POLNES Ajarkan Dekorasi Rumah Percantik Homestay Warga

June 21, 2021 by  
Filed under Profil, Wisata

Seperti rumah di desa pada umumnya, rumah-rumah warga di Desa Wisata Pela di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Indonesia, terbilang sederhana dan memiliki bentuk tata ruang yang hampir seragam. Read more

SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Bertebar Prestasi

June 10, 2021 by  
Filed under Profil

SMA Selamat Pagi Indonesia di Kota Batu, Malang, Jawa Timur jadi buah bibir lantaran diterpa kasus dugaan kekerasan seksual atau pelecehan seksual. Terlepas dari itu, sekolah dengan konsep entrepreneurship ini menyimpan segudang prestasi.

Berikut profil SMA Selamat Pagi Indonesia (SMA SPI) yang dirangkum PorosInformatf.com dari SuaraMalang.id dan berbagai sumber.

SMA SPI merupakan sekolah yang sudah cukup terkenal tak hanya di Kota Batu, namun hingga mancanegara. Bahkan, banyak prestasi-prestasi gemilang yang telah ditorehkan oleh anak didik SMA SPI.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Pandanrejo Nomor 2 Bumiaji, Batu, Jawa Timur ini merupakan SMA berasrama (Boarding school) dengan murid dari seluruh Indonesia yang beranekaragam, baik agama maupun suku. Hal itu lah yang menjadikan SMA SPI unik dan kompleks.

SMA SPI merupakan SMA gratis, seluruh biaya hidup dan biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh yayasan dan dilaksanakan oleh sekolah.

SMA SPI tidak menerima dan meminta peserta didik atau wali murid mengeluarkan biaya apapun karena peserta didik yang diterima merupakan keluarga yatim piatu atau tidak mampu yang memerlukan pendidikan di jenjang SMA.

SMA SPI merupakan satu-satunya SMA di kota Batu yang menerapkan muatan lokal entrepreneurship, lengkap dengan laboratoriumnya bernama Kampoeng Succezz. Kampoeng Succezz didirikan sebagai sarana belajar secara langsung dalam menerapkan teori-teori yang didapatkan di kelas. Sehingga peserta didik dapat mengalami dengan nyata dan menjadi kebiasaan (habit).

Sistem pembelajarannya sendiri menggunakan moving class. Tak hanya dalam kelas persegi empat, tetapi juga menggunakan sejumlah ruangan berbentuk oval dan bulat. Tujuannya agar para siswa tak terkungkung dalam sebuah ruangan.

Waktu belajar mulai pukul 07.00 WIB sampai 15.00 WIB. Di sela istirahat makan siang, para siswa melihat hewan ternak dan tanaman sayuran yang mereka pelihara dan tanam.

Sekolah gratis ini sendiri tercetus dari ide seorang pengusaha bernama Julianto Eka Putra, untuk membantu sesama.

Julianto merasa terketuk hatinya setelah membaca pemberitaan sejumlah media yang mengabarkan ada anak bunuh diri karena keluarga tak mampu membiayai pendidikan.

Dia pun berinisiatif membangun sekolah gratis untuk siswa miskin berlatar belakang multikultural, multietnis, dan multireligi.

Para siswa diseleksi secara administrasi dengan komposisi sesuai demografi Indonesia terdiri dari 40 persen Islam, 20 persen Kristen, 20 persen Katolik, Hindu 10 persen dan Buddha 10 persen.

Julianto adalah Presiden Komisaris kelompok Binar Grup, yang memiliki 22 anak perusahaan terdiri dari usaha penerbitan, event organizer, biro perjalanan dan lembaga motivasi. Seluruh biaya sekolah didanai dengan menyisihkan keuntungan Binar Grup.

Sekolah yang berdiri di lahan 15 hektare itu menghabiskan biaya operasional Rp 700 juta, setiap bulan.

Apa yang dilakukan Julianto pun membuahkan hasil. Sekolah gratis yang didirikannya sukses menelurkan anak-anak berprestasi. Tidak hanya dalam lingkup nasional, tetapi hingga mancanegara.

Beberapa prestasi yang ditorehkan antara lain, menjadi narasumber Unesco International Conference Hang Zhou China 2019, Juara 1 Lomba Photography Binus Event 2019, mendapat penghargaan KEMENDAGRI Ormas Awards Kategori Pendidikan 2019, juara Harapan 1 Science Technology Engineering Competition Tingkat Nasional, narasumber TVET Meeting Asia, dan masih banyak yang lainnya.

