunya dengan menggandeng sektor swasta dari Jepang untuk mendukung gerakan restorasi hutan terdegradasi di Pulau Sumatra khususnya di Provinsi Riau”, tegas Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

Pada kesempatan yang sama, Representative Director APP Japan Ltd., Tan Ui Sian mengatakan pihaknya akan lebih gencar mengajak multi-stakeholders di Jepang untuk mendukung Forest Restoration Project: SDGs Together ini.

Saat ini, program tersebut berfokus untuk mendukung SDGs ke 12 yaitu memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, target SDGs ke 13 yaitu mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya dan target SDGs ke 15 yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem serta target SDGs ke 17 yaitu menguatkan sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

“Bagi kami kerja sama dengan KPHP Minas Tahura ini telah memberikan nilai tambah lebih besar untuk mengembangkan program dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di Jepang. Kami berharap dapat mengajak multi-stakeholders dari mancanegara lebih luas lagi untuk mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together,” tandas Tan.

Sementara itu, Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, S.Sos., M.Si., menuturkan jika kawasan Tahura SSH merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1999. Tahura SSH memiliki luas kawasan lebih dari 6.000 hektar. Sayangnya, saat ini sebagian besar wilayah tersebut telah mengalami deforestasi dan degradasi akibat aktivitas ilegal seperti perambahan lahan, pembalakan liar dan lain sebagainya.

“Kami terus melakukan pengawasan dan pemulihan fungsi kawasan Tahura SSH melalui program perlindungan dan restorasi hutan yang terdegradasi. Upaya ini tidak bisa kami lakukan sendiri, namun perlu adanya sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya, pada pertengahan 2022 lalu, kami  bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan di Jepang menggagas program yaitu Forest Restoration Project: SDGs Together. Program ini bertujuan untuk memulihkan kawasan hutan yang terdegradasi agar dapat berkontribusi pada upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta mendukung pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon di Provinsi Riau,” pungkas Sri.(*/adv)

 

 

Bukit Bangkirai Tawarkan Wisata Hutan Tropis dan Canopy Bridge Ikonik

June 13, 2026 by  
Filed under Berita

KUTAI KARTANEGARA – Wisata Alam Bukit Bangkirai di Kabupaten Kutai Kartanegara terus menjadi salah satu destinasi unggulan wisata alam di Kalimantan Timur. Berada di bawah pengelolaan PT Inhutani I Unit Manajemen Hutan Tanaman (UMHT) Batu Ampar, kawasan wisata ini menawarkan pengalaman menjelajahi hutan tropis alami seluas 1.200 hektare dengan beragam wahana berbasis alam.

Pengelola Wisata Alam Bukit Bangkirai menjelaskan, kawasan tersebut merupakan bagian dari kegiatan jasa lingkungan yang dikembangkan di area hutan tanaman milik PT Inhutani I.

“Fokus kegiatan kami ada dua, yaitu hutan tanaman dan wisata. Khusus Wisata Alam Bukit Bangkirai memiliki luas sekitar 1.200 hektare yang merupakan bagian dari kegiatan jasa lingkungan dari hutan tanaman,” ujarnya.

Salah satu daya tarik utama Bukit Bangkirai adalah Canopy Bridge atau jembatan tajuk pohon yang menjadi ikon wisata tersebut. Jembatan ini dibangun pada tahun 1998 oleh Canopy Bridge Construction Association dari Amerika Serikat.

Menurut pengelola, pembangunan Canopy Bridge hanya memerlukan waktu sekitar satu bulan. Selain menggunakan material kayu lokal, sebagian besar material konstruksi didatangkan langsung dari Amerika Serikat.

“Canopy Bridge ini diresmikan Menteri Kehutanan saat itu,  Jamaludin, pada tahun 1998. Sampai sekarang masih menjadi ikon utama wisata Bukit Bangkirai,” katanya.

Selain Canopy Bridge, pengunjung juga dapat menikmati berbagai aktivitas petualangan yang tergabung dalam Tree Walking Group. Seluruh aktivitas dilakukan di atas pohon, mulai dari wall climbing, Elvis Walk, Swing Log, Swing Line hingga Flying Fox.

Tak hanya itu, wisatawan juga dapat menyewa pakaian adat Dayak Kenyah untuk berfoto, menikmati fasilitas penginapan, area camping, outbound, hingga kolam renang yang tersedia di kawasan wisata tersebut.

Untuk tarif masuk, pengunjung dikenakan biaya Rp20.500 pada hari kerja, yang terdiri dari tiket masuk Rp20.000 dan asuransi Rp500. Sementara pada akhir pekan, tiket masuk dibanderol Rp23.500.

Dengan tiket tersebut, wisatawan dapat menjelajahi kawasan wisata secara mandiri melalui jalur trekking yang telah dilengkapi petunjuk arah. Tersedia pula layanan pendampingan bagi pengunjung yang ingin melakukan trekking jarak jauh.

“Tracking normal sekitar 1,5 kilometer bisa dilakukan sendiri. Namun kami juga menyediakan pendamping untuk tracking jarak 3 sampai 5 kilometer, bahkan hingga 10 kilometer. Kami juga memiliki program tracking malam,” jelasnya.

Bagi wisatawan yang ingin bermalam, tersedia sejumlah cottage dengan tarif mulai Rp550 ribu per malam untuk satu kamar. Sementara cottage dua kamar ditawarkan dengan harga Rp750 ribu hingga Rp800 ribu per malam.

Selain menawarkan wisata alam, Bukit Bangkirai juga menyediakan berbagai cendera mata khas untuk wisatawan. Beberapa di antaranya berupa kaos, topi Bukit Bangkirai, serta tas bermotif khas Kalimantan Timur dengan harga mulai Rp50 ribu.

Sementara itu, salah seorang peserta famtrip dari PRILSS Tour, Suci Nurlila, mengaku terkesan dengan pengalaman berkunjung ke Bukit Bangkirai. Menurutnya, suasana hutan yang masih alami mampu memberikan efek relaksasi bagi pengunjung.

“Awalnya saya membayangkan trekking yang berat, tetapi ternyata jalurnya cukup nyaman. Begitu sampai di Canopy Bridge, semua rasa lelah langsung terbayarkan dengan pemandangan hutan yang luar biasa,” ujarnya.

Ia juga menilai aspek keamanan Canopy Bridge sudah sangat baik sehingga pengunjung tidak perlu khawatir saat melintasi jembatan yang menghubungkan pohon-pohon raksasa tersebut.

“Kalau melihat dari bawah mungkin ada yang khawatir, aman tidak ya. Tapi setelah saya mencoba sendiri, menurut saya sangat aman. Pengelola juga memperhatikan faktor keselamatan pengunjung,” katanya.

Suci mengaku tertarik kembali berkunjung ke Bukit Bangkirai di masa mendatang. Menurutnya, destinasi tersebut menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dibandingkan objek wisata pada umumnya.

“Ini memang wisata yang cocok bagi pecinta alam dan trekking. Tapi begitu sampai di atas, pemandangannya benar-benar luar biasa. Wajib dikunjungi kalau datang ke Kalimantan Timur,” pungkasnya. (yud)

Gempa Berpotensi Tsunami, Warga Talisayan Panik

June 8, 2026 by  
Filed under Berita

TALISAYAN – Warga Berau khususnya di wilayah pesisir seperti Talisayan, Batu Putih dan Biduk-Biduk Senin (8/6/2026) pagi sempat panik. Ini setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi adanya gempa bumi dengan kekuatan 7,7 M melanda selatan Filipina jam 06.37 WIB, berpotensi tsunami.

‎Kepanikan warga Talisayan bahkan warga Kecamatan Batu Putih dan Biduk-Biduk itupun semakin menjadi,  setelah melihat kondisi air laut di pantai tidak seperti biasanya. Tiba-tiba air surut setelah itu  dengan cepat air laut mendadak pasang. ‎Bahkan beberapa warga yang rumahnya tepat di bibir pantai pun memilih mengamankan diri ke tempat lebih tinggi.