Tak hanya dalam hal akademik, para siswa juga mengantongi segudang prestasi di dunia olahraga. Seperti Juara Tinju tingkat Provinsi Jawa Timur, Juara 1 karate putri olimpiade Olahraga kota Batu, hingga Juara 1 Futsal se Kota Batu.

Lantaran kisah sekolah yang inspiratif tersebut, telah dua kali SMA Selamat Pagi Indonesia difilmkan ke layar lebar, yakni film berjudul ‘Say I Love You’ dan ‘Anak Garuda’. Film terakhir itu diproduseri Verdi Solaiman. (Buang Supeno)

Kisah Ujang dan Keluarga Sembuh Dari Covid-19

May 27, 2021 by  
Filed under Profile

Kisah Ujang Guswantri dan istrinya yang sempat terkonfirmasi positif covid-19di tahun 2020 lalu. Suami dam istri mampu melewati masa isolasi. hingga akhirnya dinyatakan sembuh dari covid-19, beruntung anak-anaknya tidak terkonfirmasi positif covid-19.

Bermula istri dari Ujang sapaan akranya yang terkonfirmasi positif covid-19 dan dilakukan isolasi mandiri di salah satu kamar di rumahnya yang berada di perumahan Bumi Prestasi Kencana (BPK) Jalan Atlet Pon, Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir. Secara terbuka ia menyampaikan hasil swab pcr istri ke RT dan pengelola perumahan serta di group whatsapp Kelurahan Harapan Baru dan memohon maaf atas ketidak nyamanan warga khususnya tetangga kiri kanan dan depan rumah. Alhamdulillah warga di perumahan sangat mensuport.

“Kami sekeluarga, hanya tinggal sms atau grup whatsapp RT apabila memerlukan sesuatu dan alhamdulilah warga lainnya sangat sigap membantu. Ini rasa kekeluargaan di perumahan kami sangat erat,” ceritanya sambil menghirup kopi yang telah disajikan

Ujang sapaannya melanjutkan ceritanya,bermula istri saya (Nur Afifah) yang dinyatakan positif-19 dan itu membuat dirinya harus menggantikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan juga menjaga anak-anak agar tetap sehat,

“Istri saya saat itu diisolasi di kamar sendirian. Sebelumnya kami konsultasi dengan salah satu dokter gugus tugas 112 Kota Samarinda, dikarenakan tidak ada keluhan yang berat, dan di rumah ada kamar yang bisa digunakan untuk isolasi mandiri.

“Karena saran itu kami melakukan isolasi mandiri di rumah saja. Untuk makan, minum, ramuan jamu dan madu sajikan dengan mengantarkan makanan hingga didepan pintu kamar. Alhamdulillah saya dan anak-anak di nyatakan negative covid, sehingga saya dan anak-anak bias melayani segala kebutuhan istri selama menjalani isolasi mandiri,” terangnya

Kemudian dia mengaku,setiap hari memasak untuk istri dan anak-anak. Untungnya kebiasaan itu bukan hal yang baru. Sselama ini biasa melakukan sendiri dari sebelum menikah, karena terbiasa hidup mandiri. Ia dan anak-anak serta istri berada dalam satu rumah namun beda kamar. Dia dan anak-anak melakukannya dengan protokol kesetahan yang ketat. Hampir 24 jam menggunakan masker, hingga tidurpun menggunakan masker. Karena tekat yang kuat dan motivasi keluarga akhirnya sebulan berlalu dan istrinya dinyatakan sembuh dari covid-19.

Aktivitas pun Kembali normal kembali. Dua bulan kemuadian dirinya sempat berpergian untuk tugas sebagai konsultan politik ke beberapa kabupaten kota yang ada di Kalimantan Timur (Kaltim). Tak lama ia merasakan badan meriang panas-dingin serta tenggorokan gatal. Kemudian minum obat parcetamol, merasa agak enakan badan kemudian melakukan aktifitas seperti biasa, bahkan waktu itu agak larut malam pulang berturut-turut. Besoknya drop kembali, demam tinggi, kemudian minum obat turun panas. Akan tetapi tidak kunjung turun panasnya, kemudian pada malam harinya langsung ke dokter. Pada saat itu belum terpikirkan terkena covid 19, karena selama ini telah menjalan protokol kesehatan dengan baik, selalu menggunakan masker, cuci tangan tangan bahkan tidak pernah ketinggalan handsanitezer.