‎”Ini kali pertama terjadi, air laut cepat surut dan mendadak pasang. Warga sangat panik,” kata Fery Istiawan(38), warga Kampung Talisayan.

‎Bahkan lanjut Fery lagi, suasana pasang surut air laut masih terjadi hingga pukul 11.00 Wita siang.

‎Kendati sekitar pukul 10.15 Wita BMKG menyatakan peringatan tsunami pasca gempa bumi di Filipina telah berakhir. Seperti diketahui Senin (8/6/2016) pukul 07. 00 WIB, monitoring BMKG mencatat telah terjadi 1 aktivitas gempa bumi susulan yang cukup kuat dengan skala 6,7 magnitudo. BMKG meminta  supaya masyarakat di wilayah berstatus waspada, diimbau untuk menjauhi pantai dan tidak melakukan aktivitas apa pun di sepanjang pinggir pantai maupun tepian sungai.

‎Dampak gempa bumi juga terasa hingga ke wilayah Indonesia seperti di wilayah ‎yang masuk dalam level Status Waspada tsunami di antaranya Sulawesi Utara, Gorontalo, Kota Tidore, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Kota Tarakan, Halmahera Utara, Kutai Timur, Kota Bontang, serta Kabupaten Berau.

‎Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan, gempa bumi ini terjadi pada koordinat 1,25° LU; 126,27° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 244 km barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 47 km.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalamannya, gempa ini berjenis dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik. Gempa itu menyebabkan kerusakan hebat di kota Grand Santos Filipina. (yoi)

Kaltim Siapkan Generasi Hijau dari Ruang Kelas

June 6, 2026 by  
Filed under Berita

Mendikdasmen Abdul Mu’ti dan Gubernur Rudy Mas’ud tanam mangrove di SMAN 8 Balikpapan

Balikpapan – Kalimantan Timur mulai menggeser cara pandang terhadap pendidikan. Di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata, sekolah tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat mencetak lulusan berprestasi, tetapi juga sebagai garda depan membangun generasi yang mampu menghadapi krisis lingkungan.

Pesan itu menguat dalam peluncuran Gerakan Sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah) yang dirangkai dengan penanaman mangrove pada peringatan Milad ke-109 Aisyiyah di SMA Negeri 8 Balikpapan, Jumat (5/6/2026).

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan, tantangan terbesar generasi masa depan bukan semata persaingan teknologi dan ekonomi, melainkan dampak perubahan iklim yang sudah dirasakan saat ini. Karena itu, pendidikan lingkungan harus masuk ke jantung proses pembelajaran.

“Kesadaran menjaga lingkungan tidak bisa dibangun secara instan. Harus dimulai sejak anak-anak berada di bangku sekolah,” kata Rudy.

Menurutnya, krisis iklim tidak cukup dilawan dengan kebijakan pemerintah semata. Dibutuhkan perubahan perilaku masyarakat yang dimulai dari dunia pendidikan. Sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan budaya hidup ramah lingkungan sejak dini.

Rudy menyoroti pentingnya mangrove sebagai salah satu aset ekologis terbesar yang dimiliki Kalimantan Timur. Selain melindungi kawasan pesisir dari abrasi, mangrove juga berfungsi sebagai penyerap karbon yang sangat efektif.

Ia menyebut satu hektare mangrove mampu menyimpan hingga 1.000 ton karbon, menjadikan Kaltim memiliki posisi penting dalam pengembangan ekonomi hijau dan perdagangan karbon di tingkat global.

“Potensi itu akan sia-sia jika tidak diiringi kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan. Karena itu pendidikan menjadi kunci,” ujarnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa gerakan lingkungan tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman pohon. Tantangan terbesar justru memastikan nilai-nilai kepedulian lingkungan tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari.

Menurutnya, dunia saat ini sedang bergerak menuju pembangunan berkelanjutan dan energi bersih. Karena itu sekolah harus menyiapkan generasi yang memiliki kesadaran ekologis sekaligus kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Kita sedang menghadapinya sekarang,” tegas Abdul Mu’ti.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menambahkan pembentukan karakter peduli lingkungan harus dimulai dari hal-hal sederhana, mulai menjaga kebersihan sekolah, mengurangi penggunaan plastik hingga menanam dan merawat pohon.