“Setelah diperiksa, dan memberikan obat dengan dosisi obat turun panas yang lebih tinggi, dokter menyarankan apabila tidak turun, segera melakukan swab guna memastikan terkena covid 19 atau tidak,” ujarnya bercerita sambil membalas pesan di handphonenya

Kemudian, pada esok harinya panas tingginya turun, serta keluhan lainnya juga tidak ditemukan lagi. Namun ada satu hal yang di rasakan adalah tidak dapat mencium bau baik harum dan lainnya. Lidah masih bisa merasakan rasa lainnya. Karena merasa sudah baik, maka tidak langsung melakukan swab, Pada esok harinya kemudian melakukan konsultasi dengan dokter gugus tugas yang sebelumnya pernah konsultasi sewaktu istri terkena covid 19. Ia menyampaikanlah keluhan yang dirasakan, dan dari yang di rasakan menunjukkan ciri-ciri terkena covid 19. Kemudian disarankan untuksegera melakukan swab PCR, dan untuk dapat segera hasilnya maka melakukan swab di labkes yang berada di Jalan Akhmad Dahlan. Setelah melakukan swab pada siang hari maka sore hari sudah keluar hasinya dan dinyatakan positif. Sore hari itu juga berkordinasi dengan dokter gugus tugas menyampaikan hasil swab tersebut, dan sesuai dengan arahan dari gugus tugas serta pengalaman sebelumnya pada saat istri terkena, maka melakukan isolasi mandiri.

Selain dengan istirahat yang cukup, serta banyak konsumsi vitamin guna meningkat adaya tahan tubuh, ada beberapa vitamin yang rutin di minum yakni minum rebusan jahe dan madu, minum seduhan qutsul hindi di campur madu dan garam Himalaya. Selain itu juga minum VCO selalu minum air hangat, hampir setiap hari apabila tidak hujan melakukan aktifias di halaman rumah sambil berjemur,

“Alhamdulillah dengan dukungan keluarga dan serta sahabat dan tetangga di perumahan, setelah melakukan isolasi mandiri 14 hari sudah tidak ada gejala dan mendapat surat keterangan telah melakukan isolasi . Namun demikian di karenakan belum melakukan swab ulang maka belum berani beraktifitas seperti biasa menjaga hala-hal yang tidak diinginkan,” terang mantan aktivis mahasiswa ini

Setelah selesai melakukan swab ulang dan dinyakan telah sembuh. Dia pun menyampaikan ke pada RT dan pengelola di perumahan untuk dapat segera di ketahui oleh penghuni perumahan tempat dirinya tinggal.

“Kami ucapkan terima kasih kepada wara RT 37, karena selama menjalani isolasi manidiri hampir seluruh kebutuhan sehari-hari kami banyak dibantu. Pesanan kami pun digantung diluar, adapun dananya biasa saya transfer. Kebetulan di perumahan kami banyak juga warga melakukan jualan secara online, semoga menjadi amal baik serta menjadapat balasan dari Allah,” imbuhnya

Dia berpesan, kepada teman-teman yang belum terkena untuk tetap menjaga protokol kesehatan, karena penyakit itu ada, dan kepada teman-teman yang saat ini sedang menjalankan perawatan baik isolasi mandiri maupun di rumah sakit, tetap semangat.

“Dibawa enjoy aja, jangan sters karena akan menurunkan daya tahan tubuh kita, perbanyak makanan apa saya yang peting sehat. Yakinlah Allah akan berikan kita yang terbaik, jangan lupa terus berdoa karena hanya Allah yang dapat meyebuhkan,” tutupnya. (Man)

Pak Bekti Mengabdi untuk Pendidikan PWI

April 11, 2021 by  
Filed under Profile

Ketika saya masih “calon anggota” PWI, jenjang terendah keanggotaan PWI, sesuai dengan ketentuan PD PRT PWI kala itu, saya menempuh ujian kenaikan tingkat ke jenjang berikutnya sebagai “anggota muda” di PWI Provensi DKI Jakarta. Salah satu penguji dan pemeriksa ujian saya ialah Pak Encup Soebekti, yang baru saja almarhum. Demikian pula waktu mau menaikan laki status saya menjadi “anggota biasa” dari anggota muda, Pak Bekti yang sedang menjabat sebagai skretaris PWI Jaya, ketuanya Massun Pranoto, jadi penguji saya. Dia pulalah yang antara lain menandatangani sertifikat saya.   Walapun dia punya pengalaman sebagai wartawan harian Kami, dan kemudian di Pos Kota Group, sejak awal tak sedikit pun dia menunjukan sikap arogansi sebagai senior. Pak Bekti, begitu saya memanggilnya, (sebagian lagi menyebutnya “Pak Encub,”) selalu membimbing dan memberi jalan terhadap problematik yang ada. Pengetahuan teori tentang jurnalistiknya sangat luas. Maka ketika mengajar feutures, misalnya, beliau selalu memakai pengetahuan teorinya itu sebagai alat menerangkan agar lebih luas, mendalam dan mudah difahami.

Encub Soebekti

Persahabatan saya dengan Pak Bekti sebagai yunior dan sejawat, terus berkembang, termasuk lantas ketika kami sama-sama menjadi pengurus PWI tingkat Jaya dan PWI Pusat. Perhatiannya kepada bidang pendidikan, membuat dia lebih sering ditempatkan di bidang yang terkait pendidikan. Hampir pada semua bagian pendidikan PWI Pak Bekti banyak terlibat. Almarhum tercatat sebagai salah satu orang yang banyak menyusun kurikulum atau silabus bahan pelatihan di lingkungan PWI. Memang sebagian dari hidup dan profesinya diabadikan untuk pendidikan dan pelatihan kewartawanan.

Suatu saat pelatihan “Safari Jurnalistik” PWI yang sudah lama berlangsung, bakal “dimatikan” oleh ketua umum PWI priode saat saya menjadi sekjennya. Saya dan Pak Bekti “menentang” keputusan itu dan beradu argumentasi dengan ketua umum, bahwa Safari Jurnalistin perlu terus dipertahankan, baik karena alasan kemasalahatan maupun alasan historis. Setelah berdebat cukup tajam dan demokrasi, akhirnya program Safari Jurnalistik tetap dipertahankan, dengan syarat kami yang harus mengurus tetek bengkekknya, termasuk terkait dengan urusan mencari sponsor. Demi mempertahankan program Safari Jurnalistik tersebut kami langsung menyanggupi syarat itu.

Kami lantas menghubungi Brata, mantan wartawan Kantor Berita Antara beralih yang menjadi Kepala Humas perusahaan Nestle. Brata menyanggupi Nestle tetap jadi sponsor program Safari Jurnalistik dengan ketentuan kurikulumnya harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan disetujui lebih dahulu oleh Nestla. Nah, supaya gak bulak-balik, akhirnya kami ajak Brata sebagai salah satu tim perumus kurikulum Safari Jurnalistik yang baru. Dan kepalang bersama, waktu Brata menawarkan villa munggil miliknya di daerah Puncak sebagai tempat pembahasan, langsung kami terima. Jadilah kami menginap semalam dua hari di villa Brata. Pembahasan soal kurikulum Safari Jurnalistik ternyata tidak berlangsung lama, karena sudah ada persamaan persepsi di antara kami. Selebihnya kami bicara intens berbagai soal. Walaupun yang paling senior, Pak Bekti sama sekali tidak menempatkan diri orang yang paling tahu, karena selalu mau mendengar kami. Sampai kini hasil rumusan kurikulum yang kami buat bersama Brata dengan sponsor Nestle masih dipakai PWI, setidaknya sekitar 90 persenan dari kurikulum itu. Banyak pengurus dan anggota PWI tak memahami hal ini, sehingga melupakan faktor sejarahnya.

Rencana Kerjasama dengan Pos Kota

Pernah pihak BNI suatu saat menawarkan kepada saya, apakah kami berniat “bekerja sama” Pos Kota Group karena perusahaan mantan menteri penerangan Harmoko ini saat itu sudah ada terkait dengan BNI. BNI minta kalau kami berhasil menggalang “kerja sama” dengan Pos Kota Group, nanti kami berkewajiban melakukan skema restrukturisasi cicilan ke BNI. Saya jawab, jika memang propektif kami menyatakan setuju.