Peluncuran Gerakan Sekolah ASRI  menunjukkan bahwa agenda pendidikan dan lingkungan kini semakin sulit dipisahkan. Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, Kaltim memilih menyiapkan pertahanan jangka panjang melalui ruang kelas.

Jika selama ini mangrove dianggap benteng alami bagi pesisir, maka sekolah sedang dipersiapkan menjadi benteng sosial untuk melahirkan generasi yang mampu menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus bersaing di era ekonomi hijau. (sam)

Kaltim Siapkan Generasi Penyangga IKN

June 6, 2026 by  
Filed under Berita

Balikpapan – Di tengah masifnya pembangunan jalan, kantor pemerintahan, dan berbagai infrastruktur Ibu Kota Nusantara (IKN), pemerintah mulai menggarap pekerjaan yang jauh lebih menentukan masa depan Kalimantan Timur: membangun manusia.

Sebanyak 102 satuan pendidikan di Balikpapan, Samarinda, dan Penajam Paser Utara (PPU) yang telah direvitalisasi resmi berfungsi. Program yang menyasar PAUD hingga SMA, SMK, SLB dan SKB itu menjadi bagian dari upaya mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah yang akan menjadi pusat gravitasi baru Indonesia. Program ini dibiayai melalui APBN dan diresmikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Balikpapan, Jumat (5/6/2026).

Langkah ini dinilai penting karena tantangan terbesar Kalimantan Timur menjelang hadirnya IKN bukan hanya soal kesiapan infrastruktur, tetapi kemampuan masyarakat lokal bersaing dalam perebutan peluang ekonomi, investasi, dan lapangan kerja yang akan terus tumbuh.

Tanpa SDM yang kuat, masyarakat lokal berpotensi hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus perubahan.

“Kalian harus belajar lebih giat lagi, lebih semangat lagi,” pesan Abdul Mu’ti kepada para pelajar.

Ia menegaskan, sekolah yang lebih baik harus menghasilkan kualitas pembelajaran yang lebih baik pula. Karena itu, pemerintah tidak hanya membangun ruang kelas, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, sehat, bersih, dan nyaman.

Bagi Kalimantan Timur, revitalisasi sekolah memiliki makna lebih besar dibanding sekadar proyek pembangunan fisik. Daerah ini sedang berpacu dengan waktu untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar mampu memenuhi kebutuhan SDM masa depan.

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan pembangunan sekolah sejatinya adalah investasi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan.

“Kita tidak hanya membangun gedung, tetapi membangun harapan dan ruang masa depan,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan tantangan yang masih dihadapi Kaltim. Di tengah statusnya sebagai provinsi kaya sumber daya alam, kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar kemajuan ekonomi dapat dinikmati lebih merata.

Karena itu, revitalisasi sekolah dipadukan dengan kebijakan lain yang menyasar akses pendidikan. Pemerintah Provinsi Kaltim kini menjalankan program pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi serta bantuan perlengkapan sekolah bagi pelajar SMA dan SMK.

Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: pembangunan IKN tidak boleh hanya melahirkan gedung-gedung megah, tetapi juga generasi yang siap mengisinya.

Komitmen itu terlihat dari rencana pemerintah pusat yang kembali mengalokasikan revitalisasi untuk 21 satuan pendidikan tambahan pada 2026.

Jika pembangunan fisik IKN menjadi simbol wajah baru Indonesia, maka sekolah-sekolah yang diperbaiki hari ini adalah tempat lahirnya sumber daya manusia yang akan menentukan berhasil atau tidaknya masa depan ibu kota baru tersebut. Tanpa pendidikan yang kuat, kemegahan IKN hanya akan menjadi bangunan. Dengan pendidikan yang kuat, Kalimantan Timur memiliki peluang menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. (sam)

Next Page »

  • vb