Sejatinya saat itu kami tak ingin mengembangkan Pos Kota Group melalui mekanisme koran cetak. Kami faham benar kala itu, industri pers cetak sudah mencapai senja atau sun set industri, sehingga mengembangkan idustri pers cetak bagaikan menggali kubur sendiri. Pers cetak, sejak saat itu sudah tinggal menunggu waktu penurunan tajam yang terus menerus. Jadi, kami sama sekali tidak berpikir kesana. Sebaliknya waktu itu usaha star up baru saja bertumbuh, dan belum banyak perusahaan yang menekuni bisnis ini. Dan untuk usaha star up, perusahaan mana lagi yang memikiki akses dan data paling kuat, selain Pos Kota Group. Koran ini punya data jual beli lengkap di semua bidang. Ada jual beli atau sewa rumah di Jakarta paling komplit. Penawaran pekerjaan dan orang yang membutuhkan alias pencari kerja paling banyak pula di Pos Kota Group. Begitu juga jual beli mobil, burung, barang antik dan sebagainya, apa aja ada disana. Bahkan daftar panti pijt pun begitu lengkap. Semua ada di iklan Pos Kota, kala itu. Dengan mengakuisisibPos Kota Group dan melengkapi dengan usaha star up, Pos Kota Group bakal menjadi salah satu usaha di bidang star up yang paling besar. Dan kalau itu terjadi, saya yakin, perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan dengan value yang teramat sangat besar serta masuk katagori triyulnan. Maka tanpa ragu, saya mengatakan kepada pihak BNI, yang meminta dan mempersilahkan saya secara alami berhubungan dengan Pos Kota Group, saya aminin alias saya setujui.

Hanya saja, saya tak punya banyak akses terhadap para pemegang saham Pos Kota Group. Disinilah saya kembali meminta tolong Pak Bekti lagi untuk “menghubungi dan mengkondisikan” para pemegang saham inti Pos Kota Group. Dari situlah saya akhirnya bertemu dengan dua tokoh Pos Kota Group, Harmoko dan Tahar, serta beberapa pemegang saham Pos Kota Group lainnya. Rupanya Pak Bekti lumayan dikenal dan dipercaya di lingkungan group perusahaan pers yang sangat terkenal itu.

Pihak Pos Kota Group meminta “kerjasama” itu termasuk penanganan percetakan milik mereka di Cikarang. Lagi-lagi saya setuju saja. Lalu lahirklah MoU antara saya dengan Pihak Pos Kota Group yang diwakili Pak Harmoko dan Pak Tahar. Kedua tokoh Pos Kota inilah yang membubuhkan tanda tangannya di atas kertas MoU. Pak Bektilah yang berperan banyak membantu saya menyakinkan kepada Harmoko dan Tahar serta pemegang saham Pos Kota lainnya.

Untuk urusan percetakan di Cikarang, kami ingin audit yang tuntas dan objektif. Maka kami menyewa konsultan dari Kanada, dengan standar bayaran dolar. Kami ingin pemeriksaan berlangasung profesional. Datanglah bule ahli Kanada itu ke Indonedia dan memeriksa percetakan di Cikarang. Ketika pertama kali konsultan dari Kanada bekerja, Pak Bekti dan saya ikut meninjau ke percetakan di Cikarang. Betapa kagetnya kami, konsultan itu memulai kerjanya bukan dari memeriksa mesin, tetapi justeru dari hilirnya: kemana pembuanga limbah percetakan? Setelah itu barulah ke bagian hulunya, memeriksa besi-besi mesin dan mesinnya sendiri. Kesimpilan mereka : kami tak direkomendasi mengambil alih percetakan ini sebagai mesin percetakan.

Mulai dari sana negosisasi dengan Pos Kota Group tersendat, dan akhirnya tak jadi dilaksanakan tanpa pembatalan. Hasil ini saat itu telah saya sampaikan juga kepada pihak BNI. Setelah itu saya tak tahu lagi bagaimana kelanjutannya penanganan Pos Kota Group di BNI, sampai saya mendengar kabar Pak Tahar wafat dan ada lapor melapor ke polisi antara anggota dan pengurus koperasi karyawan Pos Kota sebagai salah satu pemegang saham Pos Kota Group.

Kisah tangga “langka”

Persahabatan saya dengan Pak Bekti juga tentu menembus batas-batas pribadi. Dia sering bercerita tentang asal daerahnya di Cirebon. Saya ceritakan kepadanya, ketika saya pertama ke Cirebon naik kereta, waktu kereta berhenti dan saya mau turun memakai tangga. Di tempat turun, saya diberitahu petugas di stasion Cirebon, tangga kereta api itu “langka.” Saya pikir kata “langka” artinya sama dengan bahasa Indoensia, yaitu “jarang,” rupanya maknanya berbeda. Kata “langka” di Cirebon artinya “tidak ada.” Pak Bekti seperti biasa, mendengar cerita saya dengan tersenyum-senyum.

Begitu juga sebagai sahabat almarhum sering bercerita tentang anak-anak dan cucu-cucunya, termasuk salah satu anaknya yang masuk tentara, angaktan darat, mulai waktu pendidikan sampai pernah ditempatkan di Paspampres sampai dikirim keluar negeri sebagai bagiab pasukan perdamaian dan seterusnya.

Saya mengalami sendiri, Pak Bekti seorang pribadi yang jujur. Tak pernah sedikit pun dia melenceng dari komitmenya, apalagi sampai “cheating” atau curang. Tak seucil pun hal itu ada di pikirannya, apalagi dalam tindak tanduknya. Dia orang yang tidak saja bersih, tapi sangat bersih. Jujur sampai ke sumsumnya . Dia tak tergiur dengan kemegahan duniawi. Pak Bekti orang yang sangat idealis.

Pada sisi lain Pak Bekti seorang yang sangat solider kepada persahabatan. Mau mendengar dengan sabar. Mau menolong. Mau membantu. Tapi almarhun juga seorang yang tegas. Dialah profil sejati wartawan yang mengabdi kepada profesinya. Seorang yang menempatkan profesi wartawan sebagai pekerjaan utama, bukan sekedar pekerjaan sampingan, sampai akhir hayatnya.

Saya mendengar pertama kali kepergian Pak Bekti dari WA staf sekretaris PWI Pusat , Taty Mansur, di What Apps Group (WAG) “Warga PWI” pukul 07.28. Saya kehilangan sorang sahabat yang tulus yang punya artinya banyak buat saya. Saya bersaksi almarhum orang baik…orang baik….orang baik! Selamat jalan seniorku, sahabatku….Menghadaplah   kembali kepada Sang Pencipta dengan jiwa yang tenang…..

Jakarta, 11 April 2021

Wina Armada Sukardi

Tokoh inspiratif SMSI: Adam Malik, PK Ojong-Jakob Oetama, Hamka, Fachrodin

March 7, 2021 by  
Filed under Profile

Jakarta-Para pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) sependapat, setidaknya ada lima tokoh nasional yang patut menjadi teladan bagi dunia pers di Indonesia serta menginspirasi lahirnya SMSI, yakni Adam Malik, PK Ojong-Jakob Oetama, Buya Hamka, dan Fachrodin.

“Kami sependapat bahwa Adam Malik, PK Ojong-Jakob Oetama, Buya Hamka, dan Fachrodin adalah lima dari sekian banyak tokoh nasional yang memberi inspirasi serta patut untuk diteladani oleh para wartawan dan pengusaha pers, termasuk yang berada di lingkungan SMSI,” kata Wartawan Senior Aat Surya Safaat di Jakarta, Minggu.

Direktur Pemberitan (Pemimpin Redaksi) Kantor Berita ANTARA 2016 yang juga pernah menjadi Kepala Biro ANTARA di New York tahun 1993-1998 itu mengemukakan keterangan tersebut pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 SMSI di Jakarta tanggal 7 Maret 2021.

Menurut Ketua Bidang Luar Negeri SMSI itu, para pengurus SMSI sepakat menempatkan lima tokoh nasional tersebut sebagai tokoh inspratif bagi para wartawan dan pengusaha pers di Tanah Air, terutama di lingkungan SMSI, masing-masing dengan kiprahnya sebagai berikut yang dihimpun dari berbagai sumber.

Adam Malik

Ketika semangat perjuangan kemerdekaan nasional menggelora dan digerakkan oleh para pemuda pejuang, Adam Malik bersama rekan-rekan seperjuangannya, yakni Soemanang, AM Sipahoetar, dan Pandoe Kartawigoena mendirikan Kantor Berita ANTARA pada 13 Desember 1937.

Keberhasilan ANTARA menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dari Gedung ANTARA di Jalan Antara, Pasar Baru Jakarta Pusat pada 17 Agustus 1945 ke seluruh dunia adalah wujud kecintaan dan baktinya yang besar bagi perjuangan bangsa Indonesia.

Adam Malik sendiri merupakan personifikasi utuh dari kedekatan antara pers dan diplomasi.Jangan kaget, pria otodidak yang secara formal hanya tamatan SD (HIS) ini pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York.

Kemahirannya memadukan pers dan diplomasi menghantarkannya menimba berbagai pengalaman sebagai Duta Besar, Menteri, Ketua DPR hingga menjadi Wakil Presiden RI.

Pria cerdik berpostur kecil yang dijuluki “si kancil” itu dilahirkan di Pematang Siantar Sumatra Utara pada 22 Juli 1917 dari pasangan Haji Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis.

Sebagai seorang wartawan, diplomat, bahkan birokrat, ia sering mengatakan “semua bisa diatur”. Selaku wartawan dan diplomat,ia memang dikenal selalu mempunyai 1001 jawaban atas segala macam pertanyaan dan permasalahan yang dihadapkan kepadanya.

PK Ojong-Jakob Oetama

Berbicara tentang dua tokoh pers ini, yaitu Petrus Kanisius (PK) Ojong (1920- 1980) dan Jakob Oetama (1931- 2020) sulit menceritakannya secara terpisah, karena selama memimpin Harian Kompas keduanya selalu bersama-sama.

Ojong, lahir di Bukit Tinggi, Sumatera Barat 25 Juli 1920.Ayahnya bernama Auw Jong Pauw, pedagang tembaku di Payakumbuh dan ibunya bernama Njo Loan Eng Nio. Kedua orangtuanya memberi nama Auw Ojong Peng Koen yang kemudian menjadi PK Ojong.

Sementara itu Jakob lahir di Desa Jowahan, sekitar 500 meter sebelah timur candi termegah Borobudur di Magelang Jawa Tengah pada 27 September 1931.

Mereka bertemu di Jakarta dan kemudian mendirikan Majalah Intisari dan Harian Kompas.Mereka bersepakat berbagi tugas dalam memimpin Harian Kompas.Ojong menangani administrasi dan bisnis, sementara Jakob menangani bidang keredaksian.

Meskipun Ojong menangani bisnis pers, dia tidak bisa meninggalkan naluri kewartawanannya.Dia kadang-kadang menulis Tajuk Rencana dan mengelola rubrik Kompasiana yang terkenal dan membahas berbagai persoalan di Harian Kompas.

Dalam dunia perusahaan pers, bidang bisnis dan redaksi sama pentingnya, walaupun ada semacam garis demarkasi di antara kedua bidang itu. Kedua bidang tersebut di tangan kedua tokoh itu berkembang secara pesat.

Ojong-Jakob seperti dua sisi keping mata uang.Keduanya berjalan dalam satu ayunan langkah, sama-sama punya latar belakang guru dan wartawan.Keduanya tidak suka tampil, rendah hati, jujur, dan selalu bekerja tuntas.Kemiripan atau kesamaan keduanya mengikat diri mereka untuk mendirikan Majalah Intisari dan Harian Kompas.

Dalam perjalanan mengelola media Intisari dan Kompas, keduanya berbagi tugas dan mereka tidak suka tampil.“Tapi karena saya membidangi redaksi, mau tidak mau harus tampil,” kata Jakob suatu ketika.

Di majalah Intisari dan Harian Kompas, kedua tokoh itu meletakkan fondasi idealisme, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta meletakkan filosofi dalam pengembangan perusahaan pers.

Khusus dalam merekrut wartawan dan karyawan, Ojong mengutamakan “watak baik” daripada keterampilan atau skill yang dimiliki.Adapun kekurangan keterampilan, menjurut dia bisa ditingkatkan melalui pelatihan, pendidikan, dan kursus.

Dalam menjamin masa depan karyawan, pimpinan Kompas kemudian mengembangkan bisnisnya ke penerbit dan toko buku Gramedia serta dunia perhotelan yang diberi nama Santika. Tujuannya, kalau Kompas diberangus, karyawan masih ada tempat bekerja.

Ada pesan penting dari Ojong dan Jacob untuk para pengelola perusahaan.Menurut mereka, perusahaan yang baik adalah perusahaan yang dapat menjamin kesejahteraan karyawannya.

Artinya,kalau pemimpin perusahaan tidak ada lagi, perusahaan harus tetap bisa berjalan, sehingga perlu disusun suatu sistem untuk memungkinkan terwujudnya hal itu serta memungkinkan terciptanya kader-kader yang kompeten, profesional, dan berintegritas.

Buya HAMKA

Siapa tak kenal Prof Dr H Abdul Malik Karim Amrullah (BuyaHamka).Beliau adalah seorang ulama kharismatis yang semasa mudanya banyak melewatkan waktudengan belajar agama serta banyak membaca.

Tokoh nasional yang lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam Sumatra Barat pada 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981 pada usia 73 tahun itu adalah seorang ulama dan sastrawan, bahkan sejatinya juga adalah seorang wartawan.

Hamka mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Nasional Malaysia, sementara Universitas ProfDr Moestopo Jakarta mengukuhkannya sebagai Guru Besar.Almarhum jugamasuk dalam daftar Pahlawan Nasional.

Tokoh nasional itu terjun dalam dunia politik melalui Masyumi sampai partai tersebutdibubarkan, dan menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama serta aktif di organisasi Muhammadiyah sampai akhirhayatnya.

Puluhan buku karyanya telah diterbitkan. Selain itu, Buya Hamka mendirikan majalah Panji Masyarakat (Panjimas) pada 15 Juni 1959 bersama KH Faqih Usman, Jusuf Abdullah Puar, dan HM Joesoef Ahmad.

Perjalanan Buya Hamka dan kawan-kawan di majalah Panjimas dapat menjadi inspirasi untuk melihat hubungan antar ummat Islam, pergulatan padamasa Orde Lama, dan banyak hal yang terjadi di masa (awal) Orde Baru.

Majalah pimpinan Buya Hamka ini turut menyertai perjalanan sejarah penting bangsa ini.Ketika baru setahun terbit, pada Mei 1960, majalah itu diberedel pemerintah. Dua tahun sesudah Panjimas diberedel, Hamka kembalimenerbitkan majalah baru, yaitu Gema Islam.

Meski posisi Hamkahanya membantu, namun almarhum berperan penting di situ, sebab melalui perantara majalah tersebut Masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru Jakarta Selatan yangmerupakan kantor redaksi Gema Islam kemudian menjadi panggungaktivitas yang identik dengan nama Hamka.

Sesudah kekuasaan Soekarno surut dan PKI dibubarkan, pada 5 Oktober1966 Majalah Panjimas kembali terbit.Sebagai “corong” umat, Panjimas termasuk majalah umat yangberumur panjang.

Saat media umat lainnya patah tumbuh dalam siklusyang cepat, Panjimas adalah corong umat Islam yang bertahan lama,bukan hanya melewati fase Orde Lama, tapi juga hingga melewati OrdeBaru.

Meskipun penerbitan Panjimas timbul tengggelam,generasi penerus Hamka terus berupaya menghidupkan semangat majalah tersebut sebagai penyambung lidah umat Islam di Indonesia.

Terakhir, media yang didirikan oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullahalias Buya Hamka itu pada Maret 2019 hadir dalam bentuk daring disitus panjimasyarakat.com.Semangat yang dibawanya adalah menyuarakan prinsip-prinsip Islamyang memberi kedamaian bagi bangsa Indonesia.

Tokoh pers Fachrodin

Haji Fachrodin adalah pelopor pers Muhammadiyah.Sosok kader dan tokoh Muhammadiyah generasi awal ini banyak belajar dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan serta belajar secara otodidak. Biarpun tidak mengenyam pendidikan umum,ia bertumbuh menjadi seorang penulis yang tajam dan disegani.

Fachrodin menjadi orang pertama yang memimpin redaksi majalah Soewara Moehammadijah. Ia merintis penerbitan media itu pada 1915 dan menjadi Pemred pertama, sementara KH Ahmad Dahlan duduk di jajaran redaksi bersama HM Hisyam, RH Djalil, M Siradj, Soemodirdjo, Djojosugito, dan KRH Hadjid.

Ia mengawali karir di dunia pergerakan ketika belajar jurnalistik kepada Mas Marco Kartodikromo. Ketika Mas Marco bersama beberapa jurnalis bumiputra menerbitkan surat kabar “Doenia Bergerak” pada 1914, Fachrodin dipercaya menjadi penulis tetapyang bertanggungjawab memberikan informasi kepada publik di kawasan Yogyakarta.

Fachrodin dengan pikiran-pikirannya yang cerdas dan tajam selalu berusaha memperjuangkan nasib rakyat, termasuk membangkitkan perlawanan kaum buruh di Yogyakarta terhadap pemerintah Belanda.

Pada 1919, wartawan yang juga piawai berdakwah itu menerbitkan surat kabar mingguan Srie Diponegoro. Tulisannya di mingguan tersebut dihiasi dengan gambar ilustrasi yang menunjukkan salah satu kreativitas Fachrodin dalam bidang jurnalistik.

Haji Fachrodin meninggal dunia tahun 1929.Setelah Indonesia merdeka, pemerintah memberikan almarhum anugerah Pahlawan Nasional lewat Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 162 tahun 1964.

Kini surat kabar Soewara Moehammadijah yang dirintisnya pada 1915 itu bertumbuh menjadi majalah Suara Muhammadiyah dan suaramuhammadiyah.id.

Tahun 2021 inimajalah tersebut menapaki usia 106 tahun, usia yang relatif matang bagi dunia pers di Tanah Air.

 

Next Page »